Kobarnews.id, PANDEGLANG, – Nasib petani di Kelurahan Pagadungan, Kabupaten Pandeglang, Banten, makin berat. Sawah mereka mengalami puso akibat kemarau panjang yang membuat lahan kekurangan air. Tanaman juga dihantam serangan hama ganjur hingga tak menghasilkan panen.
Bukan cuma kehilangan hasil panen, petani juga dibuat pusing dengan sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi. Biaya produksi pun membengkak, sementara hasil yang diharapkan justru amblas.
Maman, petani penggarap dari Kelompok Tani Bukit Aren, mengaku kerugian tahun ini menjadi yang terparah selama 15 tahun terakhir bertani. Tanaman yang sudah dirawat selama tiga bulan tidak menghasilkan apa-apa.
“Tiga bulan saya tanam, tidak ada hasil sedikit pun. Kemarau tidak ada air, ditambah penyakit ganjur. Habis semua,” kata Maman kepada wartawan, Sabtu (26/9/2026).
Menurut Maman, persoalan petani di Pagadungan bukan sekadar kemarau. Masalah air irigasi dan pupuk bersubsidi juga menjadi persoalan yang belum kunjung tuntas.
“Masalah terbesar ada dua, air sama pupuk,” ujarnya.
Dia mengatakan, jaringan irigasi yang bersumber dari mata air utama belum diperbaiki secara merata. Akibatnya, sebagian lahan tidak mendapatkan pasokan air yang cukup ketika musim kemarau datang.
Persoalan pupuk ikut memperparah kondisi petani. Meski sudah bergabung dalam kelompok tani, mereka masih kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi.
Alhasil, modal yang dikeluarkan petani terus bertambah. Mereka sudah mengeluarkan biaya untuk mengolah lahan dan menanam, tetapi hasilnya hilang akibat sawah kekurangan air dan tanaman terserang hama.
Sejumlah bantuan pemerintah memang telah diberikan, antara lain benih dan alat mesin pertanian. Namun, bagi petani, bantuan tersebut belum menyelesaikan persoalan utama.
Benih tidak banyak berarti jika sawah tetap tidak mendapatkan air yang cukup.
Petani meminta pemerintah tidak hanya turun tangan setelah sawah mengalami puso. Perbaikan jaringan irigasi dinilai mendesak agar lahan pertanian tetap mendapatkan pasokan air, terutama saat kemarau.
Ketersediaan pupuk bersubsidi juga diminta dibenahi. Petani berharap pupuk dapat tersedia dan mudah diperoleh saat memasuki musim tanam.
Jika persoalan air dan pupuk tidak segera dibenahi, petani khawatir kejadian serupa kembali terulang pada musim tanam berikutnya.
Bagi petani, gagal panen bukan hanya soal hilangnya hasil produksi. Modal yang sudah dikeluarkan ikut terkuras, sementara mereka harus kembali mencari biaya untuk menanam pada musim berikutnya. (Red/Fid)




