Kobarnews.id, LEBAK – Jangan bangga dulu dengan gelar sarjana yang nangkring di belakang nama. Sebab, gelar bukan garis finis. Justru menjadi awal tanggung jawab untuk ikut menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat.
Pesan itu disampaikan Rektor Universitas Setiabudi Rangkasbitung (USBR), Iman Sampurna, M.Pd., saat menjadi narasumber dalam program “Banten Menyapa” RRI Banten, Selasa (29/9/2026), bertepatan dengan momentum Hari Sarjana Nasional.
Menurut Iman, Hari Sarjana jangan cuma dijadikan seremoni untuk merayakan keberhasilan menuntaskan pendidikan tinggi.
Lebih dari itu, momentum tersebut harus menjadi bahan refleksi mengenai peran pendidikan dalam meningkatkan kualitas hidup dan mendorong perubahan sosial.
“Pendidikan itu penting. Dengan pendidikan kita bisa mengangkat derajat ekonomi keluarga maupun melakukan perubahan-perubahan di masyarakat,” ujar Iman.
Namun, dia mengingatkan, gelar sarjana bukanlah tiket untuk berhenti belajar. Di balik gelar itu ada tanggung jawab sosial, integritas dan amanah yang harus dibuktikan melalui tindakan nyata.
Apalagi, kata Iman, daerah seperti Lebak tidak hanya membutuhkan sarjana yang pintar secara akademik. Yang dibutuhkan adalah lulusan perguruan tinggi yang mampu membaca persoalan, mengolah data, melakukan riset dan menawarkan solusi.
“Di Lebak tidak boleh cuma pintar. Sarjana harus menjadi penggerak inovasi dan problem solver di masyarakat,” tegasnya.
Iman mengatakan, kemampuan berpikir kritis, objektif dan sistematis yang diperoleh di bangku kuliah harus dibawa keluar kelas. Ilmu tersebut harus dipakai untuk menjawab persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat.
Persoalan di desa, misalnya, bisa menjadi laboratorium bagi para sarjana untuk melakukan kajian sekaligus melahirkan inovasi yang sesuai kebutuhan warga.
Begitu juga dengan perkembangan teknologi. Menurut Iman, teknologi harus dimanfaatkan untuk mempercepat pembangunan daerah, bukan sekadar menjadi pengetahuan di ruang kuliah.
Digitalisasi masyarakat dan pengembangan UMKM berbasis digital menjadi salah satu bidang yang bisa digarap kaum sarjana.
“Ilmu pengetahuan dan teknologi hasilnya harus digunakan dan dimanfaatkan untuk efektivitas ekonomi dan pembangunan, sehingga teknologi itu tepat guna,” ujarnya.
Kolaborasi Jadi Kunci
Iman juga menyoroti pentingnya kolaborasi dalam mendorong pembangunan daerah.
Menurutnya, sarjana dan perguruan tinggi tidak bisa berjalan sendirian. Dibutuhkan sinergi antara akademisi, dunia usaha, komunitas, pemerintah dan media.
Masing-masing memiliki peran. Perguruan tinggi menghasilkan pengetahuan dan sumber daya manusia. Dunia usaha membuka ruang ekonomi. Komunitas menjadi kekuatan masyarakat. Pemerintah menghadirkan kebijakan. Sementara media menyebarluaskan informasi sekaligus mengawal perubahan yang terjadi.
“Penggerak pembangunan itu harus kolaboratif,” katanya.
Karena itu, paradigma mengenai lulusan perguruan tinggi juga harus diubah. Sarjana jangan hanya disiapkan menjadi pencari kerja.
“Lulusan sarjana bukan hanya untuk mencari kerja, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan membuat inovasi-inovasi perubahan di masyarakat,” tegas Iman.
Konsekuensinya, perguruan tinggi harus terus berbenah. Kurikulum harus menyesuaikan perkembangan dunia kerja sekaligus kebutuhan masyarakat.
Pembelajaran berbasis masalah atau problem based learning, riset, magang, pengabdian kepada masyarakat hingga kolaborasi dengan dunia industri dan pemerintah dinilai penting untuk membekali mahasiswa dengan pengalaman nyata.
Kampus Jangan Jadi Menara Gading
Iman mengingatkan, kampus jangan sampai menjadi “menara gading” yang sibuk dengan urusan akademik tetapi jauh dari persoalan masyarakat.
Mahasiswa harus diberi ruang untuk belajar langsung dari kehidupan. Bukan hanya duduk di ruang kelas, tetapi juga melalui magang, riset, pertukaran mahasiswa dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
“Kampus harus mampu berkolaborasi dengan pemerintah maupun dunia industri,” katanya.
Dia juga mendorong perguruan tinggi memanfaatkan berbagai program magang dan peningkatan kompetensi pemuda yang disediakan pemerintah.
Sebab, pengalaman di lapangan akan membantu mahasiswa memahami realitas dunia kerja sekaligus membangun kompetensi yang dibutuhkan setelah lulus.
Menurut Iman, ukuran keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup hanya dihitung dari berapa banyak mahasiswa yang lulus dan menyandang gelar sarjana.
Yang lebih penting, seberapa besar lulusan tersebut mampu memberikan dampak bagi masyarakat.
Dan di atas semuanya, ada satu modal yang tak boleh ditinggalkan: integritas.
“Kita tidak kekurangan orang pintar, tetapi sangat membutuhkan orang jujur,” ujarnya.
Menutup perbincangan, Iman mengingatkan para sarjana agar tidak menjadikan gelar sebagai alasan untuk menjaga jarak dengan masyarakat.
Sebaliknya, kaum terdidik harus turun tangan dan ikut mengambil peran dalam pembangunan.
“Jangan menjadikan kita penonton dalam panggung pembangunan, melainkan kita harus menjadi aktor utama dalam membawa perubahan di daerah kita,” katanya.
Bagi Iman, masa depan Banten dan Lebak bukan semata-mata ditentukan oleh banyaknya gelar yang melekat di belakang nama.
Tetapi oleh seberapa jauh kaum terdidik mau peduli, turun tangan, berinovasi dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. (Red/Dian)




