Kobarnews.id, LEBAK – Kabupaten Lebak memiliki kekayaan budaya masyarakat adat yang beragam. Namun, potensi tersebut dinilai belum banyak dikemas menjadi event budaya yang berkelanjutan.
Gagasan untuk menghadirkan Festival Kasepuhan Lebak di pusat kota Rangkasbitung pun mencuat. Festival tersebut diharapkan menjadi ruang untuk memperkenalkan tradisi, seni, kuliner, kerajinan, hingga produk ekonomi kreatif masyarakat adat kepada wisatawan.
Gagasan itu muncul setelah Sarasehan Budaya Wewengkon Citorek yang menjadi bagian dari rangkaian Seren Taun Kasepuhan Citorek di Kecamatan Cibeber, Sabtu (19/9/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lebak, Dr. Yosep Holis.
Sarasehan menjadi ruang untuk membicarakan keberlanjutan budaya Kasepuhan Citorek sekaligus peluang pengembangannya melalui pariwisata berbasis masyarakat.
Ketua Lebak Ekonomi Kreatif (Leekraf) Lebak, Andi Yuliandi, mengatakan Kabupaten Lebak memiliki modal budaya yang besar. Menurutnya, kekayaan itu bukan hanya masyarakat adat Baduy, tetapi juga berbagai komunitas kasepuhan dengan tradisi, ritual, kesenian, kerajinan, dan kearifan lokal yang berbeda-beda.
Namun, kekayaan tersebut dinilai belum seluruhnya tampil sebagai kekuatan event budaya yang berkelanjutan.
“Lebak punya banyak masyarakat adat. Itu potensi budaya dan pariwisata yang luar biasa, tapi hanya beberapa saja yang menonjol, terutama terkait event Seren Taun,” ujar Andi kepada Kobarnews.id, Minggu (20/9/2026).
Menurut Andi, kondisi tersebut justru menjadi peluang untuk menghadirkan event yang mempertemukan berbagai kekayaan budaya masyarakat adat Lebak.
Dia mengusulkan masyarakat adat dari berbagai kasepuhan di Kabupaten Lebak dapat tampil dalam satu festival yang digelar di pusat kota.
“Gabungan masyarakat adat yang ada di Kabupaten Lebak sebenarnya bisa disatukan dan dijadikan event di pusat kota Lebak, yaitu Alun-alun Rangkasbitung,” katanya.
Festival Kasepuhan Lebak, lanjut Andi, tidak hanya diisi pertunjukan budaya. Berbagai atraksi tradisi, seni budaya, kuliner lokal, kerajinan, produk UMKM, ekonomi kreatif, hingga pameran kearifan lokal masyarakat adat dapat menjadi bagian dari festival.
Dengan konsep tersebut, masyarakat adat diharapkan tidak hanya menjadi objek tontonan, tetapi juga menjadi pelaku utama sekaligus penerima manfaat dari aktivitas pariwisata.
Andi menilai event tersebut dapat menjadi alternatif destinasi wisata budaya selain Seba Baduy yang selama ini telah dikenal luas.
Menurutnya, Rangkasbitung memiliki posisi strategis sebagai etalase Kabupaten Lebak. Akses menuju Rangkasbitung juga relatif dekat dengan kawasan pertumbuhan ekonomi Jabodetabek, termasuk BSD Serpong dan Tangerang Selatan.
“Rangkasbitung sangat dekat dengan akses pasar pertumbuhan ekonomi tinggi dan modern yaitu Jabodetabek, khususnya BSD Serpong, yang menyukai hal-hal yang berbudaya dan memiliki kearifan lokal,” ujarnya.
Artinya, menurut Andi, potensi pasar wisata budaya sebenarnya terbuka. Tantangannya adalah bagaimana kekayaan budaya tersebut dikemas menjadi pengalaman wisata yang menarik tanpa menghilangkan nilai dan identitas aslinya.
Pemda Diminta Proaktif
Rektor Universitas Setia Budhi Rangkasbitung (USBR) Lebak, Iman Sampurna, M.Pd., juga mendorong pemerintah daerah mengambil peran lebih proaktif dalam membangun ekosistem pariwisata berbasis budaya.
“Peran pemerintah harus proaktif, setidaknya memfasilitasi infrastruktur yang menunjang penguatan pariwisata berbasis local wisdom atau tradisi budaya,” kata Iman Sampurna.
Menurutnya, dukungan infrastruktur penting karena pengembangan wisata budaya tidak cukup hanya mengandalkan atraksi.
Akses, ruang pertunjukan, fasilitas publik, kebersihan, transportasi, promosi, dan pengelolaan event juga menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman wisata.
Ketua GenPi Lebak sekaligus penggiat Pokdarwis Kabupaten Lebak, Yeni Mulyani, menyatakan sepakat dengan gagasan Festival Kasepuhan Lebak.
Menurut Yeni, jika gagasan tersebut direalisasikan, berbagai Seren Taun di wilayah kasepuhan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
“Ke depan Seren Taun di berbagai wilayah kasepuhan tidak lagi berdiri sendiri-sendiri. Berbagai tradisi itu dapat menjadi bagian dari sebuah kalender event budaya Kabupaten Lebak yang lebih terstruktur,” ujar Yeni.
Persoalannya bukan apakah Lebak memiliki kekayaan budaya. Lebak sudah memilikinya.
Tantangannya adalah bagaimana kekayaan tersebut diangkat, dirawat, dikemas, dan diperkenalkan kepada publik tanpa kehilangan ruh masyarakat adat yang melahirkannya.
Andi menambahkan, Seren Taun bukan hanya momentum untuk bersyukur atas hasil bumi. Tradisi tersebut juga dapat menjadi pengingat bahwa Lebak memiliki modal budaya yang besar untuk membangun pariwisata berbasis masyarakat.
“Sudah waktunya kekayaan kasepuhan Lebak tidak hanya ramai di kampung adat, tetapi juga hadir sebagai wajah budaya Lebak di jantung Rangkasbitung,” pungkas Andi. (Red/Dian)




