KOBARNEWS.ID, BANTEN – Menunggu narasumber berjam-jam, mengejar informasi dari berbagai sisi, hingga memastikan sebuah fakta tidak keliru sebelum ditulis menjadi bagian dari keseharian Daup Herlambang sebagai wartawan.
Sepuluh tahun menjalani profesi jurnalistik di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, membuat wartawan Juritnews.com itu memahami satu hal: menjadi wartawan bukan sekadar siapa yang paling cepat menulis berita.
Menurut Daup, kemampuan berpikir sistematis, melakukan verifikasi, dan menggali informasi dari berbagai sudut justru menjadi modal utama seorang jurnalis.
Pesan itu kembali ia tekankan saat mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) ke-28 yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Banten bekerja sama dengan Polda Banten, Selasa-Rabu (22-23/9/2026).
Daup menjadi salah satu peserta UKW untuk menguji sekaligus meningkatkan kapasitasnya dalam menjalankan pekerjaan jurnalistik.
“Selama menjadi jurnalis, kita harus terus meningkatkan kapasitas, terutama cara berpikir agar lebih jelas dalam membuat berita dan tidak salah dalam menyampaikan informasi,” kata Daup di sela kegiatan, Selasa (22/9/2026).
Bagi Daup, kompetensi wartawan bukan sekadar formalitas untuk mendapatkan pengakuan profesi. Ada tanggung jawab besar yang ikut melekat ketika seorang wartawan menyampaikan informasi kepada publik.
Karena itu, ia mendorong jurnalis muda tidak berhenti belajar setelah terjun ke dunia pers. Kompetensi, menurutnya, harus ditempuh secara bertahap dan terus dikembangkan.
“Saya berharap jurnalis muda dibekali dengan ilmu. Setelah menjadi anggota organisasi pers, ikuti UKW tingkat muda, kemudian madya dan seterusnya. Ini penting sebagai bekal dalam membuat berita yang berimbang atau cover both sides,” ujarnya.
Daup juga mengingatkan bahwa profesi jurnalistik memberi akses kepada wartawan untuk bertemu dengan beragam lapisan masyarakat. Dari masyarakat biasa hingga pejabat, semuanya bisa menjadi pintu masuk untuk menggali sebuah informasi.
“Jurnalis itu bisa bertemu dengan semua kalangan, baik dari bawah, menengah maupun atas. Di mana pun jurnalis berada, selalu ada informasi yang bisa digali. Jadi manfaatkan profesi ini sebaik mungkin,” katanya.
Namun, kebebasan menggali informasi juga harus dibarengi independensi. Daup menilai wartawan memiliki fungsi kontrol sosial terhadap pemerintah, tetapi fungsi tersebut tidak boleh berubah menjadi keberpihakan kepada salah satu pihak.
“Kita harus menjadi social control kepada pemerintah dengan cara memberitakan secara seimbang. Kita harus independen, tidak boleh hanya berpihak kepada satu pihak,” ucapnya.
Di lapangan, prinsip tersebut tidak selalu mudah dijalankan. Ada kalanya wartawan harus menunggu berjam-jam hanya untuk mendapatkan satu keterangan dari narasumber.
“Kadang kita sudah menunggu berjam-jam, bahkan dari pagi sampai sore, tetapi narasumber tidak mau muncul. Itu memang menjadi tantangan. Karena itu, komunikasi yang baik dan pendekatan secara emosional dengan narasumber sangat diperlukan,” tuturnya.
Bagi Daup, kemampuan membangun komunikasi bukan sekadar urusan mendapatkan kutipan. Pendekatan yang tepat dapat membantu wartawan memperoleh informasi lebih utuh, sekaligus tetap menjaga batas-batas profesionalisme jurnalistik.
Di balik aktivitasnya sebagai wartawan, Daup juga menjalani peran sebagai kepala keluarga. Ia telah berkeluarga dan memiliki dua anak. Salah satu anaknya telah menikah, sementara anak lainnya masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Setelah satu dekade berada di dunia jurnalistik, Daup memilih tiga kata sederhana sebagai prinsip hidupnya.
“Prinsip hidup saya sederhana, jalani, nikmati, syukuri,” pungkasnya. (Red)




