KOBARNEWS.ID, PANDEGLANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang mendorong budaya membaca dimulai dari tradisi lokal. Lewat Festival Bubur Terasi bertajuk Budaya Menggemburkan Literasi, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Pandeglang mengajak masyarakat menjadikan literasi sebagai budaya sehari-hari, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Festival yang digelar DPAD Pandeglang itu dihadiri Bupati Pandeglang Raden Dewi Setiani, Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI E. Aminudin Aziz, Sekretaris Daerah, anggota DPRD, pegiat literasi, pelajar, hingga masyarakat.
Bupati Pandeglang Raden Dewi Setiani mengapresiasi Kepala DPAD Pandeglang Neneng Nuraeni yang menginisiasi Festival Bubur Terasi dengan mengangkat makanan khas Pandeglang sebagai simbol gerakan literasi.
Menurut Dewi, filosofi “menggemburkan literasi” sama seperti menyuburkan tanah agar menghasilkan tanaman yang baik. Literasi, kata dia, diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan masyarakat, terutama anak-anak, terhadap membaca dan belajar.
“Kalau tanah digemburkan menjadi subur, maka literasi juga harus digemburkan agar menumbuhkan rasa suka membaca, membedah buku, dan mempelajari ilmu pengetahuan,” kata Dewi.
Ia berharap dukungan Perpusnas dapat menghadirkan perpustakaan yang lebih representatif, nyaman, dan mudah diakses masyarakat. Perpustakaan itu nantinya tidak hanya menjadi ruang belajar bagi anak-anak, tetapi juga pusat peningkatan kapasitas masyarakat.
Menurutnya, pelaku UMKM dapat memanfaatkan perpustakaan untuk mempelajari strategi pemasaran dan pengembangan usaha. Begitu pula petani, nelayan, dan peternak yang bisa mengakses pengetahuan baru melalui buku maupun layanan digital.
Dewi juga mengajak seluruh organisasi perangkat daerah, sekolah, hingga masyarakat membiasakan memberikan buku sebagai hadiah kepada anak-anak.
“Jangan hanya memberi hadiah permen atau yang lain. Selipkan buku agar anak-anak semakin mencintai buku,” ujarnya.
Selain itu, ia mendorong sekolah membiasakan kegiatan membaca selama minimal 10 menit setiap hari, kemudian siswa diminta menceritakan kembali isi bacaan mereka sebagai bagian dari pembentukan budaya literasi.
Bupati menegaskan pembangunan daerah tidak cukup hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga harus membangun sumber daya manusia yang cerdas, kreatif, dan berakhlak.
Sementara itu, Kepala Perpusnas RI E. Aminudin Aziz menyebut Festival Bubur Terasi merupakan salah satu program yang didukung melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik bidang perpustakaan.
Ia mengatakan Perpusnas hanya menyediakan anggaran dan pilihan program, sedangkan pemerintah daerah menentukan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan wilayahnya.
Menurut Aminudin, Pandeglang menjadi salah satu daerah yang mengambil seluruh opsi program literasi yang disediakan Perpusnas.
“Ini menunjukkan Pandeglang memiliki niat yang sangat kuat membangun literasi secara bersama-sama. Membangun gerakan literasi itu tidak mudah dan membutuhkan kolaborasi banyak pihak,” katanya.
Ia menilai festival tersebut menjadi bukti sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, dan berbagai lembaga dalam mengembangkan budaya baca.
Aminudin berharap Festival Bubur Terasi tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi awal gerakan besar untuk meningkatkan literasi masyarakat Pandeglang.
Aminudin menegaskan peningkatan literasi bukan pekerjaan yang hasilnya bisa terlihat dalam waktu singkat. Menurutnya, membangun budaya membaca hingga melahirkan masyarakat yang kreatif dan mampu berpikir kritis membutuhkan proses panjang.
“Literasi adalah proses dari mengenal, membaca, memahami, menulis, hingga menghasilkan kreativitas. Hasilnya mungkin baru terlihat dalam satu generasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan membedakan informasi yang benar dan salah merupakan bagian dari literasi yang harus dibangun sejak usia dini.
Selain itu, Aminudin menyoroti pentingnya menempatkan sumber daya manusia terbaik di sektor perpustakaan. Menurutnya, perpustakaan membutuhkan aparatur yang kreatif, inovatif, dan mampu berkolaborasi agar program literasi terus berkembang.
“Orang-orang yang ditempatkan di perpustakaan harus menjadi orang yang cerdas dan kreatif. Mereka harus mampu mengembangkan program dan memberdayakan masyarakat, bukan sekadar menjalankan rutinitas,” katanya.
Ia menambahkan, menghilangkan stigma perpustakaan sebagai tempat yang kurang menarik harus dimulai melalui perubahan dan komitmen pemerintah daerah dalam membangun budaya literasi secara berkelanjutan. (Red/*)




