Kobarnews.id, LEBAK – Masih dalam rangkaian kegiatan Seren Taun Citorek Kidul 2026, ratusan perempuan di Kasepuhan Ciusul, Desa Citorek Kidul, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten, menjalani tradisi mandi bersama yang dikenal dengan sebutan Neres.
Tradisi yang digelar di aliran Sungai Cimadur tersebut berlangsung meriah. Para perempuan datang dengan membawa berbagai peralatan rumah tangga untuk ikut dibersihkan dalam ritual yang telah dilakukan secara turun-temurun itu.
Neres hanya boleh diikuti perempuan yang sudah berumah tangga. Namun, tidak semua perempuan bisa mengikuti tradisi tersebut. Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi, salah satunya tidak sedang dalam masa haid.
Lina Herlina, warga Bayah yang turut datang dalam kegiatan tersebut, mengaku penasaran ingin melihat langsung tradisi Neres. Selama ini, dia hanya mendengar cerita dari masyarakat.
“Saya datang dari Bayah hanya ingin melihat acara Neres ini. Penasaran, selama ini cuma dengar ceritanya, belum pernah melihat langsung,” ujar Lina.
Tradisi Neres merupakan bagian dari rangkaian Seren Taun yang digelar sebagai bentuk rasa syukur masyarakat setelah panen raya selesai.
Dalam ritual tersebut, para perempuan membersihkan tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki. Uniknya, mereka menggunakan berbagai unsur alam sebagai perlengkapan mandi.
Untuk keramas, misalnya, mereka menggunakan batang padi atau jerami yang telah dibakar. Penggunaan bahan-bahan alami tersebut menjadi bagian dari kekhasan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi masyarakat setempat, Neres bukan sekadar mandi bersama. Tradisi ini dimaknai sebagai bentuk pembersihan diri, baik secara fisik maupun batin, dari penyakit, wabah, serta hal-hal negatif yang diyakini dapat memengaruhi kehidupan bertani dan kehidupan bermasyarakat.
Tak hanya tubuh yang dibersihkan. Dalam kegiatan tersebut, para perempuan juga membawa sejumlah peralatan rumah tangga tradisional untuk dibersihkan.
Di antaranya seeng, yakni periuk atau dandang berukuran besar, serta boboko, bakul atau wadah nasi yang terbuat dari anyaman bambu. Berbagai peralatan rumah tangga khas masyarakat setempat tersebut turut menjadi bagian penting dalam tradisi Neres.
Usai ritual Neres, ratusan perempuan kemudian mengumpulkan berbagai makanan untuk dibagikan atau ditukar dengan warga lainnya.
Tradisi berbagi makanan tersebut menjadi penutup rangkaian kegiatan sekaligus mempererat kebersamaan antarwarga. Semua warga dipersilakan mencicipi makanan yang telah dikumpulkan.
Bagi masyarakat Kasepuhan Ciusul, Neres bukan sekadar tradisi tahunan. Ritual tersebut menjadi bagian dari cara mereka menjaga warisan leluhur, sekaligus ungkapan syukur atas hasil panen dan kehidupan yang telah dijalani bersama.
Terkait kegiatan ritual tersebut, para kasepuhan Ciusul Desa Citorek Kecamatan Cibeber hingga kini belum bisa dimintai keterangan. (Red/Hikmat)




