Kobarnews.id, SERANG – Aksi refleksi Hari Jadi Kabupaten Serang ke-500 yang digelar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di depan Kantor DPRD Kabupaten Serang, Kamis (24/9/2026), sempat diwarnai kericuhan.
Aksi yang awalnya berlangsung damai mendadak memanas setelah massa membakar ban dan ranting pohon di lokasi demonstrasi.
Seorang anggota polisi kemudian berupaya memadamkan api karena khawatir kobaran api membesar. Tindakan tersebut ternyata memancing protes massa aksi.
Aksi saling dorong antara mahasiswa dan polisi pun sempat terjadi. Beruntung, kericuhan tak berlangsung lama. Sejumlah perwira polisi turun tangan menenangkan massa dan mempersilakan para aktivis kembali menyampaikan orasi.
Dalam aksi tersebut, PMII Kabupaten Serang membawa sekitar 12 tuntutan. Berbagai persoalan yang masih dirasakan masyarakat menjadi sorotan, mulai dari transportasi, pertambangan, air bersih, pendidikan hingga ketenagakerjaan.
Ketua Umum PMII Kabupaten Serang, Revaldi, mengatakan salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah mobilitas kendaraan over dimension over loading (ODOL).
Menurutnya, implementasi aturan mengenai kendaraan ODOL di lapangan belum sepenuhnya sesuai dengan kondisi yang dihadapi masyarakat.
“Padahal, Pemerintah Provinsi Banten sudah memiliki aturan mengenai jam operasional kendaraan berat. Kami menilai pemerintah perlu memastikan aturan tersebut benar-benar berjalan di lapangan, bukan sekadar menjadi regulasi,” kata Revaldi.
Sorotan juga diarahkan pada aktivitas pertambangan yang tersebar di Kabupaten Serang. PMII meminta pengawasan terhadap aktivitas tambang diperkuat agar tidak menimbulkan persoalan bagi masyarakat maupun lingkungan.
Masalah air bersih juga tak luput dari kritik. Revaldi menyebut ketersediaan air bersih masih menjadi persoalan di 20 kecamatan di Kabupaten Serang.
“Belum lagi persoalan air bersih turut menjadi perhatian. Ketersediaan air bersih masih menjadi masalah di 20 kecamatan di Kabupaten Serang,” ujarnya.
Di bidang pendidikan, PMII menyoroti angka putus sekolah yang disebut masih berada di kisaran 7 persen. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah pemerintah untuk memastikan anak-anak di Kabupaten Serang memperoleh akses pendidikan.
Sementara di sektor ketenagakerjaan, tingginya angka pengangguran juga menjadi perhatian. PMII mendorong adanya kebijakan konkret yang dapat memperluas akses kerja bagi masyarakat Kabupaten Serang.
Revaldi menegaskan, momentum 500 tahun Kabupaten Serang tidak semestinya hanya menjadi ajang perayaan sejarah.
“Momentum tersebut harus menjadi kesempatan untuk mengevaluasi persoalan yang masih dirasakan masyarakat,” tandasnya. (Red)




