Kobarnews.id, TANGSEL – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menargetkan pembentukan 108 Pos Gizi hingga 2029. Program ini menjadi salah satu upaya pemerintah daerah menekan angka stunting dan masalah gizi pada anak.
Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan mengatakan sebanyak 61 Pos Gizi ditargetkan sudah terbentuk hingga akhir 2026.
“Yang penting nanti dari penilaian kader kesehatan bersama dengan nutrisionis,” kata Pilar saat ditemui, Kamis (24/9/2026).
Menurut Pilar, sasaran penerima manfaat Pos Gizi ditentukan berdasarkan hasil penilaian kader kesehatan dan nutrisionis di tingkat kewilayahan. Kondisi ekonomi keluarga juga menjadi salah satu pertimbangan.
Pos Gizi, lanjut dia, menjadi ruang intervensi langsung pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Program tersebut ditujukan untuk membantu menekan prevalensi stunting di Kota Tangsel yang disebut saat ini berada di bawah 1%.
Pemberian makanan bergizi dilakukan langsung di Pos Gizi, bukan dibagikan untuk dibawa pulang. Dengan cara itu, petugas dapat memantau makanan yang dikonsumsi anak sekaligus berdialog dengan orang tua.
“Kalau di Pos Gizi itu bisa terawasi makanannya habis atau tidak, bagaimana pendapat dari orang tuanya, jadi kita bisa berdialog. Kalau kita bagikan ke rumah-rumah kan kita tidak ada dialog,” ujarnya.
Gandeng SPPG
Pilar mengatakan anggaran operasional Pos Gizi saat ini masih bersumber dari Dinas Kesehatan Kota Tangsel. Ke depan, pemerintah daerah akan memperkuat penyediaan makanan bergizi melalui kerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Ke depan bersama-sama dengan SPPG nanti kita lihat. Apabila masih dirasa kurang, akan diperkuat oleh teman-teman dari SPPG untuk memberikan makanan bergizi tambahan buat ibu hamil, ibu menyusui, dan juga balita,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Tangsel Lilis Suryani menjelaskan kegiatan Pos Gizi dilaksanakan selama lima hari berturut-turut setiap bulan.
Selama kegiatan, petugas puskesmas memberikan edukasi kesehatan secara berkala. Materi yang diberikan antara lain pemenuhan gizi serta penerapan pola hidup bersih dan sehat.
“Harapan kami, karena Pos Gizi ini kalau terus setiap hari, kami juga punya keterbatasan petugas dan anggaran. Jadi lebih ke edukasi. Harapannya mereka ke depan di rumahnya bisa mengimplementasikan apa yang mereka dapatkan di Pos Gizi,” kata Lilis.
Lilis mengatakan bantuan makanan dari anggaran Dinkes Tangsel saat ini bersifat stimulasi awal. Bantuan diberikan selama tiga bulan, yakni September-November 2026.
Sasaran utamanya adalah balita yang mengalami gangguan pertumbuhan. Jenis makanan yang diberikan disesuaikan dengan usia dan kondisi gizi masing-masing anak berdasarkan data yang telah dihimpun.
“Status gizinya beda-beda, ada yang tidak naik berat badannya, ada yang berat badannya kurang, ada yang tinggi badannya kurang, ada yang gizi kurang, ada yang gizi buruk,” jelasnya.
Setelah masa stimulasi tiga bulan berakhir, Dinkes Tangsel akan mendorong keberlanjutan pemenuhan gizi balita melalui SPPG, program Makanan Bergizi Gratis (MBG), serta swadaya masyarakat.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkot Tangsel mencapai target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
“Kami hanya untuk stimulasi, untuk mempelopori. Karena ini target RPJMD Pak Wali Kota dan Pak Wakil, satu kelurahan itu harus terbentuk dua Pos Gizi,” pungkas Lilis. (Red/Rez)




