Kobarnews.id, PANDEGLANG – Kondisi Terminal Kadubanen, Kabupaten Pandeglang, bikin miris. Terminal yang semestinya menjadi pusat aktivitas angkutan umum justru terlihat lengang. Angkot sepi penumpang, sementara sejumlah area di dalam terminal malah dimanfaatkan untuk parkir kendaraan pribadi hingga angkutan barang.
Kondisi tersebut disebut sudah berlangsung bertahun-tahun. Wajah Terminal Kadubanen dan transportasi umum di Pandeglang seolah tak banyak berubah. Padahal, berbagai trayek angkutan kota semestinya menjadikan terminal ini sebagai pusat naik-turun penumpang.
Angkot memang masih datang dan pergi. Namun, penumpang yang ditunggu tak banyak.
Bagi para sopir, kondisi ini bukan sekadar soal terminal yang sepi. Lebih dari itu, menyangkut pendapatan yang terus tertekan karena angkutan umum menjadi sumber mata pencaharian mereka.
Sejumlah sopir angkutan umum di Pandeglang membenarkan kondisi tersebut. Mereka menyebut hampir seluruh trayek angkutan umum di wilayah Pandeglang menghadapi persoalan serupa.
“Iya, kayaknya hampir semua trayek di Pandeglang sepi penumpang. Ke Terminal Kadubanen dan subterminal pun hanya lewat saja,” ujar seorang sopir yang tidak menyebut.
Menurutnya, perubahan kebiasaan masyarakat menjadi salah satu penyebab angkot semakin kehilangan penumpang. Kepemilikan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor, membuat masyarakat memiliki pilihan transportasi sendiri.
Belum lagi kehadiran ojek online yang menawarkan kemudahan dan kepraktisan. Masyarakat tak perlu lagi datang ke terminal untuk mendapatkan kendaraan.
“Mungkin karena masyarakat cukup banyak yang memiliki kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Juga cukup banyak ojek online,” katanya.
Dampaknya langsung dirasakan para sopir. Jumlah penumpang berkurang, perjalanan tetap harus dilakukan, sedangkan biaya operasional kendaraan terus berjalan.
“Pendapatan sopir angkot menurun, bahkan cenderung sepi,” ungkapnya.
Ironisnya, di tengah semakin sepinya aktivitas angkutan umum, ruang terminal justru terlihat dimanfaatkan untuk kepentingan lain. Kendaraan pribadi dan angkutan barang terlihat menggunakan area terminal sebagai tempat parkir.
Tak hanya itu, area terminal juga kerap dimanfaatkan untuk lokasi permainan rakyat seperti korsel atau komedi putar.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai fungsi dan pengelolaan Terminal Kadubanen. Terminal seharusnya menjadi ruang utama pergerakan angkutan umum sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.
Namun, ketika angkutan umum semakin kehilangan penumpang, sementara kendaraan pribadi justru mengambil ruang di dalam terminal, persoalannya menjadi lebih besar.
Apakah Terminal Kadubanen masih menjalankan fungsi sebagaimana mestinya?

Mantan aktivis pergerakan Pandeglang, Iif, menilai persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan dengan menyalahkan masyarakat karena memilih kendaraan pribadi atau ojek online.
Menurutnya, kondisi tersebut merupakan bagian dari perubahan pola transportasi yang sedang berlangsung.
“Angkutan kota dituntut berhadapan dengan kendaraan pribadi dan transportasi berbasis aplikasi, sementara daya tarik terminal sebagai simpul transportasi publik tampaknya semakin melemah,” ujar Iif kepada wartawan, Sabtu (19/9/2026).
Dia mengatakan, jika tidak ada pembenahan, terminal berpotensi hanya menjadi tempat angkot dan angkutan umum singgah tanpa penumpang yang memadai. Sementara, ruang terminal perlahan beralih fungsi untuk kebutuhan lain.
“Pertanyaannya kemudian bukan sekadar mengapa terminal sepi. Tetapi, apa yang membuat masyarakat semakin enggan menggunakan angkot dan datang ke terminal?” katanya.
Menurut Iif, ketika terminal kehilangan penumpang, angkot kehilangan penghasilan, dan ruang terminal justru ramai oleh kendaraan pribadi, persoalannya sudah bukan sekadar terminal yang sepi.
“Ada yang perlu dievaluasi dari sistem transportasi publik di Pandeglang. Begitu pula gebrakan nyata dari Pemkab Pandeglang untuk bisa mengubah wajah Terminal Kadubanen agar semakin maju dan ekonomi masyarakat meningkat,” pungkasnya. (Red/Fid)




