Kobarnews.id, BANDUNG JABAR – Cerita Pucuk Umun dan jejak sejarah Banten dibawa ke panggung Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung melalui pertunjukan “Oemoen dengan Sepoetjoek Soeratnja”.
Pementasan yang digelar di Gedung Kesenian Sunan Ambu, Kamis (17/9/2026), menjadi ruang pembacaan ulang ingatan, kekuasaan, dan tradisi Banten lewat perpaduan wayang, teater, musik, serta tutur.
Pertunjukan produksi Wayang Nganjor Indonesia itu menjadi bagian dari rangkaian Reenchantment of Interculturalizing Theatre Traditions yang diselenggarakan Jurusan Teater Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung pada 15–17 September 2026.
Disutradarai Tirta N. Pratama, karya tersebut mengangkat kisah Pucuk Umun dan Babad Banten menjadi tafsir panggung yang lebih kontemporer. Cerita bergerak dari kehidupan masyarakat di wilayah hulu hingga pelabuhan, perdagangan lada, sampai pergulatan seorang pemimpin menghadapi perubahan zaman.
Dalam alur cerita, sepucuk surat menjadi simbol yang menghubungkan harapan masyarakat untuk mendapatkan pertolongan sekaligus konsekuensi dari keputusan para penguasa. Suara masyarakat pun dihadirkan untuk mempertanyakan keputusan para pemimpin dalam menghadapi perubahan.
“Di hulu kita menanam. Di hilir kita bertemu dunia,” ujarnya, Jumat (18/9/2026).
Dialog Pucuk Umun itu menjadi salah satu kutipan penting dalam pertunjukan. Kalimat tersebut menggambarkan hubungan masyarakat Banten dengan akar kehidupan dan tradisinya, sekaligus keterbukaan terhadap dunia luar.
Tirta N. Pratama mengatakan, Wayang Nganjor lahir dari semangat berdialog dengan tradisi, bukan sekadar menampilkan ulang cerita lama di atas panggung.
“Nganjor berarti berkunjung. Kami datang membawa bekal, mendengarkan, berunding, mencoba, lalu membagikan kembali pengalaman itu menjadi sebuah pertunjukan,” kata Tirta dalam seminar Menguji Interkulturalitas melalui Nganjor.
Menurut Tirta, proses kreatif pertunjukan dibangun dari perjumpaan dengan pelaku tradisi, manuskrip, sesama seniman, hingga penonton. Seluruh masukan itu menjadi bagian dari keputusan artistik yang terus berkembang selama penciptaan karya.
Secara artistik, Wayang Nganjor memanfaatkan benda-benda sederhana yang berubah fungsi di atas panggung. Kotak menjadi ruang penyimpan ingatan, sementara kain berganti peran sebagai sungai, surat, ruang musyawarah, hingga atap rumah. Permainan aktor, wayang, dan musik membangun narasi yang bergerak antara tradisi dan teater modern.
Produksi ini menghadirkan Aming Ajen sebagai dalang, dengan penataan artistik oleh Agung Septiadi, tata cahaya M. Danuar Indar, serta tata musik Dede Iwan Kurniawan dan Parwa Rahayu bersama para aktor dan pemusik Wayang Nganjor Indonesia.
Bagi Wayang Nganjor Indonesia, keikutsertaan dalam forum ISBI Bandung menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kebudayaan Banten melalui seni pertunjukan dan pertukaran pengetahuan. Manuskrip, tradisi lisan, dan warisan budaya Banten diolah menjadi karya yang diharapkan dapat menjangkau publik yang lebih luas. (Red)




