kobarnews.id
Senin, 2 November 2026
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Lifestyle
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekbis
  • Barjas
  • Infrastruktur
  • Inspirasi
  • Kesehatan
  • Kobar Mania
  • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Politik
  • Sosial
  • Tekno
  • Viral
  • Pandeglang
  • Kabupaten Pandeglang
  • Banten
  • Lebak
  • Kabupaten Lebak
  • Rangkasbitung
  • Pemkab Lebak
  • Wisata Pandeglang
kobarnews.idkobarnews.id
Font ResizerAa
  • News
  • Viral
  • Hukum
  • Pemerintahan
  • Barjas
  • Budaya
  • Daerah
  • Ekbis
  • Infrastruktur
  • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kobar Mania
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Politik
  • Sosial
  • Tekno
Search
  • Kanal
    • News
    • Daerah
    • Viral
    • Hukum
    • Ekbis
    • Nasional
    • Kesehatan
    • Internasional
    • Barjas
    • Inspirasi
    • Budaya
    • Kobar Mania
    • Lifestyle
    • Politik
    • Infrastruktur
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Sosial
    • Pemerintahan
    • Tekno
Punya akun? Masuk
Follow US
© 2026 Kobarnews.id. Designed with ❤︎⁠ by dezainin.com
BudayaKobar ManiaOlahraga

Menapaki Puncak Aseupan: Kisah Bocah-bocah Ngebolang yang Bikin Haru Para Ayah

Oleh:
Redaksi
Oleh:Redaksi
Editor
Follow:
- Editor
2 Agustus 2026
Bagikan
5 menit baca
Bagikan

Kobarnews.id, PANDEGLANG –Langkah-langkah kecil mulai menyusuri jalur Gunung Aseupan, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Sabtu (1/7). Di antara rombongan pendaki, tampak anak-anak ikut memanggul tas. Bahkan, peserta termuda masih duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar.

Sebanyak 32 anggota komunitas Yaa Abati berangkat dari Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, menuju Gunung Aseupan yang memiliki ketinggian sekitar 1.174 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dari jumlah tersebut, 17 orang merupakan ayah yang mendaki bersama anak-anak mereka.

Bagi sebagian orang, mendaki gunung adalah petualangan. Namun bagi komunitas Yaa Abati, perjalanan menuju puncak menjadi cara mempererat hubungan antara ayah dan anak.

Gunung Aseupan dipilih karena dikenal ramah bagi pendaki pemula. Namun, medan yang dihadapi ternyata tidak semudah bayangan.

- Advertisement -
Ad image

Jalur pendakian memiliki empat pos. Hingga Pos 3, trek masih relatif bersahabat. Setelah itu, tanjakan semakin curam dengan jalur berbatu. Di beberapa titik, pendaki harus ekstra hati-hati karena sisi kanan dan kiri jalur berbatasan dengan jurang.

Baca Juga:

Wagub Dimyati Hadiri Turnamen Catur di Serang, Dorong Pembinaan Atlet Muda
Bikin Bangga! Ponpes Al Marjan Mulabaru Borong 6 Piala di MOMB 2026 Banten
Festival Kaibon Kota Serang 2026 Berlangsung Meriah, Angkat Seni Budaya hingga UMKM Lokal
Ratusan Pemotor Jelajahi Wisata Alam Banten, Rayakan HUT ke-26

Semakin siang, tenaga mulai terkuras. Langkah melambat, napas tersengal, dan rasa lelah menguji fisik maupun mental peserta.

Beberapa peserta bahkan nyaris menyerah. Ada pula yang memutuskan berhenti sebelum mencapai puncak.

“Bagi kami, puncak bukan tujuan utama. Keselamatan adalah tujuan yang sesungguhnya,” kata Supadilah, salah satu peserta yang mendaki bersama dua anaknya.

Baca Juga:

Operasi Patuh Maung Hari Kelima, Polisi Temukan Pemotor Tak Pakai Helm hingga Sopir Main HP
Irna Narulita Apresiasi Desa Maja Lebak Berhasil Raih Status Desa Mandiri
Irna Narulita Tinjau Desa Gerendong, Lakukan Penilaian Lomba RBI Banten 2026
IKMDS Pandeglang Bagikan 100 Paket Sembako Lewat Jumat Berkah

Menurut Supadilah, mendaki bersama anak membutuhkan kesabaran lebih dibanding mendaki sendirian. Setiap langkah harus disesuaikan dengan kemampuan anak, setiap tanjakan dipastikan aman, dan setiap rasa lelah harus direspons dengan penuh perhatian.

- Advertisement -
Ad image

Namun justru di situlah nilai perjalanan tersebut.

“Banyak hal yang tidak bisa diajarkan hanya lewat nasihat. Anak-anak belajar keberanian, kesabaran, kerja sama, dan percaya diri dari pengalaman langsung,” ujarnya.

Di beberapa titik, rombongan berhenti untuk beristirahat. Camilan dibagikan, air minum dihemat, sementara obrolan ringan menjadi penyemangat. Saat melihat peserta lain berhasil mencapai puncak, semangat anak-anak yang sempat turun perlahan bangkit kembali.

- Advertisement -
Ad image

Rombongan juga tidak berjalan dalam satu barisan besar. Mereka terbagi dalam beberapa kelompok kecil sesuai kemampuan masing-masing. Tidak ada perlombaan menjadi yang tercepat. Yang terpenting, seluruh peserta bisa kembali dengan selamat.

Pendakian itu juga menjadi ruang belajar tentang empati. Anak-anak melihat langsung bagaimana orang dewasa saling membantu saat ada yang kelelahan. Para ayah pun belajar mengendalikan emosi di tengah rasa lelah demi tetap menjadi penyemangat bagi anak-anak mereka.

Baca Juga:

Bakti Pemuda Daerah 2026 Digelar di Cipanas, Dispora Lebak Dorong Aksi Nyata Generasi Muda
Banten Jadi Runner-up Kejurnas Catur 2026, Diikuti 967 Peserta dari 34 Provinsi
Banjir 5 Tahun Tak Kunjung Beres, Jalan di Baros Serang Tergenang hingga Selutut
Pemprov Banten Perkuat Pengawasan Berbasis Risiko untuk Cegah Korupsi

Di komunitas Yaa Abati, peserta yang berjalan santai memiliki julukan “Pejabat”, singkatan dari Pendaki Jalan Lambat. Julukan itu menjadi pengingat bahwa mendaki bukan soal kecepatan, melainkan menikmati setiap langkah dan kebersamaan selama perjalanan.

“Bapak-bapak mendaki itu sudah biasa, tapi bapak-bapak mendaki sambil bawa anak itu luar biasa,” ujar Eyang Sigit, peserta berusia sekitar 50 tahun.

Selama perjalanan, rombongan membawa bekal makanan dan sesekali membeli jajanan di warung yang berada di jalur pendakian. Selain mengisi tenaga, mereka juga ingin mendukung perekonomian warga sekitar.

Komunitas Yaa Abati dibentuk dengan semangat mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Pendakian menjadi salah satu media untuk membangun kedekatan tersebut, terutama di tengah kekhawatiran terhadap fenomena fatherless atau minimnya kehadiran ayah dalam kehidupan anak.

“Banyak ayah merasa waktunya habis untuk pekerjaan. Pendakian seperti ini menjadi kesempatan membayar utang kedekatan dengan anak,” tutur Supadilah.

Sebelum pendakian dimulai, pengelola Gunung Aseupan mengingatkan seluruh peserta agar tidak meninggalkan sampah di kawasan hutan. Pesan itu diterapkan selama perjalanan.

“Bisa saja orang membuang sampah tanpa diketahui siapa pun. Tapi kita tidak bisa membohongi diri sendiri. Di gunung ini kami juga mengajarkan anak mencintai alam,” kata Supadilah.

Pendakian dimulai sekitar pukul 08.00 WIB dengan total perjalanan sekitar 15 ribu langkah. Telapak kaki terasa perih dihantam bebatuan, lutut mulai berat saat menuruni lereng, dan tubuh dipenuhi keringat.

Namun seluruh rasa lelah itu seolah terbayar ketika anak-anak berdiri di puncak sambil memandang hamparan pegunungan Banten dari ketinggian.

Bagi anak-anak, perjalanan itu mungkin hanya petualangan sehari. Namun bagi para ayah, momen tersebut menjadi kenangan yang akan bertahan jauh lebih lama daripada deretan foto yang tersimpan di telepon genggam.

Sebelumnya, komunitas Yaa Abati juga telah mendaki Gunung Pulosari, Gunung Karang, dan Gunung Parakasak. Meski setiap gunung memiliki karakter berbeda, Gunung Aseupan meninggalkan kesan tersendiri.

Di jalur yang terjal itu, anak-anak belajar tentang perjuangan. Para ayah belajar tentang kesabaran. Sementara seluruh peserta pulang dengan pelajaran yang sama: pendakian bukan sekadar perjalanan menuju puncak, melainkan perjalanan membangun kebersamaan, keberanian, dan kasih sayang antara ayah dan anak. (Riyan)

Bagikan berita ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link
Sebelumnya Iti Octavia Jayabaya Terpilih Aklamasi Pimpin Demokrat Banten, Nabil Gabung Partai
Selanjutnya Batik Lebak Jadi Magnet Wisata, Dongkrak UMKM hingga Ekonomi Kreatif
- Advertisement -
Ad image
TERKINI

ArenKula Nusantara Jadi Satu-satunya Wakil Lebak yang Masuk 10 Besar Jawara UMKM Banten 2026

Banjir Menghantui Lagi, Warga Permata Kasemen Tagih Janji Pengembang dan Desak Pemkot Serang Turun Tangan!

DPC PPP Kabupaten Serang Dukung Mardiono, Siap Satu Komando Jelang Pemilu 2029

Gerak Cepat! Pemkab Lebak Benahi Fasilitas Alun-alun Rangkasbitung Usai Dikeluhkan Warga

Demokrat Usul Gerai Mutasi Kendaraan di MPP Pandeglang untuk Dongkrak PAD

- Advertisement -
Ad image
- Advertisement -
Ad image
Berita Terkait
Budaya Daerah

Pemkab Lebak Gelar Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98

Daerah Olahraga

Dispora Banten Gelar Dialog Kepemudaan, KNPI Dorong Pemuda Jadi Garda Perubahan

Budaya Daerah

Tinawati Andra Soni Buka Gebyar DWP Banten 2026, Ajak Perempuan Saling Menguatkan

Budaya Daerah

Pemprov Banten Perkuat Pengarusutamaan Gender, Ketimpangan Menurun

Daerah Olahraga

Andra Soni Buka Jawara Run 2026, Ajak Warga Banten Jangan Mager!

  • Trending Topics:
  • Daerah
  • Viral
  • News
  • Pemerintahan
  • Hukum
  • Inspirasi
  • Nasional
  • Pendidikan
  • Budaya
  • Ekbis
  • Politik
kobarnews.id
Kobarnews.id mengangkat berbagai isu, mulai dari politik, pemerintahan, hukum, sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, budaya, hingga peristiwa dan perkembangan masyarakat di daerah.
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak & Iklan
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Syarat & Ketentuan

2016 © Kobarnews.id. Designed with ❤︎⁠ by dezainin.com