Kobarnews.id, LEBAK – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak bersama Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar gerakan tanam padi serempak di lahan seluas 38 hektare yang tersebar di Kecamatan Wanasalam dan Malimping. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendukung target swasembada pangan nasional.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar mengatakan gerakan tanam serempak dilaksanakan di lahan Brigade Pangan Bunga Padi Milenial di Kecamatan Wanasalam serta areal persawahan Desa Rahong, Kecamatan Malimping.
“Kita melakukan gerakan tanam serempak seluas 38 hektare di Kecamatan Malimping dan Wanasalam,” kata Rahmat seperti yang dikutip dari Antara.
Di Wanasalam, penanaman dilakukan di Kampung Neglasari, Desa Cipeucang, dengan luas lahan 18 hektare. Sementara di Malimping, kegiatan berlangsung di Desa Rahong dengan luas 20 hektare.
Rahmat menjelaskan, gerakan tanam serempak merupakan bagian dari kegiatan nasional yang digelar di 25 provinsi. Program tersebut bertujuan meningkatkan indeks pertanaman (IP) dan realisasi luas tambah tanam (LTT) guna memperkuat ketahanan pangan.
Pemkab Lebak menargetkan luas tambah tanam pada 2026 mencapai 157 ribu hektare. Menurut Rahmat, program ini menjadi langkah strategis untuk menjaga ketersediaan pangan sekaligus mempertahankan surplus produksi beras di daerah.
Hingga Juni 2026, Kabupaten Lebak mencatat surplus beras sebesar 172.460 ton. Jumlah itu diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat hingga 13 bulan ke depan.
Dalam pelaksanaannya, gerakan tanam serempak menerapkan metode Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) yang dikembangkan Kementerian Pertanian. Sistem pertanian presisi tersebut menerapkan pola tanam rapat dengan populasi tanaman lebih tinggi dibanding metode konvensional.
Jika metode konvensional hanya mampu menanam sekitar 300 ribu hingga 360 ribu rumpun per hektare, PM-AAS dapat meningkatkan populasi menjadi 800 ribu hingga 1 juta rumpun per hektare. Dengan sistem tanam benih langsung (tabela) berjarak sekitar 3 sentimeter, produktivitas panen disebut dapat meningkat signifikan.
Rahmat mengatakan produktivitas gabah kering panen (GKP) menggunakan metode konvensional rata-rata berkisar 5-6 ton per hektare. Sementara melalui PM-AAS hasil panen dapat mencapai 10-12,4 ton per hektare.
Tenaga penyuluh pertanian Mumin mengatakan metode tersebut memang membutuhkan benih lebih banyak, sekitar 70 kilogram per hektare. Namun, penggunaan pupuk dan air menjadi lebih efisien karena berbasis sistem pertanian presisi.
Gerakan tanam serempak ini juga menjadi bagian dari upaya Pemkab Lebak meningkatkan produktivitas sektor pertanian. Dengan luas sawah baku mencapai 52.033 hektare, pemerintah daerah terus mendorong peningkatan indeks pertanaman hingga tiga kali tanam dalam setahun atau IP 300.
Pemkab berharap kolaborasi antara pemerintah, petani milenial, dan penerapan teknologi pertanian modern dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di Kabupaten Lebak. (Dian)


