Oleh : Dian Wahyudi
wartawan Kobarnews.id
Malam 5 September 2026 sekitar pukul 20.00 WIB, saya memasuki Terminal Merak. Tujuan saya menyeberang menuju Bakauheni dengan KMP Jatra III yang dijadwalkan berangkat pukul 21.15 WIB.
Semestinya perjalanan ini merupakan rutinitas. Masuk pelabuhan, naik kapal, duduk, lalu beberapa jam kemudian tiba di Pulau Sumatera. Namun malam itu terasa berbeda.
Aktivitas Anak Krakatau membuat perjalanan sederhana ini menghadirkan kewaspadaan yang tidak biasa.
Sebelum menuju pelabuhan, saya membeli tiket di rest area terdekat.
Untuk perjalanan berikutnya, saya sarankan untuk lebih memilih aplikasi resmi ASDP karena selain praktis, harga yang saya peroleh terasa lebih murah dibandingkan melalui agen di sekitar pelabuhan.
Memasuki terminal, suasana terlihat lebih lengang. Antrean kendaraan tidak sepadat biasanya. Saya tidak tahu apakah kondisi itu berkaitan dengan aktivitas vulkanik atau faktor lain. Saya tidak ingin berspekulasi.
Yang jelas, suasana berbeda membuat saya lebih memperhatikan arahan petugas.
Petugas berulang kali mengingatkan penumpang agar tidak meninggalkan kendaraan. Jika harus keluar, penumpang diminta memakai masker.
Mobil saya mulai dipenuhi debu atau abu vulkanik. Ketika kaca dibuka sedikit, mata terasa perih dan pernapasan kurang nyaman. Saat itu saya menyadari, abu vulkanik bukan sekadar persoalan kendaraan menjadi kotor, tetapi juga menyangkut kenyamanan penumpang.
Saya sempat mencari makanan sebelum naik kapal. Beberapa warung sudah tutup. Akhirnya saya terpaksa makan mi instan di kapal.
Di dalam kapal, banyak kursi kosong. Dalam perjalanan normal, mencari tempat duduk terkadang tidak mudah. Saya tidak tahu apakah kondisi itu berkaitan dengan kekhawatiran penumpang terhadap aktivitas Anak Krakatau.
Itu hanya dugaan. Tetapi suasana tersebut membuat perjalanan terasa berbeda.
Perhatian saya kemudian tertuju pada tulisan besar: “Utamakan Keselamatan.”
Biasanya kalimat itu mungkin hanya menjadi bagian dari pemandangan.
Malam itu maknanya berubah. Di tengah abu vulkanik dan kewaspadaan, tulisan tersebut terasa seperti pesan yang benar-benar ditujukan kepada saya.
Petugas menjelaskan identitas kapal, lokasi pelampung dan alat keselamatan, jalur evakuasi, toilet, musala hingga WiFi. Penumpang juga diingatkan untuk tetap tenang, menggunakan masker dan tidak berada di luar kapal.
Saya mengapresiasi komunikasi tersebut. Dalam situasi tidak biasa, informasi adalah bagian penting dari pelayanan.
Penumpang tidak harus dibuat takut, tetapi harus dibuat siap. Bahkan ketika lokasi pelampung dijelaskan, saya merasakan sedikit “dag dig dug”. Dalam perjalanan normal, itu mungkin sekadar prosedur. Namun ketika alam menghadirkan ketidakpastian, informasi keselamatan terasa jauh lebih dekat dengan kehidupan.
Toilet kapal terlihat cukup bersih, meskipun masih tercium bau kurang sedap. Hal ini mungkin kecil, tetapi kebersihan dan kenyamanan tetap menjadi bagian dari pelayanan.
Di tengah laut yang gelap, cahaya kapal dan daratan tampak dari kejauhan. Perjalanan terasa lebih lama secara psikologis, meski waktu tempuh berjalan normal. Saya hanya ingin segera tiba.
Ketika kapal akhirnya bersandar di Bakauheni, rasa lega memenuhi dada. Saya bersyukur kepada Allah karena perjalanan berakhir selamat. Ada perasaan seperti mendapatkan kesempatan hidup kedua.
Pengalaman ini membuat saya melihat bahwa pelayanan ASDP bukan sekadar memindahkan penumpang dari Merak ke Bakauheni. Di dalamnya ada keselamatan, informasi, kenyamanan dan kepercayaan.
Karena itu, ada tiga hal yang perlu diperkuat. Pertama, satu sistem informasi keselamatan yang terintegrasi. Informasi mengenai cuaca, aktivitas vulkanik, status pelayaran, perubahan jadwal dan prosedur darurat harus disampaikan cepat dan konsisten melalui petugas, pengeras suara, layar informasi, aplikasi dan kanal digital. Dalam situasi krisis, keterlambatan informasi dapat memperbesar ketidakpastian.
Kedua, ubah “Utamakan Keselamatan” dari slogan menjadi checklist yang dapat diaudit. Alat keselamatan, pelampung, jalur evakuasi, fasilitas penumpang dan perlengkapan pendukung kondisi khusus harus diperiksa serta dicatat sebelum kapal berangkat. Keselamatan harus dipastikan sebelum meninggalkan dermaga, bukan baru diuji ketika keadaan darurat terjadi.
Ketiga, jadikan pengalaman penumpang sebagai indikator pelayanan. Kanal pengaduan harus mudah digunakan, memiliki nomor laporan dan batas waktu penyelesaian. Keluhan tentang informasi, kebersihan, kenyamanan maupun pelayanan petugas harus dianalisis dan ditindaklanjuti.
Saya tiba di Bakauheni membawa satu kesadaran : keselamatan tidak boleh baru terasa penting ketika bahaya sudah berada di depan mata.
Bagi ASDP, tantangannya jelas. Jangan menunggu keadaan darurat untuk membuktikan bahwa keselamatan adalah prioritas. Keselamatan harus sudah terasa sebelum kapal meninggalkan dermaga.
Sebab ukuran keberhasilan penyeberangan bukan hanya kapal berangkat dan penumpang tiba. Ukuran yang lebih penting adalah apakah setiap orang yang naik dapat turun kembali dengan selamat, tenang dan tetap percaya bahwa nyawanya dihargai.
Jangan biarkan Utamakan Keselamatan hanya menjadi tulisan di kapal. Jadikan ia standar tertinggi seluruh pelayanan. (**)




