Kobarnews.id, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bergerak cepat mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana di Nusa Tenggara Timur (NTT).
BMKG menerjunkan tim ahli untuk melakukan survei pemetaan mikrozonasi dan makroanalisis di sejumlah wilayah terdampak dan rawan bencana.
Tim BMKG Pusat bersama 14 Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG se-NTT menyisir wilayah Ngada, Nagekeo, serta sejumlah titik rawan lainnya di Pulau Flores.
Survei tersebut dilakukan untuk mengukur karakteristik jenis tanah sekaligus mengetahui respons tanah terhadap guncangan gempa bumi.
Hasil analisis lapangan nantinya akan langsung diserahkan kepada para pemangku kepentingan sebagai rujukan teknis utama dalam menyusun langkah rekonstruksi maupun retrofitting atau penguatan struktur bangunan agar lebih tahan terhadap gempa.
BMKG menegaskan, data hasil pemantauan harus menjadi pijakan utama dalam mengambil keputusan terkait kebencanaan. Masyarakat pun diminta mempercayai informasi resmi yang bersumber dari jaringan pemantauan nasional.
Saat ini, jaringan tersebut ditopang lebih dari 2.000 sensor kegempaan, termasuk 553 sensor seismograf yang tersebar di seluruh Indonesia.
Jangan Percaya Hoaks
Di tengah situasi pascabencana, BMKG terus memperkuat koordinasi dan memberikan dukungan penuh bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Basarnas, TNI, Polri, serta pemerintah daerah.
Koordinasi dilakukan bersama gubernur, bupati/wali kota, BPBD hingga Pusdalops untuk memastikan penanganan dan informasi kebencanaan berjalan secara terpadu.
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpancing isu maupun informasi bohong (hoaks) yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Warga diminta tetap waspada dan menjauhi bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan akibat guncangan gempa.
Untuk mendapatkan informasi terbaru, masyarakat diimbau aktif melakukan konfirmasi melalui kanal resmi BMKG, yakni aplikasi InfoBMKG, media sosial @infoBMKG, serta situs resmi bmkg.go.id. (Red)




