Kobarnews.id, LEBAK –Musim durian mulai tiba di kawasan Baduy, Lebak. Produksi durian diperkirakan bakal melimpah dalam beberapa waktu ke depan sehingga berpotensi membuat harga buah tersebut turun.
Kondisi itu justru dilihat sebagai peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi durian melalui hilirisasi. Lembaga Ekonomi Kreatif (Leekraf) Lebak berencana memberikan edukasi dan pelatihan pengolahan durian menjadi berbagai produk kreatif.
Ketua Leekraf Lebak, Andhy Yuliandi, mengatakan durian yang kualitasnya kurang baik untuk dijual sebagai buah segar masih bisa dimanfaatkan menjadi produk bernilai tambah.
“Di Baduy sudah tiba musim duren dan ke depan makin melimpah dan murah. Leekraf akan membuat edukasi pelatihan produk kreatif, produk turunan atau hilirisasi berbasis duren Baduy,” kata Andhy kepada Kobarnewsid, Sabtu (22/8/2026).
Sejumlah produk olahan disebut berpotensi dikembangkan. Mulai dari keripik durian menggunakan metode vacuum frying, dodol durian, wajik durian, hingga berbagai inovasi produk turunan lainnya.
“Semoga bisa jadi value tinggi dan oleh-oleh khas Baduy,” ujarnya.
Andhy menilai hilirisasi dapat menjadi solusi ketika durian tidak terserap pasar dalam bentuk buah segar. Bahkan, durian dengan kualitas rendah justru bisa memiliki nilai ekonomi lebih tinggi setelah diolah.
“Produk bernilai tinggi justru dari durian kualitas rendah,” katanya.

Selain meningkatkan nilai jual, produk olahan durian diharapkan dapat memperkuat identitas produk lokal Baduy. Wisatawan yang berkunjung nantinya bisa mendapatkan oleh-oleh yang berasal dari potensi daerah setempat.
Menurut Andhy, pengembangan produk lokal menjadi penting karena produk pabrikan masih banyak ditemukan di kawasan Baduy.
“Justru saat ini produk pabrikan yang banyak tersedia di Baduy, dari mi instan sampai minuman bersoda. Padahal kita punya potensi lokal yang bisa dikembangkan menjadi produk kreatif,” tuturnya.
Leekraf Lebak pun ingin mendorong produk berbahan baku lokal tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman wisata di Baduy.
Untuk tahap awal, Leekraf masih mematangkan konsep pelatihan. Andhy mengatakan pihaknya akan bertemu dengan anggota Leekraf Baduy untuk menentukan waktu, lokasi, dan konsep kegiatan.
“Kita matangkan rencananya, ketemu anggota Leekraf Baduy untuk menentukan waktu, tempat dan konsepnya,” katanya.
Pelatihan tersebut rencananya akan melibatkan peserta secara terbatas. Leekraf akan memilih sekitar lima orang local champion yang diharapkan dapat menjadi penggerak pengembangan produk olahan durian di kawasan Baduy.
“Nanti mungkin tidak banyak, hanya lima orang para local champion saja,” ucap Andhy.
Selain pelatihan pengolahan, Leekraf Lebak juga menyiapkan sejumlah peralatan pendukung. Salah satunya mesin dehydrator untuk membantu proses pengeringan bahan pangan.
Peralatan tersebut diharapkan dapat menghasilkan produk olahan durian yang lebih tahan lama dan memiliki kualitas yang baik.
Andhy berharap hilirisasi durian Baduy dapat menjadi awal lahirnya produk oleh-oleh khas dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Melimpahnya durian saat musim panen diharapkan tidak lagi hanya menjadi persoalan karena harga turun atau buah cepat rusak.
“Harapannya, durian Baduy tidak hanya dijual sebagai buah, tetapi bisa diolah menjadi produk kreatif yang punya nilai tambah dan menjadi oleh-oleh khas Baduy,” pungkasnya. (Dian)




