Kobarnews.id, SERANG – Tarian Kabasaran dari masyarakat Minahasa menjadi bagian dari rangkaian Harmony Speech Festival Berbasis Dalil Kitab Suci Lintas Agama yang digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Serang di Lapangan Gedung Negara Provinsi Banten, Kota Serang, Rabu (19/8/2026).
Tarian tradisional tersebut dipersembahkan saat menyambut Gubernur Banten Andra Soni. Selain tarian, Andra juga menerima Golok Banten sebagai simbol penghormatan dan persaudaraan masyarakat Kawanua dengan masyarakat Banten.
Golok Banten diserahkan Kerukunan Kawanua Banten kepada Ketua FKUB Kota Serang Matin Sarkowi, lalu diteruskan kepada Andra Soni. Gubernur juga menerima piagam penghargaan lintas agama.
Anggota Kerukunan Kawanua Banten, Bili Lomboan, mengatakan Tarian Kabasaran dan Golok Banten merupakan bentuk penghormatan sekaligus ungkapan terima kasih masyarakat Kawanua yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banten.
“Kami persembahkan Golok Banten dan Tarian Kabasaran sebagai pengantar dari Minahasa. Kami yang berdomisili di Banten tentu menghargai tanah Banten,” kata Bili.
Bili menjelaskan Tarian Kabasaran merupakan tarian perang tradisional masyarakat Minahasa yang dahulu digunakan dalam tradisi peperangan. Kini, tarian tersebut berkembang menjadi tarian penyambutan bagi tokoh yang dihormati.
Menurutnya, masyarakat Kawanua telah cukup lama menetap di Banten. Sebagian di antaranya bahkan telah tinggal di Banten selama 10 hingga 30 tahun.
Sementara itu, Harmony Speech Festival diikuti 158 peserta lintas agama. Mereka berkompetisi dalam lomba pidato bertema “Penguatan Sikap Nasionalisme dan Patriotisme dalam Mewujudkan Generasi Indonesia Emas 2045”.

Andra Soni mengapresiasi FKUB Kota Serang yang menggagas kegiatan tersebut sebagai ruang pendidikan, dialog, dan interaksi lintas agama.
Menurut Andra, nilai-nilai universal dalam kitab suci setiap agama dapat menjadi fondasi bersama untuk memperkuat toleransi, persaudaraan, dan kemanusiaan. Karena itu, pendidikan multikultural perlu terus ditanamkan kepada generasi muda, baik di keluarga, sekolah, madrasah, pesantren, perguruan tinggi, maupun lingkungan masyarakat.
“Keberagaman merupakan kekuatan sosial dan modal penting dalam membangun Indonesia Emas 2045,” ujar Andra Soni.
Andra juga mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terprovokasi informasi yang memecah belah. Dia mengajak masyarakat menggunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan, perdamaian, dan persaudaraan.
“Jadikan setiap kata sebagai jembatan persaudaraan, setiap nilai agama sebagai energi kemanusiaan, dan setiap perbedaan sebagai kekuatan untuk membangun Banten dan Indonesia,” katanya. (Red)




