Kobarnews.id, LEBAK – Ironis. Terminal Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, yang semestinya menjadi pusat aktivitas angkutan umum, justru terlihat lengang. Angkot hilir mudik tanpa banyak penumpang. Di sisi lain, sejumlah area terminal malah dimanfaatkan untuk parkir kendaraan pribadi.
Kondisi tersebut menjadi gambaran perubahan wajah transportasi masyarakat Rangkasbitung. Aktivitas angkutan kota dari berbagai trayek tak lagi seramai dulu.
Angkot datang dan pergi. Namun, penumpang yang ditunggu tak kunjung ramai.
Bagi sopir angkot, kondisi ini bukan sekadar soal terminal yang sepi. Penghasilan mereka ikut tergerus. Perjalanan tetap harus dilakukan, sementara biaya operasional kendaraan terus berjalan.
Supari (62), salah seorang sopir angkot, membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, hampir seluruh trayek angkot di Rangkasbitung mengalami persoalan serupa.
“Iya, kayaknya hampir semua trayek di Rangkasbitung sepi penumpang. Ke terminal hanya lewat saja,” kata Supari.
Dia menyebut perubahan kebiasaan masyarakat menjadi salah satu faktor yang membuat angkot semakin kehilangan penumpang.
Kepemilikan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor, membuat masyarakat memiliki pilihan transportasi sendiri. Belum lagi kehadiran ojek online yang menawarkan kemudahan dan kepraktisan tanpa harus datang ke terminal.
“Mungkin karena masyarakat cukup banyak yang memiliki kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Juga cukup banyak ojek online,” ujarnya.
Dampaknya pun langsung dirasakan para sopir.
“Pendapatan sopir angkot menurun, bahkan cenderung sepi,” kata Supari.
Terminal Jadi Tempat Parkir
Di tengah sepinya aktivitas angkutan umum, persoalan lain justru terlihat di dalam terminal. Sejumlah kendaraan pribadi disebut memanfaatkan area terminal untuk parkir.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai fungsi dan pengelolaan Terminal Rangkasbitung.
Terminal semestinya menjadi ruang utama pergerakan angkutan umum. Namun, ketika angkot semakin kehilangan penumpang sementara kendaraan pribadi justru mengambil ruang di dalam terminal, persoalannya menjadi lebih kompleks.
Apakah terminal masih berfungsi sebagaimana mestinya?
Akademisi USBR Robby Mubarok menilai fenomena tersebut merupakan bagian dari perubahan pola transportasi yang sedang berlangsung.
Menurutnya, persoalan ini tidak cukup diselesaikan dengan menyalahkan masyarakat yang memilih kendaraan pribadi atau ojek online.
“Perubahan pola transportasi yang sedang berlangsung. Angkutan kota dituntut berhadapan dengan kendaraan pribadi dan transportasi berbasis aplikasi, sementara daya tarik terminal sebagai simpul transportasi publik tampaknya semakin melemah,” ujar Robby kepada Kobarnewsid, Sabtu (19/9/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut perlu dilihat sebagai persoalan sistem transportasi secara keseluruhan.
Jika tidak ada pembenahan, Terminal Rangkasbitung berpotensi hanya menjadi tempat angkot singgah tanpa penumpang yang memadai. Sementara itu, ruang terminal perlahan dimanfaatkan untuk kebutuhan lain.
“Pertanyaannya kemudian bukan sekadar mengapa terminal sepi. Tetapi, apa yang membuat masyarakat semakin enggan menggunakan angkot dan datang ke terminal?
Sebab jika terminal kehilangan penumpang, angkot kehilangan penghasilan, dan ruang terminal justru ramai oleh kendaraan pribadi, persoalannya bukan lagi sekadar sepi,” ujarnya.
“Ada yang perlu dievaluasi dari sistem transportasi publik di Rangkasbitung,” pungkas Robby. (Red/Dian)




