Kobarnews.id, LEBAK – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak menyiapkan Festival Tenun Baduy sebagai upaya memperkuat promosi sekaligus memperluas pasar produk tenun masyarakat Baduy. Festival tersebut direncanakan digelar di Alun-Alun Rangkasbitung.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lebak, Dr. Yosep M. Holis, mengatakan festival akan melibatkan puluhan penenun Baduy. Selain membawa produk tenun, para penenun juga akan memperagakan proses menenun menggunakan alat tradisional.
“Kami sedang mencari dukungan donatur dan sponsorship untuk menyelenggarakan Festival Tenun Baduy. Salah satu pihak yang sudah menunjukkan keseriusan untuk mendukung adalah Bank Indonesia,” kata Yosep.
Menurut Yosep, promosi tenun Baduy selama ini dilakukan melalui berbagai pameran, baik di tingkat daerah maupun nasional. Penenun Baduy diikutsertakan dalam sejumlah kegiatan, termasuk Jakarta Fair dan rangkaian Seba Baduy.
Dalam kegiatan tersebut, penenun tidak hanya menjual produk, tetapi juga memperlihatkan proses pembuatan kain tenun dan koja kepada pengunjung.
“Kami selalu menyertakan para penenun Baduy dalam pameran-pameran yang kami selenggarakan maupun saat mengikuti pameran dari pemerintah provinsi. Pada Seba Baduy kemarin, kami memberikan stan premium agar mereka bisa memperlihatkan proses menenun dan membuat koja sekaligus berjualan,” ujar Yosep.
Respons masyarakat terhadap produk tenun Baduy disebut cukup baik. Yosep menyebut sejumlah kain tenun Baduy dalam kegiatan pameran bahkan terjual dengan harga lebih dari Rp 1 juta per lembar.
“Ini menunjukkan produk budaya lokal memiliki nilai ekonomi ketika dipromosikan dengan baik,” ujarnya.
Selain promosi, Disbudpar juga memberikan pembinaan kepada penenun di kawasan Ciboleger. Salah satu upayanya dengan mendorong penggunaan pembayaran digital melalui QRIS.
Penggunaan QRIS diharapkan dapat memudahkan transaksi sekaligus membuka akses penjualan yang lebih luas bagi para penenun Baduy.
Yosep mengatakan Festival Tenun Baduy nantinya tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan promosi produk. Festival juga diharapkan menjadi ruang untuk memperkenalkan tradisi menenun kepada masyarakat sekaligus mendorong pengembangan ekonomi kreatif.
“Festival ini diharapkan bisa menjadi ruang promosi budaya sekaligus penguatan ekonomi kreatif masyarakat adat Baduy,” katanya.
Tradisi menenun sendiri merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Baduy, khususnya perempuan. Keterampilan tersebut diwariskan secara turun-temurun dari orang tua kepada anak perempuan sejak usia dini.
Pemkab Lebak menilai pelestarian tradisi menenun perlu berjalan beriringan dengan pengembangan pasar. Karena itu, promosi melalui pameran, pembinaan penenun, penggunaan transaksi digital, hingga rencana Festival Tenun Baduy terus didorong.
Dengan langkah tersebut, Pemkab Lebak berharap tenun Baduy semakin dikenal masyarakat luas dan memberikan manfaat ekonomi bagi para penenun, tanpa menghilangkan nilai budaya yang melekat pada produk tersebut. (Red/Dian)




