Kobarnews.id, SERANG – Lima abad Kabupaten Serang. Usia yang mestinya menjadi momentum menatap masa depan dengan penuh optimisme. Namun, di balik gemerlap perayaan Hari Jadi ke-500 Kabupaten Serang, sederet persoalan justru kembali disorot.
Dari gedung legislatif, kalangan pemuda, hingga tokoh masyarakat, kritik mengemuka. Pengangguran, dugaan praktik nepotisme dalam birokrasi, persoalan sampah, aktivitas tambang ilegal, hingga nasib warga lokal di tengah kepungan industri menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.
Pertanyaannya sederhana, tetapi menohok: sudahkah warga Kabupaten Serang benar-benar bahagia?
Jangan Tutupi Masalah dengan Seremoni
Tokoh Masyarakat Kabupaten Serang, SM Hartono, SE, menilai perayaan lima abad Kabupaten Serang jangan sampai hanya menjadi panggung nostalgia sejarah, sementara persoalan rakyat kecil justru terabaikan.
Menurut Hartono, usia 500 tahun bukan sekadar angka. Perjalanan panjang tersebut seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi dan berani membuka ruang terhadap kritik.
“Lima ratus tahun Kabupaten Serang bukan sekadar angka sejarah. Ini perjalanan panjang lintas zaman. Namun, pemerintahan yang sehat tidak boleh alergi terhadap kritik,” tegas Hartono kepada wartawan.
Hartono juga menyoroti dugaan praktik nepotisme dalam penempatan pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Serang.
Ia mempertanyakan apakah pengisian jabatan struktural benar-benar dilakukan berdasarkan sistem merit dan kompetensi, atau justru dipengaruhi hubungan darah, kedekatan politik, hingga pembagian posisi sebagai konsekuensi politik pasca-Pilkada.
“Jabatan publik bukan warisan dan bukan hadiah. Jangan sampai tim sukses dikenang hanya saat suara dibutuhkan, lalu pemerintahan profesional dikesampingkan. Pemerintahan bukan perusahaan pribadi pemenang Pilkada,” sindirnya.
Serang Timur Dikepung Industri, Warga Malah Menganggur
Kritik Hartono berikutnya mengarah ke wilayah Serang Timur yang dikenal sebagai kawasan industri.
Di tengah derasnya investasi dan tumbuhnya kawasan industri, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Serang masih berada di angka 8,73 persen.
Yang lebih memprihatinkan, kata Hartono, warga lokal mengeluhkan dugaan praktik pungutan oleh calo tenaga kerja untuk bisa mendapatkan pekerjaan di kawasan industri.
Ia meminta Pemkab Serang tidak berhenti pada janji, tetapi menghadirkan sistem pengawasan yang terbuka dan tindakan konkret untuk melindungi pencari kerja lokal.
“Jangan sampai investasi besar masuk, anak-anak Serang hanya jadi penonton,” ujarnya.
Serang Barat Digempur Tambang Ilegal
Jika Serang Timur menghadapi persoalan pengangguran dan dugaan praktik percaloan tenaga kerja, Serang Barat menghadapi masalah berbeda.
Wilayah tersebut disebut kian tergerus aktivitas pertambangan galian C ilegal.
Bukit-bukit dikeruk, kawasan resapan air terancam rusak, sementara keuntungan disebut hanya dinikmati segelintir pihak.
Hartono mempertanyakan ketegasan pengawasan dari dinas terkait. Menurutnya, pembangunan tidak boleh mengorbankan lingkungan dan keselamatan masyarakat.
Sampah 400 Ton Sehari, Truk Pengangkut Masih Minim
Persoalan sampah juga menjadi alarm serius.
Ketua DPRD Kabupaten Serang, Bahrul Ulum, menyoroti problem pengelolaan sampah sekaligus pengangguran terbuka di kawasan industri yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah menahun.
Kabupaten Serang diketahui memiliki komitmen melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) antar-daerah dalam proyek Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Seragon di Cilowong, Kota Serang.
Dalam komitmen tersebut, Pemkab Serang diwajibkan memasok sampah hingga 400 ton per hari.
Namun, Bahrul mengaku masih meragukan kemampuan daerah memenuhi kuota tersebut. Pasalnya, armada truk pengangkut sampah milik pemerintah daerah masih terbatas.
“Tentu itu perlu diperhatikan dengan menambahkan armada pengangkut sampah agar syarat tersebut terpenuhi. Mudah-mudahan di tahun depan proyek tersebut selesai dan dipakai, sehingga persoalan sampah tidak lagi menjadi persoalan di tahun 2028 buat Kabupaten Serang,” kata Bahrul Ulum usai melakukan ziarah di Kecamatan Cinangka, Rabu (7/10/2026).
Pemuda Jangan Cuma Jadi Penonton
Kritik juga datang dari kalangan pemuda.
Ketua Generasi Muda (Gema) Keadilan Banten, Juhri, meminta Pemkab Serang segera merealisasikan 16 Program Unggulan Menuju Serang Bahagia.
Di antaranya, jaminan air bersih dan pengelolaan sampah modern.
Bagi Juhri, peringatan 500 tahun Kabupaten Serang bukan hanya soal mengenang kejayaan masa lalu. Momentum tersebut harus menjadi titik tolak untuk membangun masa depan.
“500 tahun Kabupaten Serang adalah tentang sejarah dan harapan jutaan manusia yang terus tumbuh di sini. Kita tidak boleh hanya bangga dengan kejayaan masa lalu, kita harus berani menatap masa depan,” cetus Juhri, Kamis (8/10/2026).
Juhri menegaskan, generasi muda tidak ingin sekadar ditempatkan sebagai penonton pembangunan atau pengisi kemeriahan seremoni.
Anak muda, kata dia, membutuhkan ruang yang adil untuk mengembangkan inovasi ekonomi, UMKM, pendidikan berkualitas, hingga pelayanan publik yang bebas diskriminasi.
“Kita ingin anak-anak muda Kabupaten Serang menjadi pelaku utama perubahan. Momentum lima abad ini harus melahirkan gerakan berani menciptakan sesuatu yang lebih baik, maju, sejahtera, dan berkeadilan bagi seluruh masyarakatnya,” pungkas Juhri.
Lima abad Kabupaten Serang akhirnya bukan cuma soal merayakan usia. Di balik panggung dan gemerlap seremoni, ada pekerjaan rumah yang menunggu jawaban: pengangguran, sampah, lingkungan, birokrasi, hingga nasib warga lokal. Karena 500 tahun seharusnya bukan sekadar panjang umur, tetapi juga panjang dalam menghadirkan kesejahteraan. (Red/Oyo)





