Kobarnews.id, LEBAK – Orang tua perlu memahami cara mengenali dan mengembangkan bakat anak sejak dini. Founder Ilalang, Abah Apri, mengungkap tiga tahap pengelolaan bakat anak, yakni eksplorasi, kurasi, dan inkubasi.
Hal itu disampaikan Abah Apri dalam kegiatan Perkuliahan Khusus Orang Tua Ilalang bertema Manajemen Bakat Anak di Rumah di Aula Hotel Grand Keisha Lebak, Minggu (11/10/2026).
Dalam pemaparannya, Abah Apri menekankan setiap anak memiliki potensi dan kekuatan yang berbeda. Karena itu, orang tua tidak seharusnya terburu-buru mengarahkan anak pada bidang tertentu tanpa memberikan kesempatan untuk mengenali minat dan kemampuannya.
Menurutnya, bakat tidak cukup hanya ditemukan, tetapi perlu dikelola secara bertahap sesuai perkembangan usia dan jenjang pendidikan anak.
Ada tiga tahap utama yang dapat diterapkan orang tua dalam mendampingi perkembangan bakat anak, mulai dari sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA).
1. Eksplorasi saat SD
Pada tahap pertama, anak perlu diberi ruang seluas-luasnya untuk mencoba berbagai hal. Orang tua dapat mendampingi anak mengikuti beragam kegiatan, bermain, mengalami pengalaman baru, hingga menghasilkan karya sederhana.
Melalui proses tersebut, anak memiliki kesempatan untuk mengenali aktivitas yang menarik minat, memunculkan rasa ingin tahu, dan membangkitkan semangatnya.
Pada fase ini, orang tua sebaiknya tidak terlalu cepat membatasi pilihan anak. Pengalaman yang beragam dapat membantu anak mengenali potensi yang mungkin belum terlihat sebelumnya.
2. Kurasi saat SMP
Memasuki jenjang sekolah menengah pertama (SMP), anak mulai diarahkan pada tahap kurasi. Pada fase ini, orang tua membantu anak mengenali pola kekuatan dan minat yang muncul selama proses eksplorasi.
Anak mulai belajar memilih bidang yang paling sesuai dengan dirinya dan mengembangkan kemampuan tersebut secara lebih terarah.
Tahap kurasi bukan sekadar membatasi pilihan, melainkan membantu anak menentukan fokus berdasarkan pengalaman, minat, dan potensi yang telah dikenali.
3. Inkubasi saat SMA
Tahap berikutnya adalah inkubasi, yang dapat dilakukan ketika anak memasuki jenjang sekolah menengah atas (SMA).
Pada fase ini, bakat yang telah dikenali dan dikembangkan mulai diperdalam melalui proses berkarya, menyusun portofolio, serta menyelesaikan persoalan nyata.
Anak juga didorong untuk mengembangkan kemampuannya menjadi karya yang memiliki nilai dan manfaat. Dengan demikian, potensi yang dimiliki tidak berhenti pada minat atau keterampilan semata, tetapi dapat berkembang menjadi kontribusi nyata.
Pendekatan tiga tahap tersebut menempatkan orang tua sebagai pendamping dalam proses tumbuh kembang anak. Peran orang tua bukan semata-mata menentukan pilihan masa depan, melainkan menyediakan ruang, kesempatan, dan dukungan agar anak mampu memahami dirinya sendiri.
Melalui pengelolaan bakat yang tepat, anak diharapkan dapat mengembangkan potensi secara lebih terarah tanpa kehilangan kesempatan untuk mencoba hal baru dan menemukan jati dirinya.
Mengelola bakat anak bukan berarti memilihkan masa depannya. Orang tua justru perlu membantu anak menemukan, menumbuhkan, dan mengembangkan potensinya agar kelak dapat diwujudkan menjadi karya yang bermakna. (Red/Dian)





