Kobarnews.id, SERANG – Ancaman banjir kembali menghantui warga Perumahan Permata Kasemen, Kedung Leles, Kelurahan Kasemen, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Belum tuntas persoalan banjir besar yang merendam kawasan tersebut tahun lalu, kini warga harus kembali dihantui kecemasan menghadapi musim hujan akhir 2026.
Warga pun mulai bersuara. Mereka mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Serang tidak tinggal diam dan segera turun tangan melakukan sosialisasi mitigasi bencana banjir. Jangan sampai pemerintah baru bergerak setelah air kembali mengepung permukiman dan warga menjadi korban.
Persoalan yang dihadapi warga ternyata bukan cuma ancaman banjir. Kondisi lingkungan yang minim penerangan akibat belum terpasangnya Penerangan Jalan Umum (PJU) juga menjadi keluhan serius. Saat malam tiba, sejumlah ruas jalan dan gang perumahan masih gelap. Kondisi ini membuat warga khawatir terhadap potensi tindak kriminalitas sekaligus menyulitkan aktivitas ketika terjadi keadaan darurat.
Di tengah berbagai persoalan tersebut, warga juga menagih janji pengembang perumahan, H. Agus. Pasalnya, dalam rapat pascabanjir tahun lalu, pengembang disebut telah menyanggupi sejumlah perbaikan infrastruktur penting. Namun, hingga November 2026, pembangunan tanggul yang menjadi kebutuhan mendesak warga belum juga terealisasi di titik rawan.
S (50), salah seorang warga, mengaku setiap hari dihantui kekhawatiran. Apalagi, memasuki November, warga mulai bersiap menghadapi potensi meningkatnya curah hujan pada akhir tahun.
“Kami setiap hari was-was semenjak masuk bulan November ini, apalagi ramalan cuaca bilang akhir tahun 2026 ini curah hujan bakal tinggi. Kami cuma minta janji Pak H. Agus selaku pengembang yang disepakati di rapat warga lalu segera diwujudkan. Jangan tunggu ada tanggul jebol lagi atau air telanjur masuk ke rumah,” ujar S kepada awak media.
Menurutnya, persoalan tanggul jebol tidak bisa dianggap sepele. Infrastruktur penahan air tersebut menyangkut keselamatan warga, terlebih sebelumnya pernah terjadi insiden anak kecil terseret arus.
“Dulu sudah ada anak kecil yang jadi korban terseret arus di sana, kami tidak mau tragedi itu terulang lagi hanya karena penanganan yang lambat,” tegasnya.
Empat Tuntutan Warga
Berdasarkan kondisi di lapangan, sedikitnya ada empat pekerjaan rumah yang mendesak diselesaikan oleh pihak-pihak terkait.
Pertama, memperbaiki tanggul pembatas sungai dengan kawasan perumahan yang jebol akibat banjir tahun lalu.
Kedua, membangun tembok penahan banjir di sejumlah titik rawan luapan air, sekaligus menambah tanggul di sepanjang aliran sungai dan anak sungai. Kondisinya semakin mengkhawatirkan karena terdapat tiang listrik yang bagian tanah di sekitarnya telah tergerus aliran sungai sehingga berpotensi tumbang.
Ketiga, memasang PJU di jalan utama maupun gang perumahan. Warga menilai penerangan bukan sekadar fasilitas pelengkap, melainkan kebutuhan dasar untuk keamanan dan keselamatan lingkungan.
Keempat, menuntaskan perbaikan rumah warga yang mengalami kerusakan berat akibat terjangan banjir.
Meski menyampaikan sejumlah tuntutan, warga tidak menampik adanya perhatian sosial dari pihak pengembang. Mereka mengapresiasi pembangunan mushola yang telah rampung tahun ini serta penyediaan tempat tinggal sementara bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat.
Y (45), warga terdampak lainnya, mengakui pengembang telah memberikan sejumlah bantuan. Namun, menurutnya, bantuan tersebut belum menyelesaikan persoalan utama yang masih ditunggu warga.
“Kami sangat berterima kasih karena tahun ini pengembang sudah membangun mushola untuk warga. Selain itu, kami juga berterima kasih karena warga yang rumahnya rusak berat sudah direlokasi dan diberikan rumah tinggal sementara,” kata Y.
Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa tempat tinggal sementara bukanlah solusi permanen. Warga masih menunggu realisasi pembangunan kembali rumah mereka yang rusak.
“Walaupun sekarang posisinya masih proses menunggu pengerjaan fisik perbaikan rumah, setidaknya sudah ada perhatian. Namun jujur, saat ini yang paling kami butuhkan adalah rasa aman jangka panjang dari banjir melalui perbaikan tanggul yang jebol itu. Kami juga mengetuk hati Pemkot Serang, tolong jangan tutup mata. Kami butuh sosialisasi mitigasi bencana dari pemerintah daerah sebelum kawasan kami terendam lagi,” bebernya.
Pemkot Jangan Tunggu Banjir Datang
Persoalan yang dikeluhkan warga ini membutuhkan keterlibatan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemkot Serang. Penanganannya tidak cukup hanya mengandalkan pengembang, mengingat terdapat aspek keselamatan, infrastruktur publik, dan mitigasi bencana yang menjadi perhatian pemerintah.
Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Serang diharapkan segera merespons persoalan belum tersedianya PJU. Sementara Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Serang bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) terkait diharapkan berkoordinasi menangani kerusakan tanggul serta melakukan penanganan aliran sungai di kawasan tersebut.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga diharapkan melakukan pengawasan terhadap pengelolaan sempadan sungai, kebersihan saluran air, serta kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan hidup terkait penataan drainase perumahan.
Tak kalah penting, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang diminta segera memberikan edukasi kebencanaan kepada masyarakat, termasuk sosialisasi langkah penyelamatan diri, pemetaan kawasan rawan, dan jalur evakuasi apabila banjir kembali terjadi.
Warga berharap persoalan ini tidak berhenti sebatas rapat dan janji. Sebab, yang dipertaruhkan bukan hanya kenyamanan tempat tinggal, melainkan keselamatan seluruh penghuni perumahan.
Jangan sampai ketika banjir kembali datang, warga lagi-lagi harus berjibaku menyelamatkan diri dan harta benda tanpa persiapan memadai.
Hingga berita ini diturunkan, awak media masih berupaya menghubungi pihak pengembang serta OPD terkait di lingkungan Pemkot Serang guna memperoleh konfirmasi dan tanggapan resmi atas berbagai keluhan warga tersebut. (Red/Oyo)





