Oleh: Dian Wahyudi, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan
Surutnya Bendungan Karian pada musim kemarau 2026 menghadirkan ironi. Saat permukaan air menyusut, bekas permukiman yang dulu tenggelam kembali terlihat. Rumah-rumah lama, jalan kampung, hingga jejak kehidupan masyarakat muncul dari dasar waduk.
Namun, yang lebih penting dari fenomena itu adalah pertanyaan yang mengemuka: sejauh mana manfaat Bendungan Karian telah dirasakan masyarakat, terutama petani, ketika sawah masih mengalami kekeringan dan sebagian warga kesulitan memperoleh air pada musim kemarau?
Pertanyaan tersebut bukan untuk menafikan pentingnya Bendungan Karian. Sebaliknya, karena dibangun dengan investasi besar dan dirancang sebagai infrastruktur strategis penyedia air baku, irigasi, serta pengendali banjir, masyarakat berhak mengetahui sejauh mana tujuan tersebut telah tercapai.
Laporan mengenai surutnya Waduk Karian yang dimuat Satelit News pada 26 Juli 2026 menunjukkan bahwa fenomena tersebut terjadi hampir setiap musim kemarau. Sebagian sumur warga mulai mengering, sementara masyarakat kembali memanfaatkan aliran sungai untuk kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, aktivitas ekonomi di sekitar waduk masih didominasi sektor perikanan, sedangkan potensi wisata belum berkembang secara optimal.
Situasi ini menghadirkan paradoks. Di satu sisi berdiri bendungan dengan kapasitas tampungan sekitar 315 juta meter kubik yang diproyeksikan mengairi sekitar 22.000 hektare sawah dan menyediakan air baku 10,6 meter kubik per detik. Di sisi lain, sebagian lahan pertanian masih menghadapi ancaman kekeringan saat musim kemarau.
Persoalannya tidak semata terletak pada keberadaan bendungan, melainkan pada sistem pengelolaan air secara menyeluruh. Infrastruktur sebesar apa pun tidak akan memberikan manfaat optimal apabila jaringan irigasi belum selesai, saluran distribusi rusak, atau tata kelola air belum berjalan efektif.
Karena itu, ukuran keberhasilan Bendungan Karian seharusnya tidak hanya dilihat dari kapasitas tampungan maupun besarnya investasi pembangunan. Indikator yang lebih penting adalah berapa luas sawah yang benar-benar memperoleh pasokan air, berapa petani yang terbantu, dan sejauh mana produktivitas pertanian meningkat.
Publik juga membutuhkan data yang terbuka mengenai capaian layanan bendungan. Berapa hektare sawah yang telah terairi? Berapa jaringan irigasi yang masih belum tersambung? Berapa luas lahan yang tetap bergantung pada curah hujan? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar evaluasi pembangunan dilakukan berdasarkan fakta, bukan asumsi.
Perlu dipahami pula bahwa Bendungan Karian bukan satu-satunya solusi atas persoalan kekeringan di Kabupaten Lebak. Tidak semua kawasan pertanian berada dalam wilayah layanan bendungan. Banyak lahan masih mengandalkan hujan, mata air, embung, maupun irigasi desa.
Karena itu, pembangunan bendungan harus diiringi penguatan infrastruktur pendukung, seperti rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan embung, sumur air, irigasi perpompaan, hingga konservasi daerah tangkapan air. Infrastruktur berskala kecil sering kali justru memberikan dampak langsung bagi petani.
Aspek ekologis juga tidak boleh diabaikan. Bendungan hanya berfungsi menampung air yang berasal dari alam. Jika kawasan hulu mengalami kerusakan, tutupan hutan berkurang, dan daerah resapan terus menyusut, maka ketersediaan air akan semakin terancam. Konservasi Sungai Ciberang beserta kawasan tangkapan airnya menjadi bagian penting agar Bendungan Karian tetap mampu menjalankan fungsinya dalam jangka panjang.
Selain itu, masyarakat yang terdampak pembangunan bendungan juga perlu memperoleh manfaat berkelanjutan. Mereka tidak cukup hanya menerima kompensasi atau relokasi. Kesempatan ekonomi melalui sektor perikanan, pariwisata, maupun aktivitas produktif lainnya harus menjadi bagian dari pembangunan kawasan.
Pada akhirnya, evaluasi terhadap Bendungan Karian perlu dilakukan secara terbuka. Pemerintah perlu menjawab apakah target irigasi telah tercapai, apakah kekeringan lahan pertanian berkurang, serta apakah masyarakat sekitar benar-benar merasakan manfaat ekonomi dari keberadaan bendungan tersebut.
Bendungan Karian tetap memiliki peran penting dalam pengelolaan sumber daya air. Namun, keberhasilannya tidak cukup diukur dari besarnya bangunan atau kapasitas tampungan. Manfaat sesungguhnya baru dapat dinilai ketika air mengalir hingga ke sawah, produktivitas pertanian meningkat, dan kesejahteraan masyarakat ikut bertambah.
Pada akhirnya, pertanyaan yang layak diajukan bukan lagi apakah Bendungan Karian bermanfaat, melainkan bagaimana memastikan seluruh sistem pengelolaan air bekerja secara efektif sehingga keberadaan bendungan benar-benar mampu menjawab persoalan kekeringan yang masih dihadapi masyarakat. (*)



