Kobarnews.id, LEBAK – Di tengah musim kemarau, petani di Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak, terus mencari celah untuk meningkatkan produktivitas lahan. Salah satunya dilakukan Kelompok Tani (Poktan) Ranca Panjang, Desa Sangiang Tanjung, yang melaksanakan panen semangka, Senin (24/8/2026).
Panen semangka tersebut menjadi bukti bahwa lahan pertanian tak harus selalu bergantung pada komoditas padi. Diversifikasi tanaman dinilai menjadi salah satu pilihan untuk menjaga produktivitas sekaligus mendongkrak nilai ekonomi lahan.
Koordinator Penyuluh (Korluh) Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kalanganyar, Dike Cidrasari, S.T.P., M.P., mengatakan petani perlu terus didorong untuk mengembangkan komoditas yang sesuai dengan kondisi lahan, ketersediaan air dan kebutuhan pasar.
“Petani tidak harus bergantung pada satu komoditas. Dengan diversifikasi, lahan bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan komoditas pangan dan memberikan tambahan pendapatan bagi petani,” ujar Dike.
Menurutnya, Kecamatan Kalanganyar memiliki potensi pertanian yang cukup beragam. Karena itu, pengembangan hortikultura menjadi salah satu alternatif, terutama menghadapi tantangan musim kemarau.
Dike menyebutkan, sebagian areal persawahan di Kecamatan Kalanganyar mengalami kekeringan ringan hingga sedang. Meski demikian, hingga kini belum ditemukan tanaman padi yang mengalami puso atau gagal panen.
Selain semangka, petani juga didorong mengembangkan tanaman yang relatif adaptif terhadap kondisi lahan kering. Salah satunya ubi jalar yang dikembangkan salah satu kelompok tani di wilayah tersebut.
“Potensi produktivitas ubi jalar bisa mencapai sekitar 10 ton per hektare dengan masa panen kurang lebih 120 hari setelah tanam,” kata Dike.
Dike menegaskan, pendampingan terhadap petani terus dilakukan agar mereka mampu melihat peluang dari berbagai komoditas pertanian. Panen semangka Poktan Ranca Panjang diharapkan menjadi contoh bahwa pemilihan komoditas yang tepat dapat membuat lahan tetap produktif di tengah keterbatasan air.
Namun, peningkatan produksi saja dinilai belum cukup. Pendampingan penyuluh, inovasi budidaya, dukungan sarana produksi, akses permodalan hingga kepastian pasar menjadi faktor penting agar hasil pertanian mampu memberikan nilai tambah bagi keluarga petani.
Panen semangka di Sangiang Tanjung pun bukan sekadar soal memetik hasil tanaman. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menunjukkan upaya petani Lebak untuk semakin adaptif dan inovatif dalam menghadapi perubahan kondisi musim sekaligus menangkap peluang ekonomi dari beragam komoditas pertanian. (Dian)



