Kobarnews.id, LEBAK – Jangan anggap remeh pekarangan rumah. Di tangan Jetri Andarka Koto, warga Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, lahan yang sebelumnya tak termanfaatkan itu berubah menjadi kebun melon hidroponik yang menghasilkan cuan puluhan juta rupiah setiap kali panen.
Jetri membudidayakan melon jenis Honey Globe dengan sistem hidroponik. Ide tersebut bermula dari keinginannya membuat pekarangan rumah lebih produktif sekaligus mendatangkan tambahan penghasilan.
“Saya awalnya hanya ingin memanfaatkan pekarangan rumah supaya tidak kosong. Dari situ saya belajar budidaya melon hidroponik, mencoba sedikit demi sedikit, sampai akhirnya bisa menghasilkan panen yang cukup besar,” ujar Jetri saat ditemui di kebun melonnya, Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak.
Perjalanan Jetri tidak langsung menggunakan sistem hidroponik. Dia lebih dulu mencoba membudidayakan melon di lahan terbuka. Dari pengalaman tersebut, Jetri kemudian mempelajari teknik hidroponik dan mulai menerapkannya di pekarangan rumah.
Menurut Jetri, hidroponik memiliki keunggulan karena kebutuhan air dan nutrisi tanaman bisa dikontrol dengan lebih baik. Perawatan yang teliti juga membuat kualitas buah lebih seragam dan memiliki nilai jual yang menarik.
“Perawatannya memang harus teliti, mulai dari pengaturan nutrisi, kelembapan, sampai kondisi tanaman. Tapi kalau dikelola dengan benar, hasilnya sangat menjanjikan. Dalam satu kali panen omzetnya bisa mencapai puluhan juta,” katanya.
Bagi Jetri, usaha melon tersebut kini bukan lagi sekadar kegiatan untuk mengisi waktu. Budidaya yang berawal dari pekarangan rumah itu telah berkembang menjadi sumber penghasilan.
Kesuksesan Jetri pun mulai dilirik warga sekitar. Sejumlah masyarakat datang ke kebunnya untuk melihat langsung proses budidaya melon hidroponik. Tak sedikit yang tertarik mempelajari teknik tersebut untuk diterapkan di lahan masing-masing.
Jetri berharap apa yang dilakukannya bisa menjadi pemicu bagi masyarakat, terutama anak-anak muda di Kabupaten Lebak, untuk tidak memandang sebelah mata sektor pertanian.
“Saya ingin membuktikan bahwa bertani tidak harus selalu di lahan luas. Pekarangan rumah pun bisa menjadi sumber penghasilan jika dikelola dengan serius dan mau terus belajar,” pungkasnya.
Kisah Jetri menjadi bukti, lahan sempit bukan berarti minim peluang. Dengan kreativitas dan teknologi, pekarangan rumah bisa disulap menjadi lahan produktif sekaligus ladang cuan.
Budidaya melon hidroponik pun berpotensi menjadi alternatif usaha pertanian modern, terutama bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan. Dengan pengelolaan yang tepat, halaman rumah tak hanya menjadi tempat menanam, tetapi juga bisa menjadi sumber penghasilan keluarga. (Dian)




