Kobarnews.id, LEBAK – Salah satu perusahaan industri sepatu di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, berencana memindahkan fasilitas produksinya ke luar daerah pada 2026. Rencana relokasi tersebut dikhawatirkan berdampak pada ratusan pekerja yang selama ini menggantungkan penghidupan dari perusahaan tersebut.
Sekretaris Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Lebak, Rully Chaeruliyanto, membenarkan adanya informasi mengenai rencana relokasi pabrik dari Lebak ke wilayah lain di Pulau Jawa.
“Informasinya memang ada rencana relokasi ke daerah di Jawa, namun lokasi pastinya belum diketahui. Mereka memiliki lahan sendiri di sana, sedangkan fasilitas di Rangkasbitung selama ini masih menyewa,” ujar Rully saat dikonfirmasi wartawan, Kamis (13/8/2026).
Menurut Rully, faktor biaya operasional diduga menjadi salah satu pertimbangan perusahaan untuk memindahkan kegiatan produksinya. Salah satunya berkaitan dengan kenaikan upah minimum di Kabupaten Lebak.
“Pertimbangan biaya menjadi salah satu alasan. Di daerah tujuan, upah tenaga kerja disebut masih lebih rendah dibandingkan di Lebak,” katanya.
Di tengah rencana tersebut, pengurangan tenaga kerja disebut telah dilakukan secara bertahap. Sejumlah pekerja bahkan telah dirumahkan sambil menunggu keputusan final perusahaan mengenai keberlanjutan operasional pabrik di Rangkasbitung.
Ketua Serikat Pekerja Nasional (SPN) Lebak, Sidik Uen, mengatakan perusahaan saat ini masih mempekerjakan sekitar 800-900 karyawan. Namun, pihaknya mendapat informasi mengenai potensi PHK dalam jumlah besar pada September 2026.
“Informasinya memang mengarah ke sana. Saat ini pekerja sudah dirumahkan secara bertahap dan jumlah karyawan yang masih aktif diperkirakan sekitar 900 orang. Karena penutupan masih berupa rencana, kami masih menunggu perkembangan selanjutnya,” ujar Sidik.
Pemerintah Kabupaten Lebak bersama serikat pekerja masih memantau perkembangan rencana relokasi tersebut. Jika pemindahan produksi benar-benar terealisasi, langkah mitigasi ketenagakerjaan diharapkan dapat segera disiapkan untuk menekan dampak sosial dan ekonomi terhadap para pekerja.
Hingga kini, keputusan final mengenai keberlanjutan operasional pabrik di Rangkasbitung masih menunggu kepastian dari pihak perusahaan. (Dian)



