kobarnews.id
Minggu, 1 November 2026
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Lifestyle
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekbis
  • Barjas
  • Infrastruktur
  • Inspirasi
  • Kesehatan
  • Kobar Mania
  • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Politik
  • Sosial
  • Tekno
  • Viral
  • Pandeglang
  • Kabupaten Pandeglang
  • Banten
  • Lebak
  • Kabupaten Lebak
  • Rangkasbitung
  • Pemkab Lebak
  • Wisata Pandeglang
kobarnews.idkobarnews.id
Font ResizerAa
  • News
  • Viral
  • Hukum
  • Pemerintahan
  • Barjas
  • Budaya
  • Daerah
  • Ekbis
  • Infrastruktur
  • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kobar Mania
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Politik
  • Sosial
  • Tekno
Search
  • Kanal
    • News
    • Daerah
    • Viral
    • Hukum
    • Ekbis
    • Nasional
    • Kesehatan
    • Internasional
    • Barjas
    • Inspirasi
    • Budaya
    • Kobar Mania
    • Lifestyle
    • Politik
    • Infrastruktur
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Sosial
    • Pemerintahan
    • Tekno
Punya akun? Masuk
Follow US
© 2026 Kobarnews.id. Designed with ❤︎⁠ by dezainin.com
InspirasiNasional

Belajar Mengenali Cara Otak Bekerja Sebelum Mengambil Keputusan

Oleh:
Redaksi
Oleh:Redaksi
Editor
Follow:
- Editor
1 Agustus 2026
Bagikan
5 menit baca
Bagikan

Resensi Buku Thinking, Fast and Slow Karya Daniel Kahneman

Judul: Thinking, Fast and Slow
Penulis: Daniel Kahneman
Penerbit Indonesia: Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Zia Anshor
Tebal: 624 halaman

Di tengah derasnya arus informasi dan budaya serba instan, orang dituntut mengambil keputusan dengan cepat. Mulai dari memilih informasi yang dipercaya, menentukan investasi, memilih pekerjaan, hingga menyikapi berbagai persoalan sosial.

Contents
  • Dua Sistem Berpikir
  • Saat Otak Menyesatkan Diri Sendiri
  • Masih Relevan di Era Media Sosial
  • Tak Hanya untuk Psikolog
  • Kelebihan dan Kekurangan
  • Layak Dibaca Siapa?
  • Penutup

Namun, semakin cepat keputusan diambil, semakin besar pula risiko melakukan kekeliruan.

- Advertisement -
Ad image

Lewat Thinking, Fast and Slow, Daniel Kahneman mengajak pembaca memahami bahwa otak manusia tidak selalu bekerja secara rasional. Buku yang pertama kali terbit pada 2011 ini menjadi salah satu karya paling berpengaruh dalam psikologi kognitif dan ekonomi perilaku.

Baca Juga:

Pengurus PKB Pandeglang Dikukuhkan, Nawawi Desak Anggaran Pesantren dan Madrasah Ditambah
PKB Pandeglang Dikukuhkan, Muhaimin Iskandar Minta Kader Mulai Bergerak Menangkan Pemilu 2029
458 Mahasiswa USBR Diwisuda, Rektor: Kampus Harus Jadi Motor Penggerak Ekonomi Lebak
Sepekan Digembleng, KUMALA Siapkan Kader Jadi Pemimpin Masa Depan

Kontribusi Kahneman dalam menjelaskan cara manusia mengambil keputusan mengantarkannya meraih Hadiah Nobel Ekonomi pada 2002.

Alih-alih dipenuhi istilah ilmiah yang rumit, buku ini menjelaskan konsep psikologi melalui contoh-contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Meski tebalnya lebih dari 600 halaman, isi buku ini mampu mengubah cara pembaca memandang proses berpikirnya sendiri.

Dua Sistem Berpikir

Gagasan utama buku ini berpusat pada dua sistem berpikir manusia.

Baca Juga:

Amran Sentil Pembela Mafia Pangan: Bangun dari Tidur! 600 Ton Beras SPHP Diduga Diselewengkan
Menteri PU dan Andra Soni Blusukan Susuri Kali Angke, Pendangkalan dan Penyempitan Jadi Biang Banjir
Irna Narulita Apresiasi Desa Maja Lebak Berhasil Raih Status Desa Mandiri
Ade Yuliasih Ajak Mahasiswa Untirta Melek Politik, Jangan Jadi Pemilih Pasif

Sistem pertama bekerja cepat, otomatis, intuitif, dan nyaris tanpa usaha. Sistem ini membantu seseorang mengenali wajah, membaca ekspresi, atau menghindari bahaya secara spontan.

- Advertisement -
Ad image

Sebaliknya, sistem kedua bekerja lebih lambat dan membutuhkan konsentrasi. Sistem ini digunakan saat menghitung, menganalisis persoalan, menyusun strategi, atau mengambil keputusan penting.

Menurut Kahneman, sebagian besar aktivitas sehari-hari dikendalikan oleh sistem pertama. Cara kerja ini memang membuat manusia lebih efisien, tetapi juga membuka peluang munculnya berbagai kesalahan berpikir.

Saat Otak Menyesatkan Diri Sendiri

Bagian paling menarik dalam buku ini adalah pembahasan mengenai bias kognitif, yakni kecenderungan otak mengambil jalan pintas yang dapat menghasilkan penilaian keliru.

- Advertisement -
Ad image

Salah satunya adalah confirmation bias, yaitu kecenderungan lebih mudah menerima informasi yang sesuai dengan keyakinan sendiri dibanding fakta yang bertentangan.

Ada pula anchoring effect, yakni kecenderungan menjadikan informasi pertama sebagai acuan meski belum tentu benar.

Baca Juga:

Bupati Lebak Hadiri Rakor Pencegahan Korupsi Banten-Jabar
Ade Yuliasih Raih KNPI Award 2026, Diapresiasi atas Pemberdayaan Perempuan
Dugaan Jual Beli Jabatan Mencuat di Pandeglang, Penempatan Pejabat Dindikpora Disorot
Banten Jadi Runner-up Kejurnas Catur 2026, Diikuti 967 Peserta dari 34 Provinsi

Kahneman menunjukkan bahwa bias tersebut tidak hanya dialami masyarakat umum, tetapi juga hakim, dokter, investor, ilmuwan, hingga para pengambil kebijakan.

Artinya, kecerdasan tidak membuat seseorang otomatis terbebas dari kesalahan berpikir.

Masih Relevan di Era Media Sosial

Meski terbit lebih dari satu dekade lalu, isi buku ini justru semakin relevan di era digital.

Media sosial membanjiri masyarakat dengan informasi setiap saat. Algoritma menghadirkan konten yang sesuai dengan preferensi pengguna sehingga tanpa disadari memperkuat confirmation bias.

Di sisi lain, judul-judul sensasional mendorong orang bereaksi cepat tanpa sempat memeriksa fakta.

Dalam situasi seperti itu, kemampuan memperlambat proses berpikir menjadi semakin penting. Kahneman mengingatkan bahwa tidak semua informasi harus langsung dipercaya dan tidak semua keputusan perlu diambil seketika.

Tak Hanya untuk Psikolog

Meski ditulis oleh seorang psikolog, buku ini relevan bagi berbagai kalangan.

Ekonom, pebisnis, guru, dosen, mahasiswa, jurnalis, pemimpin organisasi, hingga pembuat kebijakan dapat mengambil manfaat dari gagasan yang ditawarkan Kahneman.

Buku ini membantu pembaca memahami mengapa intuisi sering kali menyesatkan dan mengapa berpikir kritis menjadi keterampilan penting dalam kehidupan sehari-hari.

Kelebihan dan Kekurangan

Kekuatan utama buku ini terletak pada argumentasi yang dibangun dari puluhan tahun penelitian ilmiah. Kahneman tidak menawarkan motivasi instan, melainkan mengajak pembaca memahami mekanisme berpikir manusia berdasarkan hasil eksperimen psikologi.

Bahasanya relatif mudah dipahami untuk ukuran buku ilmiah populer. Beragam ilustrasi membuat konsep yang kompleks terasa lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari.

Nilai praktisnya juga tinggi. Setelah membacanya, pembaca akan lebih berhati-hati saat menilai informasi, mengambil keputusan finansial, maupun menentukan pilihan dalam kehidupan pribadi.

Meski demikian, buku ini memiliki beberapa kekurangan. Pembahasannya cukup panjang dan beberapa bagian terasa berulang sehingga membutuhkan kesabaran untuk menyelesaikannya.

Selain itu, sebagian penelitian yang menjadi rujukan buku ini sempat memicu diskusi lanjutan terkait reproduksibilitas dalam psikologi. Namun, hal tersebut tidak mengurangi besarnya kontribusi Kahneman dalam memperkenalkan cara berpikir yang lebih kritis.

Layak Dibaca Siapa?

Buku ini layak dibaca oleh mahasiswa, akademisi, guru, dosen, aparatur pemerintah, pembuat kebijakan, pebisnis, wirausahawan, jurnalis, penulis, hingga masyarakat umum yang ingin meningkatkan kualitas berpikir dan pengambilan keputusan.

Penutup

Thinking, Fast and Slow bukan buku yang menjanjikan kesuksesan instan. Sebaliknya, buku ini mengajak pembaca memahami cara kerja pikirannya sendiri.

Di tengah budaya yang mengutamakan kecepatan, Kahneman mengingatkan bahwa keputusan terbaik sering kali lahir setelah seseorang berhenti sejenak, memeriksa fakta, lalu berpikir lebih dalam.

Lebih dari sekadar buku psikologi, karya ini mengajarkan kerendahan hati intelektual: menyadari bahwa siapa pun dapat keliru, dan kesadaran itulah yang menjadi awal dari keputusan yang lebih baik. (Dian Wahyudi)

Bagikan berita ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link
Sebelumnya Gubernur Banten Andra Soni Touring Vespa Bareng Scooter Banten Bersatu, Ajak Jaga Persatuan
Selanjutnya Tokyo Billiard di Saketi Pandeglang Resmi Dibuka, Usung Konsep Syariah Tanpa Alkohol dan Judi
- Advertisement -
Ad image
TERKINI

Festival Kaibon Kota Serang 2026 Berlangsung Meriah, Angkat Seni Budaya hingga UMKM Lokal

Ratusan Pemotor Jelajahi Wisata Alam Banten, Rayakan HUT ke-26

Fasilitas Lengkap, Curug Goong Mandalawangi Tawarkan Glamping dan Camping Ground Komunal

Pembangunan 5 Rutilahu Program TMMD ke-130 Kodim Lebak Capai 80 Persen

Hari Keenam Operasi Patuh Maung 2026, Polda Banten Sasar 3 Titik

- Advertisement -
Ad image
- Advertisement -
Ad image
Berita Terkait
Daerah Nasional

BEM Banten Bersatu Demo di KP3B, Soroti 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Daerah Hukum

Wagub Banten: Pemuda Harus Jadi Penegak Konstitusi dan Penjaga Pancasila

Inspirasi Nasional

Semarak KNPI Award 2026, 31 Tokoh Nasional Terima Penghargaan, Ini Daftarnya

Internasional Nasional

Dasco Ingatkan Ancaman Global, Persatuan RI Tak Boleh Cuma Jadi Slogan

Daerah Ekbis

Sumpah Pemuda 2026, Kadisdik Lebak Dukung Penguatan Karakter dan Jiwa Wirausaha

  • Trending Topics:
  • Daerah
  • Viral
  • News
  • Pemerintahan
  • Hukum
  • Inspirasi
  • Nasional
  • Pendidikan
  • Budaya
  • Ekbis
  • Politik
kobarnews.id
Kobarnews.id mengangkat berbagai isu, mulai dari politik, pemerintahan, hukum, sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, budaya, hingga peristiwa dan perkembangan masyarakat di daerah.
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak & Iklan
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Syarat & Ketentuan

2016 © Kobarnews.id. Designed with ❤︎⁠ by dezainin.com