Kobarnews.id, LEBAK – Jalan hidup Deden Suratman alias Dede Fatality terbilang tidak biasa. Berawal dari mengamen di jalanan sekitar tahun 2000, kini musisi violin asal Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, tersebut mampu membawa karya musiknya ke berbagai platform digital.
Nama Dede Fatality belakangan mulai mencuri perhatian warganet melalui konten-konten musik yang diunggah di media sosial. Permainan violin, aransemen musik instrumental, hingga konten hiburan menjadi sajian yang rutin dibagikannya.
Nama “Dede Fatality” kini menjadi identitas digital Deden Suratman. Ia aktif di sejumlah platform media sosial, seperti TikTok, YouTube, Instagram, dan Facebook.
Namun, di balik eksistensinya di dunia maya, ada perjalanan panjang yang telah dilalui Deden. Dunia musik sudah digelutinya sejak lama. Sekitar tahun 2000, ia memulai langkahnya sebagai pengamen jalanan.
Dari jalanan itulah kemampuan bermusiknya terus diasah. Violin menjadi senjata utama Deden dalam mencari penghidupan sekaligus mengekspresikan kecintaannya terhadap musik.
Waktu berlalu. Perkembangan teknologi dan media sosial kemudian membuka panggung baru bagi Deden. Ia tak lagi hanya memainkan musik di jalanan, tetapi juga memperkenalkan karya-karyanya kepada masyarakat melalui platform digital.
Tak berhenti sebagai kreator konten, Dede Fatality juga serius menggarap karya musik. Sejumlah lagu yang telah dirilis antara lain Musik Biola Sedih, Cinta Ini Milik Kita Omusku, The Shadow of Kayas, dan Last Story.
Ia juga memiliki mini album berjudul Permulaan Langkah. Karya-karyanya dapat dinikmati melalui berbagai layanan musik digital, seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music, Amazon Music, dan Shazam.
Kiprah tersebut membuat Dede Fatality memiliki dua wajah sekaligus. Di satu sisi, ia dikenal sebagai kreator konten yang aktif menyapa warganet. Di sisi lain, ia terus membangun identitas sebagai musisi independen dengan violin dan musik instrumental sebagai kekuatannya.
Perjalanan Deden Suratman menjadi Dede Fatality memperlihatkan bahwa keterbatasan tempat dan latar belakang bukan penghalang untuk berkarya. Dari jalanan, ia mencoba menembus ruang digital dan membawa musiknya ke hadapan khalayak yang lebih luas.
Kisah Dede juga menjadi gambaran bagaimana media sosial dan platform musik digital kini dapat menjadi panggung alternatif bagi musisi daerah. Tak harus lahir dari industri musik besar, karya tetap bisa menemukan pendengarnya selama terus dibuat, diperkenalkan, dan dikembangkan. (Dian)



