kobarnews.id
Kamis, 8 Oktober 2026
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Lifestyle
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekbis
  • Barjas
  • Infrastruktur
  • Inspirasi
  • Kesehatan
  • Kobar Mania
  • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Politik
  • Sosial
  • Tekno
  • Viral
  • Pandeglang
  • Banten
  • Kabupaten Pandeglang
  • Lebak
  • Kabupaten Lebak
  • Rangkasbitung
  • Pemkab Lebak
  • LapasCibinong
kobarnews.idkobarnews.id
Font ResizerAa
  • News
  • Viral
  • Hukum
  • Pemerintahan
  • Barjas
  • Budaya
  • Daerah
  • Ekbis
  • Infrastruktur
  • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kobar Mania
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Politik
  • Sosial
  • Tekno
Search
  • Kanal
    • News
    • Daerah
    • Viral
    • Hukum
    • Ekbis
    • Nasional
    • Kesehatan
    • Internasional
    • Barjas
    • Inspirasi
    • Budaya
    • Kobar Mania
    • Lifestyle
    • Politik
    • Infrastruktur
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Sosial
    • Pemerintahan
    • Tekno
Punya akun? Masuk
Follow US
© 2026 Kobarnews.id. Designed with ❤︎⁠ by dezainin.com
Kobar ManiaNasionalNewsPemerintahanViral

Dari Pratikno hingga Rocky Gerung: Membaca Makna Wantimpres Prabowo Menuju 2029

Oleh:
Redaksi
Oleh:Redaksi
Editor
Follow:
- Editor
3 Oktober 2026
Bagikan
10 menit baca
Presiden Prabowo Subianto bersama Pratikno dan Rocky Gerung.
Bagikan

Oleh: Satrio Arismunandar*

Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA
(Foto: Satrio A)

Ada yang menarik dari susunan baru Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 2 Oktober 2026. Bukan semata karena jumlah anggotanya mencapai 26 orang.

Contents
  • Karakter Wantimpres Baru
  • Bukan Sekadar “Orang Dekat”
  • Dari NU hingga Lintas Agama
  • Ada Jenderal, Ada Pengusaha
  • Bagaimana Mengukur Kinerja Wantimpres?
  • Menuju 2029, Bukan Sekadar Popularitas

Yang menarik justru keragaman latar belakang mereka. Di dalamnya terdapat mantan menteri, jenderal, pengusaha, ulama, tokoh organisasi keagamaan, akademisi, ahli hukum tata negara, mantan hakim Mahkamah Konstitusi, aktivis, hingga tokoh yang selama ini dikenal kritis terhadap pemerintah.

- Advertisement -
Ad image

Keragaman itu menyimpan pesan politik sekaligus kelembagaan.

Baca Juga:

Polda Banten Bongkar Dugaan Tambang Tanah Urug di Kasemen
Wagub Dimyati Beber Strategi Ketahanan Pangan Banten ke Peserta Sespimti Polri
Raker GMPK Banten, Bentuk Tim Kerja Pencegahan Korupsi
Metrologi Awasi Pos dan Jasa Ekspedisi, Konsumen Diminta Dapat Kepastian Layanan

Prabowo tampaknya tidak sedang membangun semacam “kabinet kedua”. Ia membentuk ruang konsultasi yang lebih luas, tempat pengalaman pemerintahan, bisnis, agama, keamanan, hukum, masyarakat sipil, hingga suara kritik ditempatkan dalam satu meja.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar siapa saja mereka. Pertanyaan yang lebih penting adalah untuk apa Prabowo membutuhkan mereka dalam tiga tahun terakhir pemerintahannya menuju 2029?

Karakter Wantimpres Baru

Di pucuk Wantimpres terdapat Pratikno sebagai ketua, Hatta Rajasa sebagai wakil ketua, dan Muhammad Qodari sebagai sekretaris.

Baca Juga:

Pemprov Banten Gandeng PTPN IV Buka Lapangan Kerja, Warga Lokal Diprioritaskan
Kantor Pengadilan Tinggi Agama Banten di Serang Terbakar, 4 Ruangan Lantai 2 Dilalap Api
Bupati Lebak Minta PGRI Jadi Mitra Strategis, Kawal Kebijakan Pendidikan
Proyek Trotoar dan Drainase Sunan Kalijaga Baru 24 Persen, Rp4,68 Miliar Ditarget Rampung Desember

Ketiganya membawa pengalaman berbeda.

- Advertisement -
Ad image

Pratikno merupakan akademisi ilmu politik yang pernah menjadi Rektor UGM dan Menteri Sekretaris Negara selama dua periode pemerintahan Joko Widodo. Ia kemudian dipercaya menjadi Menko PMK pada pemerintahan Prabowo.

Hatta Rajasa merupakan teknokrat-politikus yang pernah menjadi menteri pada pemerintahan Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Sementara Qodari memiliki pengalaman di bidang riset politik, survei, komunikasi politik, dan pemerintahan Prabowo.

Susunan ini memberi gambaran mengenai karakter Wantimpres baru: pengalaman birokrasi, kebijakan ekonomi-politik, serta kemampuan membaca opini dan komunikasi publik.

- Advertisement -
Ad image

Pratikno menjadi sosok yang menarik perhatian. Ia baru saja meninggalkan posisi Menko PMK dan kemudian ditempatkan sebagai Ketua Wantimpres.

Artinya, Pratikno tidak memasuki lembaga tersebut sebagai orang yang harus mempelajari mesin pemerintahan Prabowo dari awal. Ia datang dari dalam pemerintahan itu sendiri.

Baca Juga:

Pejabat Samsat Cilegon Diduga Tinggalkan Kantor Sebelum Jam Kerja Usai
Musim Hujan Mundur, Banten Siapkan Rekayasa Cuaca
Kemenag Lebak Ingatkan PNS Cek Data Simpeg5: “Simpegmu adalah Nasibmu”
Limbah Triplek di Pabrik Ciginggang Lebak Terbakar, 2 Mobil Damkar Dikerahkan

Pengalaman tersebut penting karena Wantimpres membutuhkan orang yang memahami bagaimana kebijakan dirumuskan, dinegosiasikan antarkementerian, diterjemahkan menjadi program, hingga persoalan yang biasanya muncul di dalam birokrasi.

Bukan Sekadar “Orang Dekat”

Dalam politik, istilah afiliasi memiliki banyak bentuk. Bisa berupa hubungan partai, organisasi, profesional, personal, maupun pengalaman bekerja bersama.

Namun, afiliasi tidak otomatis berarti ketidakprofesionalan.

Dalam sebuah lembaga penasihat presiden, kedekatan dengan pusat kekuasaan dapat menjadi sumber pengetahuan. Tetapi kedekatan juga bisa menjadi kelemahan jika membuat seseorang kehilangan jarak kritis.

Karena itu, ukuran penting Wantimpres bukan sekadar apakah anggotanya dekat atau tidak dengan Presiden.

Pertanyaan yang lebih substantif adalah: apakah mereka mampu mengatakan kepada Presiden sesuatu yang mungkin tidak ingin didengarnya?

Di sinilah keberadaan Rocky Gerung menjadi menarik.

Rocky bukan figur yang selama ini dikenal sebagai bagian dari lingkaran kekuasaan Prabowo. Sebaliknya, ia dikenal sebagai akademisi dan intelektual publik yang kerap menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah.

Setelah dilantik, Rocky mengatakan fungsi Wantimpres adalah bersikap “kritis terhadap kebijakan”. Menurut dia, Wantimpres berada pada wilayah pertimbangan etis dan strategis, bukan mengurusi teknis pemerintahan sehari-hari.

Jika fungsi itu benar-benar dijalankan, keberadaan Rocky dapat dibaca sebagai upaya menghadirkan “cermin” dari luar lingkaran birokrasi.

Presiden tentu memiliki menteri, staf, penasihat politik, dan aparat birokrasi yang setiap hari memberikan laporan. Yang lebih sulit adalah memperoleh suara yang bersedia mengatakan bahwa sebuah kebijakan mungkin keliru, masyarakat melihat persoalan secara berbeda, atau konsekuensinya tidak seperti yang dibayangkan pemerintah.

Dari NU hingga Lintas Agama

Dimensi lain yang terlihat dari komposisi Wantimpres baru adalah representasi keagamaan dan sosial.

Ada Quraish Shihab, Said Aqil Siradj, Anwar Iskandar, Yahya Cholil Staquf, dan Salim Segaf Al-Jufri. Ada pula Shinta Nuriyah Wahid.

Dari komunitas agama lain terdapat Philip Kuncoro Wijaya dari lingkungan umat Buddha, Budi Tanuwibowo dari komunitas Khonghucu, serta Jacky Manuputty dari lingkungan gereja.

Komposisi ini penting karena pemerintahan tidak hanya berhadapan dengan persoalan ekonomi dan keamanan. Pemerintah juga harus mengelola kohesi sosial.

Dalam tiga tahun terakhir menuju 2029, pertumbuhan ekonomi harus dijaga, program-program besar harus menghasilkan dampak, sementara masyarakat menghadapi fragmentasi akibat media sosial, politik identitas, ketimpangan informasi, dan pertarungan opini.

Dalam situasi seperti itu, tokoh agama tidak hanya dibutuhkan untuk berbicara mengenai agama. Mereka juga dapat menjadi kanal untuk membaca kondisi sosial masyarakat.

Quraish Shihab membawa otoritas keilmuan Islam. Said Aqil dan Yahya Staquf memiliki pengalaman panjang di lingkungan NU. Anwar Iskandar membawa pengalaman kelembagaan MUI. Salim Segaf memiliki pengalaman politik dan pemerintahan sekaligus latar belakang keagamaan.

Sementara Shinta Nuriyah dikenal dengan tradisi pemikiran pluralisme dan dialog lintas agama yang selama bertahun-tahun melekat pada warisan pemikiran Abdurrahman Wahid.

Komposisi tersebut dapat dibaca sebagai sebuah “panel sosial-keagamaan”. Fungsinya bukan untuk mengendalikan masyarakat melalui tokoh agama, melainkan memberikan perspektif kepada Presiden mengenai bagaimana kebijakan negara diterima oleh komunitas yang berbeda.

Ada Jenderal, Ada Pengusaha

Dimensi lain adalah keamanan dan ekonomi.

Agum Gumelar, Budi Gunawan, dan Ida Bagus Purwalaksana membawa pengalaman dari lingkungan pertahanan dan keamanan. Dalam pemerintahan Prabowo, perspektif tersebut memiliki relevansi tersendiri.

Prabowo memiliki latar belakang militer dan agenda pertahanan yang besar, mulai dari modernisasi alutsista, penguatan industri pertahanan, ketahanan nasional, hingga posisi Indonesia di tengah kompetisi kekuatan besar.

Namun Wantimpres tidak berhenti pada isu keamanan.

Ada Chairul Tanjung, Dato’ Sri Tahir, dan Jusuf Hamka yang membawa pengalaman dari dunia usaha dengan latar belakang masing-masing.

Kehadiran pengusaha dapat memberikan perspektif yang tidak selalu tersedia di birokrasi: bagaimana regulasi dirasakan pelaku usaha, bagaimana investor membaca risiko Indonesia, bagaimana proyek infrastruktur menghadapi persoalan pembiayaan, serta bagaimana kebijakan pemerintah diterjemahkan menjadi keputusan ekonomi.

Namun, di sinilah prinsip profesionalitas menjadi penting.

Pengusaha yang duduk sebagai penasihat Presiden idealnya tidak sekadar membawa kepentingan dunia usaha. Mereka juga harus mampu melihat kepentingan ekonomi nasional secara lebih luas.

Kebijakan ekonomi selalu memiliki dua sisi. Ada kebutuhan investasi, pertumbuhan, efisiensi, dan kepastian usaha. Di sisi lain ada kepentingan pekerja, konsumen, UMKM, lingkungan, fiskal negara, dan pemerataan.

Wantimpres akan diuji pada kemampuannya mempertemukan berbagai kepentingan tersebut, bukan sekadar menyuarakan kepentingan kelompok asalnya.

Bagaimana Mengukur Kinerja Wantimpres?

Di sinilah Wantimpres menjadi lembaga yang unik.

Publik mungkin tidak pernah tahu apakah sebuah keputusan Presiden lahir setelah mendengar nasihat tertentu dari Wantimpres. Akibatnya, keberhasilan lembaga ini tidak mudah diukur dengan indikator yang biasa digunakan untuk kementerian.

Tidak ada jalan tol yang bisa diklaim sebagai hasil kerja Wantimpres. Tidak ada angka ekspor yang secara langsung dapat diberi label sebagai “hasil Wantimpres”.

Keberhasilannya lebih subtil.

Apakah Presiden memperoleh perspektif yang lebih luas sebelum mengambil keputusan? Apakah ada kebijakan yang diperbaiki setelah mendapat masukan? Apakah risiko yang sebelumnya tidak terlihat menjadi teridentifikasi?

Dan yang paling penting: apakah para penasihat berani berbeda pendapat?

Menuju 2029, Bukan Sekadar Popularitas

Di sinilah paradoks Wantimpres baru berada.

Prabowo mendapatkan sebuah dewan dengan kekayaan pengalaman yang besar. Secara teoritis, hal itu berarti kekayaan perspektif.

Namun, kekayaan perspektif baru berarti jika berbagai pandangan benar-benar dipertemukan.

Jika semua orang hanya menyampaikan apa yang ingin didengar Presiden, Wantimpres berisiko berubah menjadi ruang gema. Sebaliknya, jika perbedaan pandangan dapat disampaikan secara profesional, argumentatif, dan dalam koridor kerahasiaan yang diperlukan, lembaga ini dapat menjadi semacam ruang uji bagi kebijakan Presiden.

Sampai 2029, tantangan pemerintahan Prabowo bukan hanya mempertahankan popularitas. Yang lebih penting adalah apakah janji politik dapat diterjemahkan menjadi kapasitas negara dan apakah program-program unggulan pemerintah mampu bertahan menghadapi keterbatasan anggaran serta perubahan ekonomi global.

Untuk itu, Presiden membutuhkan lebih dari sekadar loyalitas. Ia membutuhkan pengalaman, keahlian, sekaligus kritik.

Makna penting dari susunan Wantimpres baru ini karena itu bukan semata siapa yang paling dekat dengan Prabowo, siapa yang pernah dekat dengan Jokowi, siapa yang berasal dari NU, siapa yang pengusaha, atau siapa yang selama ini dikenal sebagai pengkritik pemerintah.

Yang lebih penting adalah apakah seluruh latar belakang tersebut dapat diubah menjadi keragaman nasihat.

Figur seperti Rocky Gerung, misalnya, diharapkan membawa fungsi yang berbeda: menjaga agar meja pertimbangan Presiden tidak kehilangan suara kritis.

Pada akhirnya, efektivitas Wantimpres akan sangat bergantung pada bagaimana seluruh anggota menjalankan perannya. Sebab nasihat yang berguna bagi seorang presiden bukan hanya nasihat yang membenarkan keputusan.

Nasihat yang berguna adalah nasihat yang membuat seorang presiden melihat sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat.

Tiga tahun terakhir menuju 2029 akan menjadi ujian bagi 26 anggota Wantimpres: apakah mereka sekadar menjadi bagian dari struktur kekuasaan, atau benar-benar menjadi ruang berpikir strategis bagi Presiden Prabowo dalam menyelesaikan agenda pemerintahannya.

Editor: Deni Setiadi

Bagikan berita ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link
Sebelumnya Dandim 0603 Lebak Open Karate Championship IV Resmi Dibuka
Selanjutnya Gubernur Andra Soni Ziarah Makam Sultan Banten Jelang HUT ke-26
- Advertisement -
Ad image
TERKINI

Kapolsek Malingping Cek Dapur MBG, Ingatkan Pekerja Jaga Kamtibmas

Dandim Pandeglang Pimpin Upacara Penerimaan 10 Personel Baru

Subdenpom Pandeglang Perkuat Sinergi Dengan PUPR

Bukan Sekadar HUT Banten, Pekan Kebudayaan Jadi Panggung Baru Seni Tradisi

Strategi Pemprov Banten 2027 Tekan Kemiskinan, Fokus SDM Unggul dan Infrastruktur

- Advertisement -
Ad image
- Advertisement -
Ad image
Berita Terkait
Daerah Hukum

Remaja 16 Tahun di Pandeglang Hilang, Naik Scoopy Merah

Daerah Pemerintahan

Indeks Integritas Pendidikan Banten Naik, Dimyati Targetkan Level Adaptif

Daerah Hukum

Siswa SMPN 1 Rangkasbitung Belajar Tertib Lalu Lintas di Satpas Polres Lebak

Daerah News

Pohon Tumbang Tutup Jalan Rangkasbitung-Pandeglang, Lalu Lintas Macet

Daerah Hukum

Polres Serang Simulasikan Demo Anarkis, Dalmas hingga AWC Dikerahkan

  • Trending Topics:
  • Daerah
  • Viral
  • News
  • Pemerintahan
  • Hukum
  • Inspirasi
  • Pendidikan
  • Nasional
  • Budaya
  • Ekbis
  • Politik
kobarnews.id
Kobarnews.id mengangkat berbagai isu, mulai dari politik, pemerintahan, hukum, sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, budaya, hingga peristiwa dan perkembangan masyarakat di daerah.
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak & Iklan
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Syarat & Ketentuan

2016 © Kobarnews.id. Designed with ❤︎⁠ by dezainin.com