KOBARNEWS.ID, PANDEGLANG – Sebuah bangunan berbentuk vila berdiri di Kampung Babakan Mandala, Desa Mandalasari, Kecamatan Kaduhejo, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Dari luar, bangunan itu tampak seperti rumah peristirahatan biasa. Namun bagi keluarga besar Komisaris Jenderal (Komjen) Polisi Suyudi Ario Seto, tempat tersebut menyimpan cerita yang lebih personal.
Mereka menyebutnya Rumah Mamah.
Nama itu bukan sekadar panggilan. Ada cerita keluarga yang melekat di baliknya. Bangunan tersebut berkaitan dengan orang tua keluarga Suyudi dan kemudian menjadi tempat yang kerap digunakan saat keluarga berada di Pandeglang.
Tubagus Hikmat, salah satu keluarga Suyudi, mengatakan bangunan itu sebenarnya merupakan sebuah vila. Namun sejak awal, keluarga lebih mengenalnya sebagai Rumah Mamah.
“Ini vila, tapi beliau selalu bilang ini Rumah Mamah. Disebutnya Rumah Mamah karena ini punya orang tuanya, cuma beliau yang bangun. Jadi dipanggilnya Rumah Mamah,” kata Hikmat saat ditemui di lokasi.
Bagi keluarga, nama tersebut seolah menjadi penanda bahwa bangunan itu memiliki hubungan erat dengan sosok orang tua mereka.
Tempat Singgah Keluarga
Rumah Mamah digunakan sebagai tempat beristirahat ketika anggota keluarga datang ke Pandeglang. Mereka yang tinggal di Jakarta maupun daerah lain dapat menginap di sana ketika berada di kampung halaman.
Suyudi termasuk salah satu anggota keluarga yang beberapa kali menginap di rumah tersebut saat berkunjung ke Pandeglang.
Kenangan tentang rumah itu salah satunya muncul saat momen Lebaran. Ketika hari raya tiba, Suyudi pernah menghabiskan waktu di sana bersama saudara dan orang tuanya.
“Betul, dulu waktu Lebaran di sini juga. Nginep di sini, dengan adik-adiknya, dengan kakaknya, dengan orang tuanya,” ujar Hikmat.
Momen seperti itu menjadi bagian dari kehidupan keluarga yang kemudian tersimpan sebagai kenangan di Rumah Mamah.
Rumah yang Menyimpan Kenangan
Bagi keluarga besar Suyudi, Rumah Mamah pada akhirnya bukan sekadar tempat bermalam.
Bangunan tersebut menjadi bagian dari perjalanan keluarga terutama karena di sanalah sejumlah momen bersama orang tua dan saudara pernah berlangsung.
Kesibukan membuat anggota keluarga menjalani kehidupan di tempat berbeda. Suyudi, misalnya, lebih banyak beraktivitas di Jakarta seiring perjalanan kariernya di kepolisian. Namun ketika berada di Pandeglang, Rumah Mamah menjadi salah satu tempat yang menghubungkannya dengan keluarga dan kampung halaman.
Karena itu, sebutan Rumah Mamah tetap digunakan hingga kini.
Bagi orang yang baru melihatnya, bangunan itu mungkin hanya tampak sebagai sebuah vila di tengah permukiman. Tetapi bagi keluarga Suyudi, nama tersebut membawa ingatan tentang orang tua, saudara, Lebaran, dan waktu yang pernah mereka habiskan bersama.
Rumah itu mungkin tidak banyak bercerita kepada orang yang datang untuk pertama kali.
Namun bagi keluarga yang mengenalnya sejak lama, setiap sudutnya menyimpan cerita tentang dari mana mereka berasal dan ke mana mereka selalu kembali. (HF/red)




