Kobarnews.id, LEBAK – Enam tahun berlalu sejak banjir bandang dan longsor menerjang Kabupaten Lebak, namun luka bencana itu masih membekas di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Irsyadul Ibad, Kampung Padurung, Desa Lebaksangka, Kecamatan Lebakgedong.
Puluhan siswa di sekolah tersebut kini masih harus belajar dalam kondisi serba terbatas. Meja dan kursi tak mencukupi, membuat sebagian murid terpaksa menggelar buku di lantai saat mengikuti pelajaran.
Bangunan sekolah pun jauh dari kata layak. Dinding kelas retak, ruang guru hancur, toilet tidak berfungsi, sementara sejumlah fasilitas belajar rusak dan belum tergantikan.
Di tengah kondisi memprihatinkan itu, semangat para siswa untuk menuntut ilmu tidak padam. Setiap hari mereka tetap datang ke sekolah, membaca, menulis, dan mengikuti pelajaran meski ruang belajar nyaris tidak memberikan kenyamanan.
Guru MI Irsyadul Ibad, Wahyudin Sutiawan, mengatakan kondisi sekolah tidak banyak berubah sejak banjir bandang dan longsor melanda pada 2020.
“Sejak banjir bandang dan longsor tahun 2020, kondisinya seperti ini. Ruang guru hancur, ruang kelas juga mengalami kerusakan berat,” kata Wahyudin, Senin (3/8/2026).
Menurutnya, keterbatasan fasilitas membuat proses belajar mengajar harus dilakukan dengan berbagai cara. Bahkan, ruang kelas terpaksa merangkap sebagai ruang administrasi lantaran sekolah tidak memiliki ruang guru yang memadai.
“Beberapa murid belajar di lantai. Ada juga kelas yang hanya dipisahkan sekat sederhana, sehingga suara dari kelas sebelah masuk dan mengganggu proses belajar,” ujarnya.
Bagi Wahyudin, kondisi tersebut menjadi pemandangan yang menyayat hati. Ia mengaku sering merasa sedih melihat para siswa tetap bersemangat belajar di tengah keterbatasan.
“Saya sering menangis setiap mau masuk kelas. Melihat kondisi ruangan seperti ini rasanya sedih. Anak-anak tetap semangat belajar, tetapi mereka seharusnya mendapatkan tempat belajar yang jauh lebih layak,” ungkapnya.
Saat ini MI Irsyadul Ibad menampung sekitar 90 siswa dengan enam guru dan seorang kepala sekolah. Namun, kegiatan belajar hanya mengandalkan dua ruang kelas dengan kondisi yang sangat sederhana.
Kisah MI Irsyadul Ibad menjadi potret panjang dampak bencana yang belum sepenuhnya usai. Enam tahun setelah banjir bandang menerjang, puluhan anak di pelosok Lebak masih menunggu hadirnya ruang belajar yang aman, nyaman, dan layak.




