Kobarnews.id, PANDEGLANG – Muhammad Tatang, 26 tahun, pemuda asal Kabupaten Pandeglang, Banten, memulai kariernya dari usaha jual beli telepon pintar dan profesi fotografer.
Kini, ia dikenal sebagai salah satu investor ritel yang aktif di pasar modal setelah memanfaatkan momentum pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Tatang mengatakan keputusan terbesar dalam perjalanan investasinya diambil ketika IHSG sempat menyentuh kisaran 5.300 pada Juni 2026. Saat banyak investor diliputi kekhawatiran, ia justru menambah porsi investasinya dengan menjual sebagian besar aset kamera milik usaha rental foto yang dikelolanya.
“Banyak yang menganggap keputusan saya nekat. Tapi saya melihat kondisi itu sebagai peluang yang jarang datang,” kata Tatang kepada Kobarnews.id, Ahad, 2 Agustus 2026.
Menurut dia, sekitar 90 persen aset kamera di perusahaan rental Hallophoto dijual untuk menambah modal investasi. Namun, sebagian peralatan tetap dipertahankan agar usaha fotografi tetap berjalan sebagai sumber pendapatan utama.
Perjalanan Tatang di pasar modal dimulai pada 2019 ketika masih menempuh semester pertama kuliah di jurusan ekonomi.
Saat itu, ia diwajibkan membuka rekening efek sebagai bagian dari mata kuliah. Pengalaman awalnya tidak selalu berjalan mulus. Ia mengaku sempat mengalami kerugian karena minim pengetahuan dan pengalaman.
Kerugian tersebut kemudian menjadi titik evaluasi. Tatang mulai mempelajari analisis fundamental dan teknikal, memperbaiki manajemen risiko, serta menghindari keputusan investasi yang didorong rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO).
“Saya pernah rugi. Dari situ saya belajar lebih disiplin, memahami analisis, dan tidak lagi membeli saham hanya karena ikut-ikutan,” ujarnya.
Ia juga mengaku sempat mengalami tekanan psikologis saat pasar saham anjlok pada masa pandemi Covid-19. Pengalaman itu, kata dia, menjadi bekal penting untuk menghadapi gejolak pasar berikutnya.
“Dari modal awal sekitar Rp100 ribu, sekarang nilai portofolio saya bertumbuh cukup besar. Saya memanfaatkan peluang yang muncul, meski kondisi pasar masih bergejolak,” kata Tatang.
Meski telah merasakan keuntungan dari investasi, Tatang mengingatkan anak muda agar tidak hanya melihat hasil akhirnya. Menurut dia, investasi di pasar modal membutuhkan pengetahuan, disiplin, dan kesiapan menghadapi risiko.
“Jangan hanya ikut tren. Pelajari dulu risikonya karena pasar modal selalu berubah. Jangan berusaha menjadi peramal saham, tetapi jadilah pengelola risiko yang baik,” ujarnya. (Red)


