Kobarnews.id, PANDEGLANG –Langkah-langkah kecil mulai menyusuri jalur Gunung Aseupan, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Sabtu (1/7). Di antara rombongan pendaki, tampak anak-anak ikut memanggul tas. Bahkan, peserta termuda masih duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar.
Sebanyak 32 anggota komunitas Yaa Abati berangkat dari Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, menuju Gunung Aseupan yang memiliki ketinggian sekitar 1.174 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dari jumlah tersebut, 17 orang merupakan ayah yang mendaki bersama anak-anak mereka.
Bagi sebagian orang, mendaki gunung adalah petualangan. Namun bagi komunitas Yaa Abati, perjalanan menuju puncak menjadi cara mempererat hubungan antara ayah dan anak.
Gunung Aseupan dipilih karena dikenal ramah bagi pendaki pemula. Namun, medan yang dihadapi ternyata tidak semudah bayangan.
Jalur pendakian memiliki empat pos. Hingga Pos 3, trek masih relatif bersahabat. Setelah itu, tanjakan semakin curam dengan jalur berbatu. Di beberapa titik, pendaki harus ekstra hati-hati karena sisi kanan dan kiri jalur berbatasan dengan jurang.
Semakin siang, tenaga mulai terkuras. Langkah melambat, napas tersengal, dan rasa lelah menguji fisik maupun mental peserta.
Beberapa peserta bahkan nyaris menyerah. Ada pula yang memutuskan berhenti sebelum mencapai puncak.
“Bagi kami, puncak bukan tujuan utama. Keselamatan adalah tujuan yang sesungguhnya,” kata Supadilah, salah satu peserta yang mendaki bersama dua anaknya.
Menurut Supadilah, mendaki bersama anak membutuhkan kesabaran lebih dibanding mendaki sendirian. Setiap langkah harus disesuaikan dengan kemampuan anak, setiap tanjakan dipastikan aman, dan setiap rasa lelah harus direspons dengan penuh perhatian.
Namun justru di situlah nilai perjalanan tersebut.
“Banyak hal yang tidak bisa diajarkan hanya lewat nasihat. Anak-anak belajar keberanian, kesabaran, kerja sama, dan percaya diri dari pengalaman langsung,” ujarnya.
Di beberapa titik, rombongan berhenti untuk beristirahat. Camilan dibagikan, air minum dihemat, sementara obrolan ringan menjadi penyemangat. Saat melihat peserta lain berhasil mencapai puncak, semangat anak-anak yang sempat turun perlahan bangkit kembali.
Rombongan juga tidak berjalan dalam satu barisan besar. Mereka terbagi dalam beberapa kelompok kecil sesuai kemampuan masing-masing. Tidak ada perlombaan menjadi yang tercepat. Yang terpenting, seluruh peserta bisa kembali dengan selamat.
Pendakian itu juga menjadi ruang belajar tentang empati. Anak-anak melihat langsung bagaimana orang dewasa saling membantu saat ada yang kelelahan. Para ayah pun belajar mengendalikan emosi di tengah rasa lelah demi tetap menjadi penyemangat bagi anak-anak mereka.
Di komunitas Yaa Abati, peserta yang berjalan santai memiliki julukan “Pejabat”, singkatan dari Pendaki Jalan Lambat. Julukan itu menjadi pengingat bahwa mendaki bukan soal kecepatan, melainkan menikmati setiap langkah dan kebersamaan selama perjalanan.
“Bapak-bapak mendaki itu sudah biasa, tapi bapak-bapak mendaki sambil bawa anak itu luar biasa,” ujar Eyang Sigit, peserta berusia sekitar 50 tahun.
Selama perjalanan, rombongan membawa bekal makanan dan sesekali membeli jajanan di warung yang berada di jalur pendakian. Selain mengisi tenaga, mereka juga ingin mendukung perekonomian warga sekitar.
Komunitas Yaa Abati dibentuk dengan semangat mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Pendakian menjadi salah satu media untuk membangun kedekatan tersebut, terutama di tengah kekhawatiran terhadap fenomena fatherless atau minimnya kehadiran ayah dalam kehidupan anak.
“Banyak ayah merasa waktunya habis untuk pekerjaan. Pendakian seperti ini menjadi kesempatan membayar utang kedekatan dengan anak,” tutur Supadilah.
Sebelum pendakian dimulai, pengelola Gunung Aseupan mengingatkan seluruh peserta agar tidak meninggalkan sampah di kawasan hutan. Pesan itu diterapkan selama perjalanan.
“Bisa saja orang membuang sampah tanpa diketahui siapa pun. Tapi kita tidak bisa membohongi diri sendiri. Di gunung ini kami juga mengajarkan anak mencintai alam,” kata Supadilah.
Pendakian dimulai sekitar pukul 08.00 WIB dengan total perjalanan sekitar 15 ribu langkah. Telapak kaki terasa perih dihantam bebatuan, lutut mulai berat saat menuruni lereng, dan tubuh dipenuhi keringat.
Namun seluruh rasa lelah itu seolah terbayar ketika anak-anak berdiri di puncak sambil memandang hamparan pegunungan Banten dari ketinggian.
Bagi anak-anak, perjalanan itu mungkin hanya petualangan sehari. Namun bagi para ayah, momen tersebut menjadi kenangan yang akan bertahan jauh lebih lama daripada deretan foto yang tersimpan di telepon genggam.
Sebelumnya, komunitas Yaa Abati juga telah mendaki Gunung Pulosari, Gunung Karang, dan Gunung Parakasak. Meski setiap gunung memiliki karakter berbeda, Gunung Aseupan meninggalkan kesan tersendiri.
Di jalur yang terjal itu, anak-anak belajar tentang perjuangan. Para ayah belajar tentang kesabaran. Sementara seluruh peserta pulang dengan pelajaran yang sama: pendakian bukan sekadar perjalanan menuju puncak, melainkan perjalanan membangun kebersamaan, keberanian, dan kasih sayang antara ayah dan anak. (Riyan)


