Kobarnews.id, LEBAK – Batik Lebak terus berkembang menjadi salah satu produk unggulan Kabupaten Lebak. Tak hanya menjadi identitas budaya daerah, batik dengan 12 motif khas ini juga mulai berperan sebagai penggerak ekonomi kreatif sekaligus daya tarik wisata edukasi.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) terus mendorong pengembangan industri batik lokal. Upaya yang dilakukan antara lain melalui pelatihan, pendampingan, bantuan peralatan produksi, hingga promosi lewat pameran di berbagai daerah.
Batik Lebak memiliki 12 motif khas, yakni Seren Taun, Sawarna, Gula Sakojor, Pare Sapocong, Kahuripan Baduy, Leuit Sijimat, Rangkasbitung, Caruluk Saruntuy, Lebak Bertauhid, Angklung Buhun, Kalimaya, dan Sadulur. Seluruh motif tersebut terinspirasi dari budaya, adat, dan kekayaan alam Kabupaten Lebak.
Setiap motif memiliki filosofi yang mencerminkan karakter masyarakat Lebak, mulai dari rasa syukur, gotong royong, ketahanan pangan, keharmonisan, religiusitas, hingga kepedulian terhadap alam dan budaya.
Tak hanya sebagai produk kerajinan, Batik Lebak kini juga menjadi bagian dari wisata edukasi. Di sejumlah galeri dan sentra produksi di Rangkasbitung, pengunjung dapat menyaksikan secara langsung proses pembuatan batik, mulai dari menggambar pola, mencanting, pewarnaan, hingga pelorodan.
“Melihat langsung proses membatik membuat kita lebih menghargai karya para pengrajin. Ternyata setiap lembar batik membutuhkan ketelitian dan waktu yang tidak sedikit,” kata Rina (29), wisatawan asal Tangerang.
Minat masyarakat terhadap Batik Lebak juga terus meningkat. Perpaduan desain tradisional dan sentuhan modern membuat batik ini banyak digunakan sebagai busana kerja, pakaian acara resmi, hingga koleksi pribadi.
“Kalau memakai Batik Lebak rasanya seperti membawa identitas daerah sendiri. Motifnya unik dan banyak orang luar yang penasaran ketika melihatnya,” ujar Lina (34), warga Rangkasbitung.
Dari sisi ekonomi, industri Batik Lebak menunjukkan tren positif. Salah satu pelaku usaha batik di Lebak bahkan mencatat omzet hingga ratusan juta rupiah setiap bulan dengan pemasaran ke berbagai kota di Indonesia.
Meski demikian, kapasitas produksi masih menjadi tantangan. Pelaku UMKM batik berharap adanya dukungan permodalan agar mampu meningkatkan produksi dan memenuhi permintaan pasar.
“Kami berharap ada dukungan modal usaha agar bisa menambah peralatan, memperluas tempat produksi, dan merekrut tenaga kerja. Permintaan sering datang dari luar daerah, tetapi belum semuanya bisa kami penuhi,” kata Sandi, pelaku UMKM batik.
Menurutnya, perluasan promosi juga menjadi faktor penting untuk memperluas pasar Batik Lebak.
“Kalau Batik Lebak lebih sering tampil dalam pameran nasional, event pariwisata, atau expo internasional, kami yakin pasarnya akan jauh lebih besar,” ujarnya.
Sementara itu, Pemkab Lebak terus memperkuat branding Batik Lebak sebagai identitas daerah. Salah satunya melalui kegiatan Sashing Ceremony yang memperkenalkan Batik Lebak kepada tamu dan peserta kegiatan resmi.
Warga Cibadak, Ahmad (41), menilai penggunaan Batik Lebak di kalangan aparatur sipil negara (ASN), sekolah, dan berbagai kegiatan resmi menjadi langkah positif untuk memperluas penggunaan produk lokal.
“Kalau bukan kita yang memakai dan membeli produk daerah sendiri, siapa lagi? Batik Lebak harus menjadi kebanggaan masyarakat Lebak,” katanya.
Dengan dukungan pemerintah, meningkatnya minat masyarakat, dan semakin luasnya akses pasar, Batik Lebak dinilai memiliki peluang besar menjadi salah satu ikon ekonomi kreatif di Banten sekaligus mendorong pertumbuhan UMKM di Kabupaten Lebak. (Dian)


