Kobarnews.id, LEBAK –Kemarau panjang mulai memukul Kabupaten Lebak. Pemerintah daerah akhirnya menetapkan status siaga darurat kekeringan hingga 14 Agustus 2026 setelah puluhan desa mengalami krisis air bersih dan debit air Bendungan Karian terus menyusut.
Status darurat ini diberlakukan untuk mempercepat penanganan, terutama dalam memastikan warga terdampak tetap mendapatkan pasokan air bersih.
Ketua BPBD Lebak, Sukanta, mengatakan puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus. Karena itu, pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kekeringan yang meluas.
“Status siaga darurat ini diberlakukan hingga 14 Agustus 2026 dan dapat diperpanjang apabila kondisi kekeringan terus meluas,” ujar Sukanta kepada wartawan, Sabtu (1/8/26).
Data BPBD Lebak mencatat, sebanyak 90 desa di 23 kecamatan masuk wilayah rawan krisis air bersih. Sumur warga mulai mengering, sementara debit sungai dan sumber mata air terus menurun akibat minimnya curah hujan.
Hingga awal Agustus, lebih dari 7.000 kepala keluarga (KK) dari 18 desa telah meminta bantuan air bersih. BPBD Lebak bersama Taruna Siaga Bencana (Tagana) Banten telah mendistribusikan sekitar 153 ribu liter air bersih gratis menggunakan armada truk tangki ke sejumlah titik terdampak.
Namun, penyaluran bantuan tidak berjalan mudah. Luas wilayah Lebak yang mencapai ribuan kilometer persegi serta keterbatasan armada menjadi tantangan tersendiri.
Senada, Sekretaris BPBD Kabupaten Lebak, Febby Rizki Pratama, menyebut pihaknya terus mengoptimalkan distribusi air ke desa-desa yang membutuhkan.
“Kami terus mengoptimalkan distribusi air bersih ke desa-desa terdampak. Namun, jarak antarwilayah yang cukup jauh menjadi salah satu kendala utama di lapangan,” katanya.
Tak hanya krisis air, ancaman lain juga mengintai. BPBD mengingatkan warga untuk mewaspadai kebakaran lahan selama musim kemarau. Salah satu kejadian yang menyita perhatian terjadi di kawasan Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Dengung, Kecamatan Maja.
Sementara itu, menyusutnya debit air Bendungan Karian memunculkan pemandangan tak biasa. Bekas permukiman warga di Kampung Somang, wilayah Desa Sukarame dan Desa Sukaraja, kembali terlihat setelah lama terendam akibat pembangunan waduk.
Sisa bangunan rumah, jalan lama, hingga jejak kampung yang pernah menjadi tempat tinggal warga muncul ke permukaan. Fenomena ini membuat sejumlah warga berdatangan untuk melihat kembali kawasan yang menyimpan kenangan masa lalu.
Pemerintah Kabupaten Lebak meminta masyarakat menghemat penggunaan air, menjaga sumber air yang masih tersedia, serta segera melapor apabila mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air bersih.
Dengan status siaga darurat yang berlaku hingga pertengahan Agustus, pemerintah berharap seluruh unsur mulai dari kecamatan, desa, relawan, hingga masyarakat dapat bergerak bersama menghadapi ancaman kemarau panjang yang masih berpotensi berlanjut. (Dian)



