Kobarnews.id, LEBAK – Upaya Pemerintah Kabupaten Lebak memperkuat promosi tenun Baduy melalui pameran, pembinaan, digitalisasi transaksi, hingga rencana Festival Tenun Baduy mendapat apresiasi dari kalangan pelaku ekonomi kreatif.
Ketua Lebak Ekonomi Kreatif (Leekraf) Andhy Yuliandi menilai promosi saja belum cukup untuk meningkatkan daya saing tenun Baduy. Menurutnya, pengembangan harus dibarengi pembentukan komunitas penenun, pelatihan desain, pendampingan pemasaran, serta pengembangan produk turunan berbasis tenun Baduy.
“Untuk berkembang lebih luas, tenun Baduy membutuhkan sinergi dengan pihak luar. Motif dan desain tenun Baduy memang memiliki pakem yang cenderung sederhana, dan itu adalah kekuatan budayanya. Yang perlu dikembangkan adalah produk turunannya, seperti busana atau produk fesyen berbasis tenun Baduy,” ujar Andhy.
Ia mengatakan tenun Baduy memiliki potensi besar menjadi produk budaya unggulan Kabupaten Lebak yang mampu menembus pasar nasional hingga internasional. Namun, pengembangannya harus tetap mempertahankan karakter budaya masyarakat Baduy.
Andhy menyebut selama ini dukungan Leekraf terhadap tenun Baduy masih sebatas membantu pemasaran melalui pameran dan berbagai event di tingkat regional maupun nasional. Sementara itu, upaya khusus untuk membentuk komunitas tenun Baduy belum dilakukan.
Meski demikian, ia menilai Dekranasda Kabupaten Lebak cukup konsisten melakukan pembinaan terhadap para penenun.
Menurut Andhy, sejumlah pelaku usaha dari luar Kabupaten Lebak, seperti Tangerang dan Serang, justru telah berhasil membawa tenun Baduy ke berbagai panggung nasional. Respons pasar terhadap produk tersebut juga dinilai cukup baik.
“Hal itu menunjukkan bahwa tenun Baduy memiliki peluang besar apabila didukung strategi pemasaran, desain, dan pengemasan produk yang lebih kuat,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan sumber daya manusia, khususnya di bidang pemasaran digital dan konten kreatif. Menurutnya, pelaku kreatif dari luar Lebak saat ini relatif lebih mampu mengemas citra Baduy sehingga menarik perhatian masyarakat luas.
“Banyak konten kreator dari luar daerah yang berhasil menjadikan Baduy sebagai objek yang menarik secara visual. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi kita,” ujarnya.
Festival Tenun Baduy
Terkait rencana Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menggelar Festival Tenun Baduy, Andhy menyambut baik langkah tersebut.
Namun, ia berharap festival tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Festival, kata dia, harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun ekosistem tenun Baduy.
“Festival itu bagus sebagai gebrakan. Tetapi akan lebih kuat jika sebelumnya dibangun komunitas penenun, dilakukan pelatihan desain, pendampingan pemasaran, dan disiapkan hilirisasi produk ekonomi kreatif berbasis tenun Baduy,” katanya.
Andhy menegaskan tenun Baduy tidak dapat dipisahkan dari identitas masyarakat adat Baduy. Karena itu, strategi promosi harus mengedepankan narasi budaya, bukan sekadar menjual kain.
“Ketika orang membeli tenun Baduy tanpa mengetahui bahwa itu berasal dari masyarakat Baduy, maka persepsi dan nilai harganya tidak akan tinggi. Yang perlu dibangun adalah cerita, proses pembuatannya, filosofi motifnya, hingga bagaimana kain itu ditenun secara tradisional. Jika dikemas secara estetik dan edukatif, nilainya akan jauh berbeda,” jelasnya.
Ia juga menilai pelibatan tenaga ahli dalam proses pelatihan dan pendampingan masih minim.
“Kekurangan kita, untuk proses pelatihan dan pendampingan jarang sekali melibatkan ahlinya. Padahal bicara desain, persepsi, dan mindset itu sangat penting,” ujarnya.
Andhy berharap sinergi antara Pemkab Lebak, Dekranasda, Leekraf, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas kreatif dapat mendorong tenun Baduy naik kelas.
Dengan kolaborasi tersebut, tenun Baduy diharapkan tidak hanya dikenal sebagai cendera mata wisata, tetapi menjadi produk budaya bernilai tinggi yang mampu meningkatkan kesejahteraan penenun sekaligus memperkuat identitas Kabupaten Lebak di tingkat nasional maupun internasional.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak Yosep M. Holis menyatakan pemerintah daerah terus melibatkan penenun Baduy dalam berbagai pameran, termasuk pada ajang Seba Baduy.
Pemkab Lebak juga tengah mengupayakan penyelenggaraan Festival Tenun Baduy di Alun-Alun Rangkasbitung dengan dukungan berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia. (Dian)




