Oleh: Dian Wahyudi
Wartawan Kobarnewsid
LEBAK – Di tengah pendidikan yang semakin lekat dengan layar dan gawai, Ilalang School di Kabupaten Lebak memilih jalan berbeda. Sekolah alam ini mengajak anak-anak belajar melalui pengalaman: berjalan, bermain, mendaki, berkarya, berbincang, hingga bersentuhan langsung dengan alam.
Di balik gerakan tersebut ada Apriyadi, yang akrab disapa Guru Apri atau Abah Apri. Ia merupakan pendiri sekaligus Kepala Suku Ilalang School.
Bagi Abah Apri, pendidikan bukan sekadar mengejar nilai akademik. Pendidikan merupakan proses menemukan kembali fitrah manusia, membangun kemandirian, serta mempererat hubungan anak dengan orang tua, alam, dan Sang Pencipta.
Ilalang School juga menempatkan keluarga sebagai bagian penting dalam proses pendidikan. Orang tua tidak hanya hadir ketika mengambil rapor atau mengikuti pertemuan sekolah. Mereka diajak terlibat dalam percakapan, evaluasi, kegiatan, hingga berbagai proyek kebaikan bersama anak.
“Allah tidak memberi amanah sembarangan. Allahlah yang memilih seorang laki-laki dan perempuan menjadi ayah dan ibu dengan kehadiran anak,” demikian salah satu gagasan yang kerap disampaikan Abah Apri.
Dari pemikiran itu, ia meyakini ayah dan ibu memiliki peran utama dalam menemukan jawaban atas berbagai persoalan pengasuhan dan pendidikan anak.
Sekolah, kata dia, hadir bukan untuk menggantikan keluarga, melainkan menjadi teman dalam perjalanan.
Belajar dari Alam
Di Ilalang School, alam bukan sekadar tempat bermain. Alam menjadi ruang belajar yang menghadirkan pengalaman nyata bagi anak.
Berbagai aktivitas luar ruang dilakukan sesuai usia dan tahap perkembangan anak. Mulai dari bermain di sungai, membuat mural, ecoprint, melakukan perjalanan, hingga mendaki gunung bersama ayah.
Dalam sebuah kegiatan, anak-anak diajak berenang di Sungai Ciberang. Mereka pulang dalam kondisi lelah, pegal, dan kepanasan, tetapi tetap membawa keceriaan.
Di kesempatan lain, anak-anak kelas Penjelajah membuat mural. Setelah melihat hasil karyanya, muncul rasa bangga yang sederhana.
“Ternyata bagus ya…” kata mereka.
Namun, setelah itu muncul kesadaran lain.
“Tapi masih belum maksimal.”
Bagi Abah Apri, percakapan sederhana seperti itu merupakan bagian penting dari pendidikan. Anak belajar merasakan kepuasan karena telah berusaha, sekaligus memiliki keinginan untuk memperbaiki diri.
Nilai tersebut juga diterapkan dalam kelas Pendaki. Ada kalimat yang menjadi pengingat: “Pendaki sejati bukan yang paling cepat menyerah.”
Ada pula ungkapan, “Anak pendaki kalau naik gunung harus sampai puncak.”
Pesannya bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai tujuan. Yang lebih penting adalah keberanian memulai, ketangguhan menghadapi perjalanan, dan kesediaan menuntaskan misi.
Petualangan Ayah dan Anak
Pendakian Gunung Aseupan menjadi salah satu contoh bagaimana Ilalang School menjadikan petualangan sebagai medium pendidikan keluarga.
Ayah dan anak berjalan bersama, menghadapi medan, rasa lelah, dan berbagai tantangan. Dari perjalanan itu, anak tidak hanya belajar tentang gunung, tetapi juga tentang kesabaran, keberanian, kerja sama, dan hubungan dengan orang tua.
Abah Apri mengaitkan pengalaman tersebut dengan kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail, ketika membangun Ka’bah.
Menurutnya, ayah seyogianya mengajak anak terlibat dalam berbagai proyek kebaikan. Salah satunya dapat dimulai melalui petualangan sederhana bersama.
Sebab, percakapan paling bermakna antara ayah dan anak terkadang tidak terjadi di ruang tamu.
Percakapan itu justru bisa muncul ketika keduanya berjalan berdampingan, menikmati pemandangan, mengatur napas di tanjakan, atau duduk beristirahat setelah menempuh perjalanan panjang.
Melawan Ketergantungan Gawai
Di tengah kehidupan anak-anak yang semakin dekat dengan telepon pintar dan platform digital, Abah Apri juga aktif mengampanyekan pembatasan penggunaan gawai.
Menurutnya, teknologi bukan sesuatu yang harus dimusuhi. Namun, anak tetap membutuhkan ruang untuk bergerak, bermain, berinteraksi, berimajinasi, dan mengenal dunia nyata.
Alam menjadi salah satu jawabannya.
Ketika berada di luar ruangan, anak berhadapan langsung dengan tanah, air, pepohonan, cuaca, teman, serta berbagai situasi yang tidak selalu dapat dikendalikan.
Dari pengalaman itu, kemampuan beradaptasi, kemandirian, dan keberanian dapat tumbuh secara alami.
Ilalang kemudian menjadi titik temu. Bukan hanya antara sekolah dan anak, tetapi juga antara keluarga, alam, dan kehidupan.
Ngobrol tentang Fitrah
Gagasan tentang pendidikan keluarga juga berkembang melalui ruang-ruang percakapan.
Salah satunya melalui kegiatan “Titik Temu Keluarga Ilalang, Ngobrolin Tentang Fitrah”. Pertemuan tersebut dikemas secara santai dan tidak kaku.
Orang tua tidak harus duduk dalam ruang formal. Mereka dapat menikmati kopi atau matcha sembari berbicara tentang anak, keluarga, pendidikan, dan fitrah manusia.
Pertemuan tersebut bahkan dapat berjalan beriringan dengan aktivitas ekonomi kreatif, seperti peluncuran produk kuliner Matcha Mood.
Di ruang semacam itu, pendidikan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Orang tua tidak sekadar mengikuti seminar yang dipenuhi teori, tetapi berbagi pengalaman dan mencoba memahami kembali perannya sebagai ayah dan ibu.
Gagasan belajar juga dibawa ke tempat yang tidak biasa.
Bedah buku di Pasar Bojong Apus, misalnya, dibayangkan sebagai pertemuan sederhana sambil sarapan dengan jajanan pasar.
Cara tersebut menunjukkan bahwa belajar tidak harus menunggu ruang yang sempurna.
Berjalan Bersama
Semangat serupa terlihat dalam kegiatan Jambore Keluarga Ilalang ke Lampung dengan tema “Berjalan Bersama, Mendidik Generasi Bersama”.
Bagi Ilalang School, pendidikan bukan pekerjaan satu pihak.
Sekolah membutuhkan keluarga. Keluarga membutuhkan lingkungan yang mendukung. Anak membutuhkan ruang untuk tumbuh. Semuanya membutuhkan orang dewasa yang bersedia berjalan bersama.
Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Ilalang School pun menjadi bagian dari pengalaman pendidikan.
Anak-anak tidak hanya mengenal kemerdekaan melalui buku, tetapi mengalaminya melalui kebersamaan dan berbagai kegiatan nyata.
Pada akhirnya, Ilalang School bukan semata tentang sekolah alam. Di dalamnya terdapat gagasan tentang bagaimana pendidikan dikembalikan kepada hal-hal yang dekat dengan kehidupan: keluarga, alam, pengalaman, dan fitrah manusia.
Abah Apri dan Ilalang School seolah ingin mengingatkan bahwa anak tidak selalu membutuhkan lebih banyak teori.
Terkadang, mereka membutuhkan ayah yang mau berjalan bersama, ibu yang mau mendengarkan, guru yang mau menemani, dan alam yang memberi ruang untuk bertumbuh.
Sebab, pendidikan yang paling melekat sering kali bukan pendidikan yang paling banyak menjelaskan, melainkan yang dijalani bersama. (*)




