Oleh: Dian Wahyudi
Wartawan Kobarnews.id
LEBAK – Bagi Dr. Iyan Fitriyana, menulis bukan sekadar hobi. Di tengah kesibukannya sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Asisten Administrasi Umum (Asda III) Sekretariat Daerah Kabupaten Lebak sekaligus Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Lebak periode 2025–2030, ia tetap setia pada dunia literasi yang telah ditekuninya sejak remaja.
Pria kelahiran 12 Juli 1983 itu mulai mencintai dunia tulis-menulis sejak 1999. Kala itu, ketika masih menjadi santri, ia menuangkan gagasan melalui majalah dinding sekolah. Dari lembar sederhana itulah tumbuh keyakinan bahwa tulisan bisa menjadi jalan pengabdian.
Jejak pendidikannya ditempa dari Madrasah Diniyah Al-Husna Empang, Pondok Pesantren Muflihatul Aliyah Sentral, Pondok Pesantren Riyadhul Mutaafakkirin Selahaur, hingga Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Latar belakang pesantren menjadi fondasi kuat bagi karya-karyanya. Tema agama, pendidikan, sosial, hingga kecintaannya terhadap Kabupaten Lebak banyak mewarnai tulisan Iyan.
Buku pertamanya berupa kumpulan doa dan panduan tahlil berhuruf Arab Pegon diterbitkan pada 2001. Buku tersebut kemudian digunakan para santri dan jamaah pengajian di lingkungan pesantren.
Dari sana, perjalanan literasinya terus berkembang. Sejumlah tulisan yang sebelumnya dimuat di surat kabar kemudian menjadi bahan proposal penelitian, disertasi, hingga buku berjudul Agama dan Negara: Bingkai Lokalitas Praktik Demokrasi.
Karya tersebut mengantarkannya meraih gelar Doktor (S3) di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Program Studi Religious Studies, pada 2016.
“Proposal penelitian saya berasal dari tulisan-tulisan yang sebelumnya dimuat di surat kabar. Dari tulisan yang berserakan itu kemudian menjadi disertasi dan saya kompilasi menjadi buku,” ungkap Iyan.
Kecintaan terhadap literasi tak berhenti di sana. Ia kembali menerbitkan buku Optimalisasi Gerakan Maghrib Mengaji di Kabupaten Lebak. Buku tersebut lahir dari pengalaman dan refleksinya selama mengikuti pendidikan kepemimpinan.
Bagi Iyan, menulis bukan hanya soal menghasilkan buku. Lebih dari itu, menulis adalah cara mengabadikan pengalaman agar bisa menjadi pengetahuan dan inspirasi bagi orang lain.
Di tengah kesibukannya sebagai birokrat, Iyan juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan pendidikan. Ia kerap mewakili Pemerintah Kabupaten Lebak dalam kegiatan kemasyarakatan, pembinaan kepemudaan, hingga program keagamaan seperti Gerakan Maghrib Mengaji dan Santri Rakyat.
Kepercayaan terhadap dirinya semakin besar ketika pada 2025 ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua PGRI Kabupaten Lebak periode 2025–2030. Para calon yang sempat muncul dalam proses pemilihan akhirnya sepakat memberikan amanah kepemimpinan kepada Iyan.
Di bawah kepemimpinannya, PGRI Lebak berupaya memperkuat sinergi organisasi guru dengan kebijakan pemerintah. Salah satunya melalui dukungan terhadap keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Iyan, dunia pendidikan harus mampu beradaptasi dengan berbagai kebijakan strategis negara, sepanjang kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan peserta didik.
“Kami mendukung penuh berbagai langkah perbaikan tata kelola agar program ini semakin berkualitas dan benar-benar memberi manfaat bagi anak-anak Indonesia,” katanya.
Bagi Iyan, kepemimpinan bukanlah panggung untuk sekadar berdiri paling depan. Kepemimpinan, kata dia, adalah ruang untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas.
Ia meyakini guru merupakan salah satu pilar penting dalam menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045. Sementara birokrasi harus menjadi instrumen untuk memastikan kebijakan pemerintah benar-benar dirasakan masyarakat.
Di tengah berbagai amanah yang diembannya, Iyan tetap membawa identitas yang sama: santri yang mencintai ilmu, penulis yang percaya pada kekuatan kata, dan birokrat yang memilih mengabdi di tanah kelahirannya.
Perjalanan hidup Dr. Iyan Fitriyana menunjukkan bahwa langkah besar kerap bermula dari sesuatu yang sederhana. Dari majalah dinding sekolah, buku doa sederhana, hingga tulisan-tulisan yang awalnya mungkin dianggap biasa.
Dari lembar-lembar itulah kemudian lahir seorang doktor, pemimpin organisasi guru, sekaligus birokrat yang terus berupaya menjaga denyut pendidikan, literasi, dan kebudayaan di Kabupaten Lebak. (*)




