Kobarnews.id, LEBAK – Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak mencatat sebanyak 3.856 kasus tuberkulosis (TBC) telah ditemukan hingga 4 September 2026. Jumlah tersebut mencapai 64 persen dari estimasi kasus TBC di Kabupaten Lebak yang diperkirakan mencapai 5.999 kasus.
Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Rochmat Pujiraharjo, mengatakan pihaknya juga telah menemukan dan memeriksa 20.908 orang yang terduga TBC.
“Untuk kasus tuberkulosis di Kabupaten Lebak itu diperkirakan 5.999. Sampai dengan 4 September 2026, jumlah kasus TBC ditemukan sebanyak 3.856 atau 64 persen dari estimasi kasus TBC,” kata Rochmat kepada wartawan, Rabu (9/9/2026).
Menurutnya, seseorang yang terduga TBC umumnya memiliki gejala khas berupa batuk berdahak selama dua minggu atau lebih. Gejala tersebut dapat disertai keringat pada malam hari tanpa aktivitas, penurunan berat badan, hingga berkurangnya nafsu makan.
Dari total kasus TBC yang ditemukan, sebanyak 663 kasus merupakan TBC pada anak. Sementara itu, 37 kasus lainnya merupakan TBC resisten obat (TBC RO).
Rochmat menjelaskan TBC terbagi menjadi dua, yakni TBC sensitif obat dan TBC resisten obat. TBC RO merupakan kondisi ketika kuman TBC telah kebal terhadap obat antituberkulosis yang seharusnya digunakan untuk mengobati penyakit tersebut.
Salah satu penyebab TBC RO adalah pengobatan yang tidak tuntas atau tidak teratur. Pasien yang seharusnya menjalani pengobatan selama enam bulan terkadang menghentikan konsumsi obat setelah merasa gejalanya menghilang.
“Anggapan mereka, ketika gejalanya sudah hilang berarti sudah sembuh dan obat dihentikan. Padahal tidak seperti itu. Pengobatan harus tuntas selama enam bulan,” ujarnya.
Dia mengatakan pengobatan yang tidak tuntas dapat menyebabkan kuman TBC menjadi kebal terhadap obat. Kondisi tersebut juga dapat terjadi apabila pasien tidak mendapatkan pengobatan yang adekuat.
Untuk memutus rantai penularan TBC, Rochmat menekankan pentingnya pengobatan dilakukan sedini mungkin setelah seseorang terkonfirmasi positif TBC.
Selain itu, orang yang tinggal serumah dengan penderita TBC juga akan menjalani pemeriksaan. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan tidak menderita TBC, mereka dapat diberikan obat pencegahan tuberkulosis (TPT), baik anak-anak maupun orang dewasa.
Dinkes Lebak juga melakukan penemuan kasus secara aktif di tengah masyarakat. Salah satunya melalui investigasi kontak dengan mengunjungi rumah penderita TBC untuk memeriksa anggota keluarga yang tinggal serumah.
Pemeriksaan juga dilakukan terhadap kontak erat lainnya, seperti tetangga, teman kantor, maupun teman sekolah penderita.
“Kegiatan lainnya adalah tracing TBC yang terintegrasi dengan CKG (Cek Kesehatan Gratis). Kegiatan ini dilakukan untuk menemukan TBC sedini mungkin pada populasi berisiko yang belum dilakukan investigasi kontak,” jelasnya.
Dalam kegiatan CKG, masyarakat tidak hanya diperiksa terkait penyakit menular, tetapi juga penyakit tidak menular. Menurut Rochmat, kegiatan tersebut diharapkan sekaligus dapat mengurangi stigma masyarakat terhadap penyakit TBC.
“Peserta yang hadir akan dicek kondisi kesehatannya, baik itu penyakit menular maupun penyakit tidak menular. Dengan kegiatan CKG ini juga kita menurunkan stigma di masyarakat tentang penyakit TBC itu sendiri,” katanya.
Imbauan Warga Saat Erupsi Anak Krakatau
Di tengah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, Dinkes Lebak juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik.
“Kami mengimbau agar masyarakat menggunakan masker saat keluar rumah sehingga debu-debu ini bisa tersaring di masker, terutama untuk kegiatan di luar rumah,” kata Rochmat.
Dia berharap aktivitas erupsi tidak berlangsung berkepanjangan. Masyarakat juga diminta tetap memperhatikan kondisi lingkungan dan menjaga kesehatan, khususnya ketika beraktivitas di luar rumah.
“Mudah-mudahan dengan erupsi ini tidak berkelanjutan dan kalau kita melihat dari kondisi cuaca yang sekarang sudah membaik dibandingkan beberapa hari ke belakang,” pungkasnya. (Red/Hikmat)




