kobarnews.id
Rabu, 16 September 2026
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Lifestyle
  • Hukum
  • Budaya
  • Ekbis
  • Barjas
  • Infrastruktur
  • Inspirasi
  • Kesehatan
  • Kobar Mania
  • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Politik
  • Sosial
  • Tekno
  • Viral
  • Pandeglang
  • Banten
  • Rangkasbitung
  • Kabupaten Lebak
  • Kabupaten Pandeglang
  • Pemkab Lebak
  • Video viral
  • Gempa NTT
kobarnews.idkobarnews.id
Font ResizerAa
  • News
  • Viral
  • Hukum
  • Pemerintahan
  • Barjas
  • Budaya
  • Daerah
  • Ekbis
  • Infrastruktur
  • Inspirasi
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kobar Mania
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Politik
  • Sosial
  • Tekno
Search
  • Kanal
    • News
    • Daerah
    • Viral
    • Hukum
    • Ekbis
    • Nasional
    • Kesehatan
    • Internasional
    • Barjas
    • Inspirasi
    • Budaya
    • Kobar Mania
    • Lifestyle
    • Politik
    • Infrastruktur
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Sosial
    • Pemerintahan
    • Tekno
Punya akun? Masuk
Follow US
© 2026 Kobarnews.id. Designed with ❤︎⁠ by dezainin.com
DaerahInspirasiKobar ManiaViral

Kemerdekaan yang Belum Selesai: Merawat Budaya, Menghadirkan Keadilan bagi Rakyat Kecil

Oleh:
Redaksi
Oleh:Redaksi
Editor
Follow:
- Editor
18 Agustus 2026
Bagikan
8 menit baca
Bagikan

Oleh: Aris Munandar, S.Kom.
Peneliti dan Riset Pengembangan di Kobarnews.id

Setiap Agustus tiba, Merah Putih kembali memenuhi ruang-ruang kehidupan kita. Ada kebanggaan, haru, dan rasa syukur ketika bangsa Indonesia mengenang perjuangan para pahlawan yang mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan.

Namun, di balik kemeriahan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia, masih tersimpan pekerjaan rumah yang belum selesai.

Di tengah pembangunan yang terus bergerak, masih ada rakyat kecil yang berjuang mendapatkan pekerjaan, memenuhi kebutuhan hidup, memperoleh pendidikan layak, hingga mengakses kesempatan ekonomi yang adil.

- Advertisement -
Ad image

Karena itu, memaknai kemerdekaan tidak cukup berhenti pada upacara, pengibaran bendera, atau seremoni. Kemerdekaan harus diterjemahkan dalam kehidupan yang bermartabat.

Baca Juga:

KPK Bongkar Dugaan Korupsi di ATR/BPN, Uang Rp106,3 Miliar Diamankan
Pengajian Triwulan IPARI Lebak Perkuat Kompetensi dan Soliditas Penyuluh Agama
Kabut Tebal Hambat Pencarian 5 Jurnalis dan 3 ABK Hilang di Selat Sunda
Basarnas Pastikan Video Drone Speedboat Arupadhatu I di GAK Sudah Dicek, Hasilnya Nihil

Merah Putih memang telah berkibar di langit negeri. Namun, tugas kemerdekaan belum selesai selama masih ada rakyat yang merasa belum benar-benar merdeka di tanahnya sendiri.

Damar Seketeng, Cahaya Budaya Banten yang Mulai Redup

Banten memiliki kekayaan budaya yang tidak hanya bernilai historis, tetapi juga menyimpan filosofi sosial yang mendalam. Salah satunya adalah tradisi Damar Seketeng.

Baca Juga:

Amir Hamzah Lantik Pengurus Pramuka Kalanganyar, Dorong Cetak Generasi Berkarakter
Rembug Pendidikan Lebak Digelar, Amir Hamzah Dorong Kolaborasi Lintas Sektor
Puntung Rokok Diduga Picu Kebakaran, Kebun Bambu 3 Hektare di Lebak Terbakar
Suahasil Kembali Jadi Menkeu, Bea Cukai Diminta Gencar Berantas Rokok Ilegal

Tradisi ini berupa penerangan dengan wadah sederhana, seperti botol atau lampu, yang menggunakan minyak tanah sebagai sumber cahaya.

- Advertisement -
Ad image

Dalam ingatan kebudayaan masyarakat Banten, khususnya Serang, Damar Seketeng dapat dimaknai sebagai simbol cahaya: cahaya kehidupan, kebersamaan, sekaligus peradaban yang diwariskan dari masa Kesultanan Banten.

Sayangnya, tradisi tersebut kini semakin jarang dijumpai dalam kehidupan masyarakat.

Di tengah kondisi itu, Kampung Kamalaka, Kelurahan Panggungjati, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, menjadi salah satu ruang masyarakat yang masih berupaya merawat tradisi tersebut.

- Advertisement -
Ad image

Upaya di tingkat kampung ini memiliki makna penting. Pelestarian budaya tidak selalu harus dimulai dari panggung besar. Ia dapat tumbuh dari kesadaran masyarakat untuk menjaga warisan leluhur.

Ketika sebuah tradisi padam, yang hilang bukan sekadar kebiasaan. Ada ingatan kolektif, identitas, dan cara masyarakat memahami dirinya sendiri yang ikut terancam hilang.

Baca Juga:

Basarnas Telusuri Video Udara yang Diduga Rekam Speedboat Arupadhatu 1 di Selat Sunda
Komisi II DPR Soroti Pengelolaan Aset Daerah, Sekda Lebak Ikuti Rapat Virtual
Istri Bupati Lebak Tinjau Pembangunan RTLH Warga Cijoro Lebak
AKBP Herfio Zaki Dipercaya Jadi Dirkrimum Polda Banten, Pegang Prinsip Berbuat Baik dan Bersedekah

Ancak dan Nilai Keadilan Sosial

Selain Damar Seketeng, budaya Ancak memperlihatkan wajah lain dari kearifan sosial masyarakat Banten.

Ancak merupakan sajian yang berisi beragam makanan kering dan buah-buahan yang disusun pada sebuah tempat atau panggung khusus, kemudian dibagikan kepada masyarakat.

Tradisi ini menarik jika dilihat dari perspektif keadilan sosial. Di dalamnya terdapat nilai berbagi, gotong royong, kebersamaan, kepedulian, serta kesediaan mendistribusikan apa yang dimiliki agar dapat dinikmati bersama.

Di sinilah kebudayaan tidak berhenti sebagai simbol masa lalu. Budaya dapat menjadi sumber nilai bagi kehidupan masa kini.

Semangat berbagi dalam Ancak sejalan dengan cita-cita keadilan sosial. Kehidupan bersama tidak seharusnya dibangun atas dasar siapa yang paling kuat mendapatkan paling banyak, sementara kelompok lemah hanya menjadi penonton.

Jika nilai-nilai budaya tersebut mampu diterjemahkan ke dalam kebijakan publik, kearifan lokal tidak hanya menjadi warisan yang dipajang, tetapi dapat menjadi energi sosial untuk membangun masyarakat yang lebih adil.

Ketika Kemerdekaan Belum Sepenuhnya Dirasakan Rakyat Kecil

Refleksi kemerdekaan akhirnya membawa kita pada pertanyaan mendasar: sejauh mana kemerdekaan telah dirasakan oleh rakyat kecil?

Kemiskinan, pengangguran, ketimpangan kesempatan ekonomi, akses pendidikan, akses terhadap modal, serta pemerataan pembangunan masih menjadi pekerjaan besar.

Angka-angka pembangunan memang penting. Namun, di balik setiap angka terdapat manusia dengan keluarga, harapan, dan masa depan.

Rakyat kecil tidak membutuhkan belas kasihan. Mereka membutuhkan kesempatan yang adil untuk tumbuh.

Mereka membutuhkan pekerjaan yang layak, akses ekonomi, pendidikan berkualitas, perlindungan sosial, serta pembangunan yang tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok atau wilayah tertentu.

Karena itu, keberhasilan kemerdekaan tidak semata-mata diukur dari pertumbuhan ekonomi atau megahnya pembangunan fisik. Ukuran yang lebih mendasar adalah apakah pembangunan mampu meningkatkan martabat dan kualitas hidup masyarakat yang berada di lapisan paling bawah.

Negara Harus Hadir

Negara memiliki mandat konstitusional untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial. Karena itu, kehadiran negara harus dirasakan dalam kehidupan nyata masyarakat.

Kehadiran tersebut dapat diwujudkan melalui penciptaan lapangan kerja, pemberdayaan ekonomi rakyat, pemerataan pendidikan, perlindungan kelompok rentan, penguatan desa dan komunitas, serta distribusi pembangunan yang berkeadilan.

Kritik terhadap belum sempurnanya pemerataan bukan berarti sikap anti-negara. Sebaliknya, kritik yang sehat merupakan bagian dari kecintaan terhadap negeri.

Negara perlu terus didorong agar semakin hadir, bukan hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai penguat kapasitas rakyat.

Rakyat kecil harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan. Mereka bukan sekadar penerima program, melainkan pelaku ekonomi, pemilik pengetahuan lokal, penjaga budaya, dan bagian penting dari masa depan bangsa.

Merawat Budaya, Merawat Martabat

Damar Seketeng mengajarkan tentang cahaya. Ancak mengajarkan tentang berbagi.

Keduanya menunjukkan bahwa masyarakat Banten memiliki warisan nilai yang masih relevan dengan tantangan Indonesia hari ini.

Merawat budaya berarti merawat jati diri. Namun, merawat budaya juga berarti menghidupkan kembali nilai yang terkandung di dalamnya: gotong royong, kepedulian, kebersamaan, kesederhanaan, dan keadilan.

Karena itu, pelestarian budaya seharusnya berjalan beriringan dengan pembangunan sosial dan ekonomi.

Kampung-kampung yang menjaga tradisi perlu mendapatkan ruang, dokumentasi, pendidikan budaya, penguatan ekonomi kreatif, serta dukungan agar tradisi tidak sekadar bertahan sebagai kenangan.

Lebih dari itu, tradisi dapat dikembangkan menjadi sumber kebanggaan sekaligus kesejahteraan masyarakat.

Kemerdekaan yang Belum Selesai

Lebih dari delapan dekade Indonesia merdeka. Tugas generasi hari ini memang bukan lagi mengangkat senjata melawan penjajah.

Perjuangan itu hadir dalam bentuk lain: melawan kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, keterbelakangan, serta pudarnya identitas budaya.

Yudi Latif dalam buku Negara Paripurna (2011) menjelaskan bahwa kemerdekaan semestinya dimaknai sebagai “bebas untuk”, bukan sekadar “bebas dari”.

Kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan, tetapi juga kebebasan untuk mengembangkan diri, menciptakan nilai tambah, mencapai kemajuan, dan meraih kebahagiaan hidup.

Dalam gagasan tersebut, manusia harus ditempatkan sebagai subjek yang berdaulat, bukan objek manipulasi, eksploitasi, atau eksklusi.

Demokrasi politik juga tidak akan berjalan secara utuh tanpa demokratisasi di bidang ekonomi. Pada akhirnya, demokrasi harus bermuara pada keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam pandangan penulis, merawat budaya dan menghadirkan keadilan sosial berada dalam satu napas perjuangan.

Bangsa yang kehilangan akar budayanya akan kehilangan jati diri. Sementara itu, bangsa yang membiarkan rakyat kecil tertinggal akan kehilangan makna dari pembangunan itu sendiri.

Pada momentum HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, sudah semestinya Merah Putih tidak hanya menjadi simbol kebanggaan, tetapi juga janji untuk terus menghadirkan keadilan.

Biarkan cahaya Damar Seketeng tetap menyala sebagai pengingat bahwa peradaban harus dijaga. Biarkan nilai berbagi dalam Ancak terus hidup sebagai pengingat bahwa kemerdekaan harus dirasakan bersama.

Indonesia telah merdeka secara politik. Namun, perjuangan menghadirkan kemerdekaan yang substantif—kemerdekaan yang memberikan kesempatan, kesejahteraan, martabat, dan keadilan—adalah pekerjaan kita bersama.

Merah Putih telah berkibar di langit negeri. Tetapi tugas kemerdekaan belum selesai selama masih ada rakyat yang merasa belum merdeka di tanahnya sendiri. (*)

Bagikan berita ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link
Sebelumnya Kadiskominfo Serang Apresiasi Kehadiran Kobarnews.id, Diharapkan Tambah Literasi Digital
Selanjutnya Pemkot Serang Optimalkan PAD, Penagihan PBB Jadi Indikator Kinerja Lurah dan Camat
- Advertisement -
Ad image
TERKINI

Lima Pejabat Polda Banten Berganti, AKBP Sonny Harsono Resmi Jabat Kapolres Pandeglang

Pisah Sambut PJU Polda Banten Hengki: Mutasi Boleh, Silaturahmi Jangan Putus

Tim SAR Kejar 8 Orang Hilang Sampai Samudera Hindia

Peserta Pra-UKW PWI Serang Didorong Tampil Kompeten

Lima Pejabat Polda Banten Berganti, Kapolda Minta Pejabat Baru Segera Adaptasi

- Advertisement -
Ad image
- Advertisement -
Ad image
Berita Terkait
Daerah News

Banggar DPRD Pandeglang Tuntaskan Perubahan APBD 2026

Daerah Hukum

MPC PP Lebak Desak Setop Pemasangan Tiang WiFi Tak Berizin

Daerah News

Demokrat Pandeglang Sambangi Keluarga Kru Arupadatu I

Daerah Ekbis

Gubernur Andra Soni Tinjau KEK ETKI Banten, Investasi Capai Rp1,9 Triliun

Daerah Hukum

Kabel WiFi Menjuntai Kembali Jerat Pengendara, Warga Minta Pengusaha Bertanggung Jawab

  • Trending Topics:
  • Daerah
  • Viral
  • News
  • Pemerintahan
  • Inspirasi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Nasional
  • Budaya
  • Politik
  • Ekbis
kobarnews.id
Kobarnews.id mengangkat berbagai isu, mulai dari politik, pemerintahan, hukum, sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, budaya, hingga peristiwa dan perkembangan masyarakat di daerah.
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak & Iklan
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Syarat & Ketentuan

2016 © Kobarnews.id. Designed with ❤︎⁠ by dezainin.com