Kobarnews.id, SERANG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten mendukung gerakan Eco Waste yang digagas Group 1 Kopassus. Program tersebut dinilai menjadi langkah konkret untuk mengatasi persoalan sampah yang selama ini masih menumpuk di hilir.
Apresiasi itu disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Banten Wawan Gunawan saat mewakili Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah dalam Awarding Eco Waste di Bumi Perkemahan Taman Kopassus, Kota Serang, Sabtu (15/8/2026).
Wawan mengungkapkan, persoalan sampah di Banten sudah berada pada level yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2025, timbulan sampah di Banten mencapai 8.126 ton per hari.
Ironisnya, dari jumlah tersebut, baru 13,4 persen atau sekitar 1.092 ton yang berhasil dikelola dengan baik.
Sementara 46,4 persen atau sekitar 3.771 ton masih ditimbun di tempat pemrosesan akhir (TPA) dengan metode open dumping. Sedangkan 40,2 persen atau sekitar 3.263 ton justru terbuang ke lingkungan melalui pembakaran terbuka dan pembuangan ilegal.
“Angka ini bukan sekadar statistik. Bayangkan, setiap hari ada lebih dari delapan ribu ton sampah yang harus kita kelola, angkut, pilah, olah, dan pastikan tidak mencemari lingkungan,” kata Wawan.
Menurut dia, persoalan sampah tidak akan pernah tuntas jika pola pengelolaannya masih mengandalkan cara lama: dikumpulkan, diangkut, lalu dibuang.
Pola tersebut, kata Wawan, hanya akan membuat beban TPA semakin berat, biaya pengangkutan membengkak, sekaligus membutuhkan lahan yang semakin luas.
“Angka 8.126 ton per hari harus menjadi alarm bagi kita semua. Ini persoalan bersama. Setiap hari kita memproduksi sampah, maka setiap hari pula kita harus bertanggung jawab terhadap sampah yang kita hasilkan,” tegasnya.
Karena itu, Wawan menilai penanganan sampah harus dimulai dari sumbernya, bukan hanya mengandalkan penyelesaian di hilir. Rumah tangga, lingkungan, desa, kelurahan, pasar, hingga berbagai sumber sampah lainnya harus menjadi bagian dari sistem pengelolaan.
Pemprov Banten pun mendorong setiap desa dan kelurahan membangun sistem pengelolaan sampah yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah masing-masing.
“Eco Waste diharapkan menjadi gerakan bersama untuk mengubah perilaku, mengedukasi masyarakat, membangun ekonomi sirkular, memperkuat kolaborasi, dan memastikan generasi mendatang menerima lingkungan yang lebih baik,” ujarnya.
Libatkan 11 Desa Binaan
Di lokasi yang sama, Ketua Pelaksana Eco Waste Ariani Damayanti mengatakan, program Desa Berkelanjutan di Provinsi Banten melibatkan desa-desa dari berbagai daerah.
Khusus 11 desa binaan di bawah naungan Group 1 Kopassus, perlombaan dilakukan secara langsung. Sedangkan desa-desa di luar wilayah binaan mengikuti perlombaan dengan mengunggah video melalui akun media sosial Aliansi Satu Aksi.
Tak hanya perlombaan, pihaknya juga menggelar workshop di Taman Group 1 Kopassus. Kegiatan tersebut memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai berbagai metode pengolahan sampah.
Di antaranya pembuatan komposter, biopori, rumah maggot, pekarangan ayam, hingga penggunaan rocket stove.
“Untuk 11 desa binaan di bawah naungan Group 1 Kopassus sudah membuat pengolahan sampah yang akan dimonitoring oleh setiap batalion,” kata Ariani.
Program tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pengelolaan sampah dari tingkat desa dan rumah tangga diharapkan menjadi kebiasaan baru yang mampu mengurangi sampah yang berakhir di TPA sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. (Red)




