Kobarnews.id, SERANG – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Nasir MD, memastikan sejumlah program strategis yang berpihak kepada petani tetap berjalan meski pemerintah daerah menghadapi keterbatasan anggaran.
Menurut Nasir, saat ini pihaknya masih menunggu kepastian terkait kondisi anggaran. Karena itu, sejumlah kegiatan telah diprioritaskan agar tidak mengganggu program yang dinilai penting bagi masyarakat.
“Beberapa kegiatan tetap kami jalankan, seperti pengembangan tanaman pangan. Misalnya demplot padi dan jagung yang sudah dilaksanakan seluas sekitar 50 hektare. Untuk pengembangan jagung, kami bekerja sama dengan Polda,” ujar Nasir kepada wartawan, Jum’at (7/8/2026) diruang kerjanya.
Selain tanaman pangan, Dinas Pertanian juga melanjutkan pengembangan sektor hortikultura, seperti budidaya pisang dan sayuran. Sementara itu, program budidaya domba dan ayam petelur saat ini masih dalam tahap penetapan lokasi dan verifikasi calon penerima di kabupaten/kota.
Nasir menjelaskan, penyaluran bantuan dilakukan melalui kelompok tani yang telah memiliki legalitas, terdaftar dalam Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian (Simluhtan), serta belum pernah menerima bantuan serupa. Seluruh kelompok akan melalui proses verifikasi sebelum ditetapkan sebagai penerima.
“Kami memastikan bantuan tepat sasaran. Kelompok baru yang belum memiliki legalitas atau belum terdaftar tidak bisa langsung menerima bantuan,” katanya.
Ia menambahkan, nilai bantuan juga mengikuti ketentuan yang berlaku. Untuk bantuan sosial kepada kelompok tani, nilai maksimal sebesar Rp35 juta per kelompok. Sementara bantuan ayam petelur dibatasi maksimal 100 ekor per kelompok.
Selain program yang bersumber dari APBD, Dinas Pertanian Banten juga menjalankan berbagai program strategis nasional, di antaranya bantuan benih, alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga pembangunan infrastruktur pertanian.
Saat ini, pemerintah juga tengah mempersiapkan program optimalisasi lahan (oplah), terutama di wilayah sentra pangan seperti Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Tangerang sesuai arahan pemerintah pusat.
Di sisi lain, Pemprov Banten mulai mendorong pengembangan komoditas tebu. Tahun ini Banten mendapat alokasi pengembangan hingga 3.000 hektare. Namun, realisasinya akan disesuaikan dengan kesiapan calon petani dan lahan.
“Yang penting petani memiliki lahan minimal 5 hektare. Nantinya disiapkan benih sekitar Rp60 ribu stek benih per hektare dan dukungan HOK untuk tanam tebu 3 juta per hektar. Ini menjadi modal awal untuk pengembangan tebu,” jelasnya.
Nasir mengatakan, saat ini sudah ada sekitar 335 hektare lahan di Pandeglang yang sudah di SK-kan Kementerian Pertanian, dan saat ini sudah dilakukan pengadaan.
“Untuk pembeli tebu sudah disiapkan kerjasama dengan PT. Sinergi Gula Nusantara. Saya tidak ingin meminta petani menanam tebu kalau hasil panennya tidak jelas akan dijual ke mana. Karena itu kami mempertemukan langsung petani dengan pihak off-taker agar mereka memiliki kepastian pasar dan semakin semangat menanam,” pungkas Nasir.
Kedepan berharap pabrik gula milik PT. Aman Agrindo yang ada di Tegal Papak Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pandeglang untuk segera beroperasi, sehingga hasil tebu petani bisa terserap dengan biaya angkut lebih terjangkau. (Red)




