Kobarnews.id, JAKARTA – Rampak Bedug khas Pandeglang, Banten, tampil di panggung nasional melalui IDP Fest 2026. Wayang Nganjor Indonesia membawakan kesenian tradisional tersebut di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Dalam penampilannya, Wayang Nganjor Indonesia berkolaborasi dengan IDP Orchestra. Rampak Bedug dikemas dalam aransemen musik kontemporer yang diorkestrasi oleh musikus sekaligus komposer Ekki Soekarno.
Pertunjukan tersebut juga melibatkan Yuyun Arfah. Vokal Yuyun memperkaya warna musikal dan memberikan sentuhan emosional dalam perpaduan Rampak Bedug dengan orkestrasi modern.
Penggagas Wayang Nganjor Indonesia, Tirta Nugraha Pratama, mengatakan keikutsertaan dalam IDP Fest 2026 menjadi kesempatan untuk memperkenalkan identitas budaya Pandeglang-Banten kepada khalayak yang lebih luas.
“Keikutsertaan Wayang Nganjor Indonesia dalam IDP Fest 2026 bukan sekadar kesempatan untuk tampil di panggung nasional. Ini bagian dari semangat nganjor: berkunjung, berjumpa, dan bernegosiasi secara kreatif dengan beragam bentuk serta bahasa artistik,” ujar Tirta kepada wartawan usai acara tersebut, Jum’at (4/9/2026) malam.
Menurut Tirta, Rampak Bedug tidak ditempatkan sekadar sebagai pelengkap pertunjukan. Kesenian tersebut menjadi identitas budaya Pandeglang-Banten yang dipertemukan dengan musik kontemporer.
“Rampak Bedug kami hadirkan bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai identitas Pandeglang-Banten yang memiliki kekuatan untuk berdialog dengan musik kontemporer,” katanya.
Dia menilai kolaborasi dengan IDP Orchestra membuktikan seni tradisi dapat berkembang dan masuk ke ruang pertunjukan modern tanpa kehilangan akar budayanya.
“Tradisi akan tetap hidup ketika diberikan ruang untuk berkembang. Pertemuan antara Rampak Bedug, orkestrasi Ekki Soekarno, serta kekuatan vokal Yuyun Arfah membentuk dialog artistik yang luar biasa,” tuturnya.

Selain pertunjukan, Wayang Nganjor Indonesia turut memberikan edukasi mengenai Rampak Bedug melalui sesi Impresi Perkusi Indonesia. Sesi ini menjadi ruang untuk memperkenalkan identitas, nilai, karakter, dan potensi pengembangan Rampak Bedug sebagai seni perkusi tradisional Banten.
“Kami tidak hanya hadir untuk mempertunjukkan Rampak Bedug, tetapi juga berbagi pengetahuan mengenai nilai budaya yang hidup di dalamnya. Bagi kami, panggung pertunjukan dan ruang edukasi merupakan dua hal yang saling melengkapi dalam upaya merawat dan mengembangkan kebudayaan,” kata Tirta.
Tirta berharap keterlibatan Wayang Nganjor Indonesia di IDP Fest 2026 dapat membuka ruang lebih luas bagi seniman daerah untuk mengembangkan kebudayaan melalui kreativitas dan kolaborasi.
“Kami berharap keterlibatan ini dapat membuka jalan yang lebih luas bagi para seniman daerah untuk menjadikan kebudayaan sebagai sumber penciptaan yang hidup, relevan, dan membanggakan,” ujarnya.
Penampilan tersebut menjadi momentum bagi Rampak Bedug Pandeglang untuk memperluas ruang apresiasi di tingkat nasional. Kesenian tradisional yang tumbuh di Banten itu kini dipertemukan dengan orkestrasi modern tanpa meninggalkan identitas budayanya. (Red/Rez)




