Oleh: Dian Wahyudi – Wartawan Kobarnews.id
LEBAK – Bagi Widy Ferdian, pembangunan Kabupaten Lebak bukan sekadar soal angka pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau besarnya anggaran. Di balik setiap kebijakan, ada kehidupan masyarakat yang harus diperkuat dan masa depan generasi muda yang perlu dipersiapkan.
Sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bapperida Kabupaten Lebak, Widy Ferdian, S.P., M.A., memandang sektor pertanian sebagai salah satu pintu utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Widy, pertanian bukan hanya tentang sawah dan hasil panen. Sektor ini berkaitan dengan kehidupan petani, peternak, nelayan, pelaku usaha kecil, hingga keluarga yang menggantungkan penghasilan dari sumber daya alam di sekitarnya.
“Setiap tahun sektor pertanian menjadi andalan utama karena menyumbang PDRB terbesar hingga mencapai 27,69 persen. Kami optimistis sektor pertanian itu dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Widy.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Lebak menempatkan pertanian sebagai salah satu prioritas pembangunan. Penguatan dilakukan tidak hanya pada tanaman pangan, tetapi juga perkebunan, peternakan, dan perikanan.
Pada 2026, sejumlah program diarahkan untuk memperkuat fondasi sektor tersebut. Di antaranya rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan jalan usaha tani, bantuan sarana produksi dan prasarana pertanian, distribusi pestisida, pembinaan kelompok tani, hingga peningkatan bimbingan teknis budidaya pangan.
Di sektor peternakan, kelompok peternak rakyat diarahkan mendapatkan bantuan benih domba yang diharapkan dapat membuka sumber pendapatan baru.
Sementara di bidang perikanan, kelompok pembudidaya ikan air tawar memperoleh bantuan benih lele, ikan mas, dan nila.
Bagi Widy, berbagai program tersebut harus bermuara pada satu tujuan, yakni memberikan kesempatan yang lebih besar kepada masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya.
Penguatan ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian juga menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Lebak menekan angka kemiskinan sekaligus mendukung penghapusan kemiskinan ekstrem.
Aglomerasi Harus Jadi Kerja Nyata
Widy menyadari tantangan pembangunan Lebak tidak bisa diselesaikan hanya melalui satu sektor maupun satu wilayah.
Pandangan itu pula yang ia sampaikan saat berbicara mengenai pembangunan kawasan aglomerasi.
Dalam Seminar Nasional Sustainable Aglo-City Summit 2026 bertema “Integrated Growth, Connecting Regions, Sustaining The Future”, Widy menegaskan aglomerasi tidak boleh berhenti sebagai konsep kelembagaan.
Menurutnya, gagasan menghubungkan sejumlah wilayah harus diterjemahkan menjadi program nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Aglomerasi tidak cukup hanya dibentuk secara kelembagaan, tetapi harus dilanjutkan dengan langkah nyata di sektor-sektor strategis, seperti pengelolaan sampah,” katanya.
Persoalan lingkungan, pertumbuhan kawasan perkotaan, hingga pelayanan publik merupakan tantangan yang, menurut Widy, membutuhkan kerja bersama.
“Kolaborasi antar daerah menjadi kunci, karena banyak persoalan yang tidak bisa diselesaikan sendiri oleh satu wilayah,” ucapnya.
Baginya, masa depan Lebak tidak hanya ditentukan oleh apa yang dibangun pemerintah hari ini, tetapi juga oleh kualitas manusia yang akan melanjutkan pembangunan tersebut.
Menanam Karakter di Sekolah
Perhatian Widy terhadap pembangunan tidak berhenti pada perencanaan. Ia juga menaruh perhatian pada generasi muda sebagai bagian penting dari masa depan Lebak.
Di hadapan sekitar 100 siswa Sekolah Rakyat, Widy berbicara mengenai kepemimpinan. Ia tidak memaknai kepemimpinan sekadar sebagai kemampuan menduduki jabatan, melainkan keberanian untuk bertanggung jawab dan memberikan manfaat bagi lingkungan.
“Kepemimpinan sejati lahir dari karakter. Integritas, pengetahuan, kemampuan berkomunikasi, dan sikap amanah adalah fondasi utama yang harus dimiliki oleh setiap calon pemimpin,” ujar Widy.
Ia mengingatkan para siswa bahwa seorang pemimpin tidak lahir secara instan. Karakter dibentuk melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
“Pemimpin besar tidak selalu dimulai dari langkah besar. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan konsisten dan penuh tanggung jawab,” katanya.
Dari sana, Widy memperkenalkan gagasan action leadership, yakni kepemimpinan yang tidak berhenti pada rencana dan wacana, tetapi diwujudkan melalui tindakan.
“Anak-anak muda hari ini harus berani bertindak. Bukan hanya pintar menyusun rencana, tetapi juga mampu mengeksekusi ide, memimpin perubahan, dan memberi teladan bagi lingkungannya,” tegasnya.
Lebak Hegar Dimulai dari Hal Sederhana
Ada pesan lain yang dititipkan Widy kepada para siswa, yakni pentingnya menjaga lingkungan.
Ia mengajak generasi muda menjadi pelopor “Lebak Hegar” dengan menciptakan lingkungan yang bersih, indah, dan sehat. Menurutnya, gerakan tersebut tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.
“Mulailah dari sekolah, dari rumah, dan dari diri sendiri. Jika generasi muda peduli pada lingkungan, maka Lebak Hegar bukan sekadar slogan, tetapi menjadi budaya,” ucapnya.
Pesan tersebut terlihat sederhana, tetapi memiliki makna penting. Sebab, pembangunan berkelanjutan pada akhirnya dimulai dari perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Widy berharap lulusan Sekolah Rakyat tidak hanya memiliki kecerdasan akademik, tetapi juga karakter, kemampuan beradaptasi, keberanian menyelesaikan masalah, dan daya saing.
“Sekolah Rakyat disiapkan untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara karakter dan kepemimpinan,” pungkasnya.
Bagi Widy Ferdian, pembangunan Lebak ibarat sebuah proses menanam.
Pemerintah menanam melalui kebijakan pertanian, pembangunan infrastruktur, dan penguatan ekonomi. Masyarakat menanam melalui kerja dan kemandirian. Sementara generasi muda menanam masa depan melalui pendidikan, karakter, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Semua bermuara pada cita-cita yang sama: menghadirkan Lebak yang RUHAY–Rukun, Unggul, Hegar, Aman, dan Yakin.
Bagi seorang perencana pembangunan seperti Widy, keberhasilan bukan hanya ketika program selesai dilaksanakan. Lebih dari itu, keberhasilan terlihat ketika manfaat program benar-benar tumbuh dan dirasakan dalam kehidupan masyarakat. (*)




