Kobarnews.id, LEBAK – Masyarakat Baduy bukan sekadar menyimpan kekayaan tradisi dan adat istiadat. Di balik kesederhanaan kehidupan mereka, tersimpan kearifan lokal dan nilai-nilai kehidupan yang tetap relevan di tengah derasnya perkembangan zaman.
Kekayaan tersebut menjadi bagian penting dari identitas budaya Kabupaten Lebak yang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda dan masyarakat luas.
Hal itu menjadi perhatian dalam kegiatan Belajar Budaya Baduy yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII Banten di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, pada 22–23 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak dan diikuti sekitar 40 peserta dari berbagai daerah di Provinsi Banten maupun luar Banten.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, Dr. Yosep Holis, mengatakan, mengenal Baduy tidak cukup hanya dengan melihat tradisi dan adat istiadatnya.
Menurutnya, ada banyak nilai kehidupan yang bisa dipelajari, mulai dari cara masyarakat Baduy menjaga hubungan dengan alam, mempertahankan adat, hingga mengelola kehidupan ekonomi berdasarkan potensi yang dimiliki.
“Baduy memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Bukan hanya sejarah dan adat istiadat, tetapi juga pola kehidupan, pertanian, kerajinan serta berbagai potensi ekonomi kreatif yang tumbuh dari kearifan lokal,” ujar Yosep, Minggu (23/8/2026).
Yosep menilai, kehidupan masyarakat Baduy merupakan salah satu kekayaan budaya yang memiliki daya tarik kuat bagi Kabupaten Lebak. Karena itu, pengenalan budaya Baduy harus dilakukan secara bijak dengan tetap menghormati aturan, adat, dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat setempat.
Ia menyebut, kegiatan belajar budaya seperti ini penting untuk membangun pemahaman yang lebih utuh. Peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang sejarah dan adat istiadat Baduy, tetapi juga bisa melihat langsung kehidupan masyarakat, aktivitas pertanian, hingga potensi ekonomi kreatif yang berkembang dari lingkungan dan kearifan lokal.
Di sisi lain, ekonomi kreatif berbasis budaya dinilai memiliki peluang untuk ikut menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar. Namun, pengembangannya harus dilakukan tanpa menghilangkan karakter dan nilai-nilai adat yang menjadi jati diri masyarakat Baduy.
“Yang paling penting adalah bagaimana budaya tetap menjadi jati diri. Ekonomi kreatif dapat berkembang, tetapi harus tetap menghormati kearifan lokal dan ketentuan adat masyarakat Baduy,” katanya.
Kegiatan tersebut juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara peserta dan masyarakat Baduy. Pengalaman langsung di lapangan diharapkan membuka perspektif bahwa pelestarian budaya bukan hanya soal menjaga benda atau tradisi, tetapi juga memahami manusia, lingkungan, serta nilai kehidupan yang melatarbelakanginya.
Yosep berharap kegiatan serupa dapat digelar secara berkelanjutan. Semakin banyak masyarakat mengenal budaya Baduy secara benar, semakin besar pula kesadaran bersama untuk menjaga warisan budaya sekaligus mendorong pengembangan pariwisata yang bertanggung jawab di Kabupaten Lebak.
“Budaya Baduy adalah bagian dari kekayaan Lebak dan Banten. Tugas kita bukan hanya memperkenalkannya, tetapi juga memastikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap dihormati dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” pungkasnya. (Dian)




