Kobarnews.id, LEBAK – Ketua Leekraf Lebak Andhy Yuliandi meminta pelaku UMKM lokal memanfaatkan Roadshow Kuliner Viral Indonesia 2026 sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produk.
Roadshow Kuliner Viral Indonesia 2026 digelar di Kabupaten Lebak selama dua pekan, mulai 31 Agustus hingga 13 September 2026. Sebanyak tujuh stand UMKM yang tergabung dalam Leekraf Lebak turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Andhy mengapresiasi konsep roadshow yang dinilainya mampu menggerakkan aktivitas ekonomi tanpa bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Ini keren. Konsepnya bagus. Mereka bisnis murni, tidak mengandalkan APBD,” kata Andhy kepada wartawan, Jumat (4/9/2026).
Menurut Andhy, keikutsertaan UMKM Lebak juga memberikan hasil positif. Sejumlah produk lokal disebut memiliki penjualan yang baik, bahkan beberapa di antaranya habis terjual.
“Penjualan UKM produk Lebak bagus. Kemarin habis terus,” ujarnya.
Event tersebut menerapkan sistem bagi hasil dengan komposisi 70 persen untuk pelaku usaha dan 30 persen untuk panitia. Bagi Andhy, pola tersebut memberikan pengalaman langsung kepada pelaku UMKM mengenai bagaimana sebuah kegiatan kuliner dapat berjalan secara bisnis.
“Ini pembelajaran dan pengalaman bagi EO dan UMKM Lebak. Ke depan harus bisa mencontoh,” katanya.
UMKM Lebak Perlu Tingkatkan Kualitas
Andhy menilai Lebak memiliki potensi kuliner yang besar, termasuk dukungan bahan baku lokal. Namun, potensi tersebut perlu dibarengi dengan kemampuan mengemas produk agar lebih kompetitif.
Dia mengakui pelaku usaha dari luar daerah yang mengikuti roadshow memiliki pengalaman lebih matang dalam membangun konsep bisnis.
“Kita mesti akui, mereka sudah berpengalaman. Konsepnya sudah tertata, baik tampilan, rasa dari produk maupun cara pemasarannya,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak perlu dianggap sebagai ancaman. Sebaliknya, UMKM Lebak dapat menjadikannya sebagai pembanding untuk meningkatkan kualitas.
“Justru ini bisa jadi perbandingan untuk kita,” tegas Andhy.
Dia mengatakan yang perlu ditiru bukan produk atau mereknya, melainkan cara mengembangkan bisnis secara profesional. Mulai dari tampilan gerai, kemasan, cita rasa, pelayanan hingga strategi pemasaran.
Dorong Plaza Lebak Jadi Sentra Kuliner
Pengalaman selama roadshow juga mendorong Andhy mengusulkan agar konsep serupa dikembangkan secara permanen di Plaza Lebak.
Dia menilai kawasan tersebut berpotensi menjadi destinasi kuliner sekaligus rest area bagi masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke Lebak.
“Harapannya konsep seperti ini bisa ditiru dan dipermanenkan di Plaza Lebak sebagai destinasi wisata dan rest area bagi pengunjung untuk menikmati kuliner khas Lebak,” katanya.
Andhy berharap kuliner khas Lebak menjadi produk utama jika konsep tersebut diwujudkan. Sementara itu, sejumlah merek yang sudah dikenal dapat dihadirkan sebagai daya tarik tambahan.
“Mayoritas kuliner khas Lebak, sebagian kecil merek internasional sebagai penarik,” ujarnya.
Dengan konsep tersebut, Plaza Lebak diharapkan tidak hanya menjadi tempat makan dan beristirahat, tetapi juga etalase kuliner khas daerah.
Modal Bukan Kendala Utama
Andhy menilai modal bukan persoalan utama bagi UMKM untuk bersaing. Menurutnya, biaya yang dibutuhkan untuk memulai usaha kuliner masih relatif terjangkau.
“Untuk modal sebetulnya tidak dibutuhkan besar. Masih terjangkau,” katanya.
Persoalan yang lebih penting, lanjut dia, adalah bagaimana pelaku UMKM meningkatkan kualitas produk dan pengelolaan usaha.
Desain kios, penyajian makanan, kemasan, cita rasa, pelayanan hingga strategi pemasaran perlu dikelola secara lebih profesional.
Menurut Andhy, pengalaman tujuh UMKM Lebak yang mengikuti roadshow harus menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas usaha setelah event berakhir.
“Ini bisa menjadi perbandingan bagi kita,” ujarnya.
Dia menegaskan UMKM Lebak sebenarnya memiliki potensi untuk bersaing. Yang diperlukan adalah kemauan meningkatkan standar agar produk lokal tidak hanya kuat di pasar daerah, tetapi juga mampu menarik konsumen dari luar.
“Jangan sampai masyarakat justru lebih mengenal produk dari luar ketika berkunjung ke daerah sendiri,” pungkasnya.
Andhy berharap pengalaman dari Roadshow Kuliner Viral Indonesia 2026 tidak berhenti pada penjualan selama dua pekan. Pelaku UMKM diminta membawa pulang pengalaman tersebut dan mengubahnya menjadi inovasi.
Jika Plaza Lebak nantinya dikembangkan menjadi sentra kuliner dan rest area, dia berharap UMKM lokal menjadi pemain utama dan kuliner khas Lebak menjadi wajah kawasan tersebut. (Dian)




