Kobarnews.id, PANDEGLANG – Musim kemarau mulai bikin warga di sejumlah kampung di Kabupaten Pandeglang kelimpungan. Tak punya sumur bor, warga terpaksa bertahan mengandalkan bantuan air bersih yang dikirim menggunakan mobil tangki.
Kondisi itu mendorong relawan asal Rangkasbitung, Asep Kusmayadi alias Asep Aldo, bersama sejumlah donatur dan rekan-rekannya turun tangan. Bantuan air bersih disalurkan secara bertahap ke kampung-kampung yang mengalami kesulitan air, terutama di Kecamatan Patia dan Sukaresmi.
Hingga Jumat (4/9/2026), sedikitnya 12 kampung telah menerima bantuan. Masing-masing kampung mendapat pasokan sekitar 6.000 liter air bersih yang diangkut menggunakan satu mobil tangki.
Asep mengatakan, aksi sosial tersebut bisa terus berjalan berkat dukungan sejumlah donatur yang peduli terhadap kondisi warga terdampak kekeringan.
Dukungan juga datang dari teman-temannya yang selama ini terhubung melalui Facebook, di antaranya Rio Momonon, Maria Roni, dan Sri Rohanah, warga Rangkasbitung yang kini menetap di Swiss.
“Alhamdulillah, bantuan dari teman-teman masih terus mengalir. Untuk sementara ini sudah 12 kampung yang kita bantu, terutama di wilayah Patia dan Sukaresmi,” ujar Asep kepada wartawan, Jumat (4/9/2026).
Menurutnya, distribusi air bersih akan terus dilakukan selama masih ada pihak yang bersedia memberikan dukungan.
Asep juga mengajak masyarakat, komunitas maupun pihak lain yang memiliki kepedulian untuk ikut membantu memenuhi kebutuhan air bersih warga.
“Insya Allah selama masih ada yang support, kegiatan ini masih berlanjut. Saya juga membuka kepada siapa saja yang mau ikut membantu, dipersilakan,” katanya.
Namun, Asep mengingatkan, bantuan air menggunakan mobil tangki hanya menjadi solusi sementara. Masalah kekeringan membutuhkan langkah permanen agar warga tidak terus bergantung pada bantuan setiap musim kemarau.
Salah satu solusi yang dinilai paling mendesak adalah pembangunan sumur bor di kampung-kampung yang belum memiliki sumber air bersih memadai.
“Ke depannya bukan hanya air bersih yang kita bantu. Ada beberapa kampung yang harus dibantu pengeboran air bersih. Mudah-mudahan segera ada donaturnya, supaya ke depan saat musim kemarau masyarakat tidak kekeringan lagi,” tutur Asep.
Ia menyebut, sejumlah warga dan donatur dari Jakarta serta Tangerang juga selama ini memiliki kepedulian terhadap penyediaan sarana air bersih, termasuk pembangunan sumur bor.
Persoalan di kampung-kampung yang saat ini mendapat distribusi air, kata Asep, cukup mendasar. Mereka belum memiliki sumur bor yang bisa menjadi sumber air alternatif ketika sumber air warga mulai mengering.
Karena itu, kedatangan mobil tangki menjadi sangat berarti. Setidaknya, warga bisa mendapatkan pasokan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah kondisi sumber air yang semakin terbatas.
Asep berharap kepedulian para donatur tidak berhenti pada bantuan air bersih sesaat. Pembangunan sumur bor dinilai jauh lebih bermanfaat untuk jangka panjang karena warga memiliki sumber air sendiri ketika kemarau kembali datang.
“Harapannya masyarakat tidak hanya dibantu ketika kekeringan. Kalau ada sumur bor, insya Allah mereka bisa punya sumber air sendiri dan tidak selalu menunggu bantuan,” ujarnya.
Gerakan sosial tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa penanganan dampak kekeringan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Kepedulian relawan, komunitas, masyarakat dan para donatur menjadi kekuatan tambahan untuk memastikan kebutuhan dasar warga, terutama air bersih, tetap terpenuhi.
Namun, di balik derasnya bantuan air tangki, terselip pesan yang lebih besar: warga tidak ingin selamanya menunggu mobil tangki datang. Mereka membutuhkan sumur bor agar bisa mandiri menghadapi musim kemarau. (Red/Dian)




