Kobarnews.id, LEBSK – Pemerintah Kabupaten Lebak, Banten, tak mau lagi puas hanya menghitung berapa banyak wisatawan yang datang. Jutaan kunjungan itu kini dibidik menjadi transaksi ekonomi yang bisa diukur dan memberi dampak langsung bagi masyarakat.
Kawasan wisata Sawarna, Kecamatan Bayah, diproyeksikan menjadi pilot project elektronifikasi transaksi pariwisata di Kabupaten Lebak. Sistem ini akan mengintegrasikan tiket digital, pembayaran parkir, transportasi, transaksi UMKM hingga tourism dashboard.
Gagasan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lebak, Dr Yosep Holis, dalam Focus Group Discussion (FGD) Elektronifikasi Transaksi dan Transportasi di Destinasi Wisata Provinsi Banten, yang digelar Bank Indonesia di Kayakascrip, kawasan Pulau Manuk, Kecamatan Bayah, Lebak, Selasa (8/9/2026).
Yosep menegaskan, digitalisasi pariwisata jangan berhenti pada urusan tiket. Lebih dari itu, pemerintah ingin membangun ekosistem digital yang bisa merekam perjalanan wisatawan, mencatat transaksi, memperkuat UMKM, sekaligus menyediakan data akurat untuk mengukur potensi ekonomi dan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Digitalisasi pariwisata bukan sekadar mengganti tiket kertas menjadi QR Code. Yang kita bangun adalah sistem yang membuat setiap kunjungan wisatawan tercatat, setiap transaksi lebih transparan, UMKM semakin bankable dan potensi PAD dapat diukur secara real time,” ujar Yosep.
Menurutnya, elektronifikasi juga harus bermuara pada peningkatan pelayanan. Wisatawan diharapkan mendapatkan layanan yang lebih mudah, cepat, aman dan nyaman.
Sementara bagi pelaku usaha, pembayaran digital seperti QRIS diharapkan memperluas akses terhadap layanan keuangan. Setiap transaksi tercatat sehingga aktivitas ekonomi di kawasan wisata lebih transparan dan mudah dipantau.
Bagi Pemkab Lebak, sistem ini sekaligus menjadi instrumen untuk mengoptimalkan PAD dan menggerakkan ekonomi lokal melalui UMKM, lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
1,1 Juta Kunjungan
Lebak sebenarnya sudah memiliki modal besar untuk mengembangkan konsep tersebut.
Data Disbudpar Lebak mencatat sepanjang 2025 terdapat 1.128.416 kunjungan wisatawan. Angka ini bahkan mencapai 100,8 persen dari target 1.119.894 wisatawan.
Sejumlah destinasi menjadi magnet utama. Seba Budaya Baduy tercatat menerima 139.125 kunjungan, Pantai Sawarna 107.346 kunjungan dan Prabu Wong Sagati 76.917 kunjungan.
Destinasi lain yang masuk daftar kunjungan terbesar yakni Bendungan Cikoncang, Kolam Renang Alisha, Eco Club Citra Maja, Pantai Binuangeun, Lereng Cibolang, Taman Wisata Ranggawulung dan Pantai Bagedur.
Bagi Yosep, 1,1 juta kunjungan bukan sekadar angka dalam laporan pemerintah.
“1,128 juta kunjungan itu sama dengan 1,128 juta peluang transaksi,” katanya.
Karena itu, pola pikir dalam mengelola pariwisata harus berubah. Pemerintah tidak cukup hanya mengetahui jumlah wisatawan. Data juga harus mampu menjawab siapa wisatawannya, kapan datang, apa yang dibeli, berapa nilai transaksinya, layanan apa yang digunakan dan berapa nilai ekonomi yang ditinggalkan.
“Persoalannya bukan kurang wisatawan. Bagaimana kita menangkap nilai ekonomi dari wisatawan tersebut secara optimal. Masalah terbesarnya ada di data,” tegas Yosep.
Sawarna Jadi Laboratorium
Dari berbagai destinasi yang dimiliki Lebak, Sawarna dinilai paling tepat menjadi pintu masuk transformasi tersebut.
Alasannya, Sawarna bukan hanya memiliki jumlah kunjungan tinggi, tetapi juga mempunyai ekosistem transaksi yang lengkap. Ada tiket, parkir, transportasi, homestay, restoran, UMKM dan berbagai aktivitas wisata.
Sepanjang 2025, Pantai Sawarna tercatat dikunjungi 107.346 wisatawan atau rata-rata sekitar 294 kunjungan per hari.
Yosep melihat angka tersebut sebagai potensi ekonomi yang besar. Namun, nilai ekonomi Sawarna tidak boleh hanya dihitung dari tiket masuk.
“Jangan melihat digitalisasi hanya dari tiket. Kita perlu membangun satu wisatawan sama dengan satu ekosistem transaksi,” ujarnya.
Sebagai gambaran, jika 10 persen dari 107.346 wisatawan atau sekitar 10.735 wisatawan masuk dalam sistem transaksi digital terintegrasi, dengan asumsi rata-rata transaksi Rp165 ribu per wisatawan untuk tiket, parkir, transportasi, makan, UMKM dan atraksi, maka nilai transaksi yang dapat terukur mencapai sekitar Rp1,77 miliar.
Yosep menegaskan, simulasi tersebut bukan berarti Rp1,77 miliar otomatis menjadi PAD. Angka itu merupakan gambaran potensi aktivitas ekonomi yang selama ini tersebar dan belum seluruhnya tercatat dalam satu sistem.
Karena itu, Sawarna akan didorong menjadi semacam laboratorium digital tourism Kabupaten Lebak.
Sistem yang disiapkan mencakup e-ticketing, e-parking, transportasi digital, QRIS untuk UMKM serta tourism dashboard yang mengintegrasikan data transaksi dan aktivitas wisata.
Jika berhasil, pola tersebut akan diperluas ke destinasi prioritas lainnya, seperti Pantai Bagedur, kawasan Baduy, Cikoncang, Citorek, Bayah Dome dan destinasi lainnya.
Target 12 Bulan
Disbudpar Lebak tak ingin proyek digitalisasi berhenti sebagai wacana. Sejumlah target disiapkan untuk 12 bulan pada 2027.
Targetnya antara lain 100 persen tiket pada destinasi pilot menggunakan e-ticketing, 80 persen transaksi menggunakan sistem non-tunai, seluruh tiket memiliki opsi QRIS, dan seluruh area parkir utama memiliki opsi pembayaran cashless.
Selain itu, sebanyak 500 UMKM wisata ditargetkan sudah menggunakan QRIS.
Pemkab Lebak juga menargetkan terbentuknya satu tourism dashboard, seluruh transaksi dapat direkonsiliasi dan database wisatawan mulai terbangun.
Transformasi tersebut menjadi penting karena persoalan pariwisata Lebak bukan hanya soal jumlah wisatawan.
Data 2025 menunjukkan tingkat penghunian kamar (TPK) hotel bintang pada Desember mencapai 52,61 persen. Sementara rata-rata lama menginap masih sekitar satu malam.
Artinya, masih ada pekerjaan besar: bagaimana membuat wisatawan tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak uang di Lebak.
Apalagi, empat destinasi unggulan pada 2024 disebut telah menyumbang lebih dari Rp500 juta ke kas daerah melalui retribusi kunjungan.
Karena itu, orientasi pariwisata Lebak diarahkan dari sekadar mengejar more visitor menjadi more value per visitor.
“Tantangan kita ke depan bukan hanya bagaimana mendatangkan lebih banyak wisatawan, tetapi bagaimana setiap kunjungan memberikan nilai ekonomi yang semakin besar kepada masyarakat dan daerah,” kata Yosep.
Ia menambahkan, elektronifikasi harus menjadi perubahan mendasar dalam tata kelola pariwisata. Dari transaksi tunai ke digital, pencatatan manual ke data real time, serta data yang tersebar ke dalam satu dashboard.
“Sawarna menjadi pintu masuk, digitalisasi menjadi infrastrukturnya, UMKM menjadi penggeraknya, data menjadi dasarnya, PAD dan kesejahteraan masyarakat menjadi hasil akhirnya,” pungkas Yosep.
Dengan langkah tersebut, Lebak ingin membuktikan bahwa destinasi wisata bukan sekadar tempat orang datang dan pergi. Setiap kunjungan harus mampu menjadi penggerak ekonomi, memperkuat UMKM dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. (Red/Dian)




