Kobarnews.id, LEBAK – Berawal dari hobi membatik, Sandi Pratama (25), pemuda asal Wanasalam, Kabupaten Lebak, Banten, berhasil mengembangkan usaha batik hingga menjadi industri kreatif. Melalui PT Wanabatik Lebak dan Wanabatik Pratama di Desa Sukatani, Sandi mengangkat sejarah dan budaya Lebak Selatan ke dalam beragam motif batik.
Usaha tersebut dirintis Sandi selepas lulus SMA pada 2020 dengan modal mandiri. Dalam beberapa tahun, bisnis yang awalnya berangkat dari kegemaran membatik itu berkembang dan mendapat perhatian dari berbagai kalangan, termasuk pemerintah daerah hingga tingkat nasional.
Sandi mengatakan membangun usaha bukan menjadi satu-satunya tujuan. Dia ingin batik yang diproduksinya memiliki identitas sekaligus memberikan nilai tambah bagi daerah.
“Saya memulai usaha ini dari hobi, kemudian saya melihat bahwa Lebak, khususnya Lebak Selatan, memiliki sejarah dan budaya yang luar biasa. Saya ingin cerita-cerita itu hidup kembali melalui motif batik, sehingga batik tidak hanya menjadi produk, tetapi juga media edukasi dan kebanggaan daerah,” kata Sandi saat diwawancarai.
Salah satu ciri khas Wanabatik Pratama terletak pada motif yang terinspirasi dari sejarah lokal dan kehidupan masyarakat Banten Selatan.
Salah satu motif yang dikenal adalah Seribu Bagang. Motif ini menggambarkan aktivitas masyarakat pesisir dan kehidupan para nelayan.
Ada pula motif Jejak Tapak Romusha yang mengangkat sejarah kerja paksa pada masa pendudukan Jepang di wilayah Banten Selatan.
Tak hanya itu, Sandi terus mengembangkan motif lain yang bersumber dari cerita rakyat, tradisi, serta kekayaan budaya lokal Lebak.
Menurut Sandi, setiap motif tidak dibuat sekadar untuk mengejar keindahan visual. Sebelum dituangkan menjadi desain, dia dan tim melakukan riset serta menggali cerita dari masyarakat setempat.
“Kami tidak ingin sekadar membuat motif yang indah, tetapi juga bermakna. Karena itu, setiap desain berangkat dari cerita, tradisi, atau peristiwa sejarah yang ada di Lebak. Harapannya, generasi muda mengenal kembali identitas daerahnya melalui batik,” ujarnya.
Selain mengembangkan produk, Wanabatik Pratama juga melibatkan masyarakat Desa Sukatani dalam proses produksi. Pemberdayaan warga menjadi salah satu bagian dari upaya Sandi agar keberadaan industri batik turut memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Perjuangan Sandi mengembangkan usaha sekaligus memberdayakan masyarakat mendapat apresiasi. Dia meraih Juara 1 Pemuda Pelopor Desa Tingkat Provinsi Banten dan kemudian mewakili Provinsi Banten dalam ajang tingkat nasional.
Sandi berharap industri batik di Kabupaten Lebak terus berkembang dan mampu menembus pasar nasional hingga internasional tanpa meninggalkan identitas budaya daerah.
“Batik Lebak harus memiliki ciri khas sendiri. Jika kita konsisten menjaga kualitas, memperkuat cerita di balik setiap motif, dan melibatkan masyarakat, saya yakin batik dari Banten Selatan bisa menjadi salah satu ikon unggulan daerah,” pungkasnya. (Red/Dian)




