Kobarnews.id, LEBAK – Hilirisasi sektor perberasan di Kabupaten Lebak, Banten, terus didorong untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian sekaligus menjaga stabilitas harga beras. Modernisasi mesin penggilingan padi menjadi salah satu kunci yang dinilai penting untuk mewujudkan langkah tersebut.
Hal itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Ekonomi Daerah Lebak yang digelar pada Selasa (21/7/2026).
Beras merupakan salah satu komoditas strategis yang berpengaruh terhadap inflasi dan kondisi perekonomian di Banten. Pada 2025, produksi Gabah Kering Giling (GKG) Banten diperkirakan mencapai sekitar 1,7 juta ton dengan potensi surplus sekitar 124 ribu ton.
Meski mengalami surplus produksi, harga beras di Banten masih relatif tinggi. Salah satu persoalannya, sebagian gabah hasil produksi daerah masih dijual ke luar Banten.
Gabah tersebut kemudian diolah dan dipasarkan kembali ke Banten dalam bentuk beras dengan harga yang lebih mahal.
Kondisi ini menunjukkan surplus produksi belum sepenuhnya memberikan nilai tambah bagi daerah maupun petani.
Lebak, Pandeglang, dan Serang merupakan sejumlah wilayah yang menjadi sentra produksi padi utama di Banten. Karena itu, pengembangan industri penggilingan padi di wilayah sentra produksi dinilai penting.
Dengan adanya pengolahan di daerah, gabah tidak hanya keluar sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi beras sebelum dipasarkan.
Mesin Penggilingan Perlu Dimodernisasi
Salah satu kendala yang diidentifikasi dalam FGD adalah masih terbatasnya kapasitas dan kualitas mesin penggilingan padi atau rice milling.
Sebagian mesin yang digunakan pelaku usaha sudah berusia tua sehingga membutuhkan modernisasi. Kondisi tersebut berdampak pada kapasitas produksi, efisiensi pengolahan, hingga kualitas beras yang dihasilkan.
Modernisasi mesin diharapkan meningkatkan kemampuan industri pengolahan padi lokal. Dengan begitu, penggilingan dapat menyerap lebih banyak gabah petani sekaligus menghasilkan beras dengan kualitas dan daya saing yang lebih baik.
Penguatan tersebut diharapkan dapat memperkuat rantai pasok perberasan, mulai dari produksi, penggilingan hingga pemasaran.
Gandeng Perbankan
Untuk mendukung modernisasi, pemerintah berupaya mempertemukan pelaku usaha dengan lembaga pembiayaan, mulai dari perbankan, BPR, lembaga pembiayaan hingga penyedia modal lainnya.
Langkah tersebut dinilai penting karena pembangunan ekonomi daerah tidak hanya dapat mengandalkan kemampuan APBD. Peran perbankan, investasi swasta, dan lembaga keuangan dibutuhkan untuk memperkuat pembiayaan sektor produktif.
Sebagai tindak lanjut FGD, direncanakan kunjungan ke Lebak Niaga untuk membahas kerja sama pembiayaan secara lebih konkret.
Pertemuan tersebut turut dihadiri perwakilan BRI sebagai calon mitra pembiayaan. Kolaborasi juga diharapkan melibatkan lembaga keuangan lainnya.
Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) ditargetkan dapat dilakukan pada akhir Agustus atau awal September 2026. Setelah PKS ditandatangani, pencairan pembiayaan ditargetkan sekitar satu minggu kemudian dengan tetap mengikuti ketentuan dan proses pembiayaan yang berlaku.
Skema pembiayaan akan disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan usaha, kelayakan pembiayaan, serta aspek jaminan. Hal itu dilakukan agar pembiayaan tetap aman bagi seluruh pihak dan tidak memberatkan penerima.
Dana pembiayaan nantinya dimanfaatkan untuk mendukung pengadaan mesin serta pengembangan usaha sesuai rencana yang telah disusun.
Monitoring dan evaluasi juga akan dilakukan secara berkala untuk memastikan program berjalan sesuai target dan memberikan manfaat optimal.
Diharapkan Beri Nilai Tambah ke Petani
Kolaborasi antara Lebak Niaga, BRI, Bank Banten, Bank BJB, bank Himbara lainnya, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan diharapkan dapat membangun ekosistem pembiayaan yang mendukung industri pengolahan padi di Kabupaten Lebak.
Jika ekosistem tersebut berjalan baik, surplus gabah Banten diharapkan tidak sekadar menjadi angka produksi. Gabah juga dapat diolah di daerah sehingga menghasilkan nilai tambah bagi ekonomi lokal.
Bagi Lebak sebagai salah satu sentra produksi padi, penguatan industri penggilingan berpotensi membuka pasar yang lebih besar bagi hasil panen petani.
Di sisi lain, pengolahan gabah di daerah dapat memperpendek rantai pasok sekaligus meningkatkan nilai ekonomi yang berputar di tingkat lokal.
Pada akhirnya, hilirisasi sektor perberasan diharapkan meningkatkan daya saing, memperkuat perekonomian daerah, serta memberikan nilai tambah bagi petani dan pelaku usaha.
Langkah tersebut juga diharapkan berkontribusi terhadap upaya menjaga ketersediaan dan stabilitas harga beras di Banten.
Seluruh pihak berharap kerja sama pembiayaan dapat berjalan sesuai jadwal dan menghasilkan program yang efektif, berkelanjutan, serta memberikan manfaat nyata bagi pengembangan ekonomi Kabupaten Lebak. (Red/Dian)




