Kobarnews.id, LEBAK – Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Lebak, Banten, membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak terus bergerak menangani krisis air bersih yang dialami masyarakat.
Sekretaris BPBD Kabupaten Lebak, Febi Rizki Pratama, mengatakan penanganan krisis air bersih menjadi salah satu fokus utama BPBD di tengah musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga akhir September.
“BPBD memang fokus pada penanganan krisis air bersih dan kekeringan. Dari data yang masuk mulai Juli sampai sekarang, kami sudah melayani hampir 17 kecamatan dan 51 desa,” ujar Febi kepada wartawan, Jum’at (4/9/2026).
Ia menyebutkan, hingga saat ini BPBD Kabupaten Lebak telah menyalurkan hampir 425 ribu liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak. Bantuan tersebut disebut telah menjangkau sekitar 50 ribu kepala keluarga.
Dalam menjalankan distribusi air bersih, BPBD Kabupaten Lebak mengerahkan dua unit armada tangki air. Namun, keterbatasan armada tersebut diatasi melalui kolaborasi dengan berbagai stakeholder.
“BPBD sendiri mempunyai dua unit armada tangki air. Tetapi kami juga bekerja sama dengan berbagai stakeholder, seperti TNI, Polri, Pemerintah Provinsi Banten, Damkar dan PDAM untuk menyalurkan air bersih di Kabupaten Lebak,” jelasnya.
Menurut Febi, sinergi tersebut penting agar kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak kekeringan dapat ditekan. Penanganan juga dibagi berdasarkan wilayah, sehingga distribusi bantuan dapat dilakukan secara lebih efektif.
Salah satunya, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) PUPR difokuskan menangani wilayah Lebak bagian selatan yang turut terdampak kekeringan.
“Kami bagi per wilayah penanganannya. Salah satu contohnya teman-teman di UPTD PUPR fokus di wilayah selatan,” katanya.
Febi mengatakan, berdasarkan perkiraan, kondisi kekeringan masih akan berlangsung hingga akhir September. Karena itu, seluruh stakeholder diminta tetap siaga dan siap memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan air bersih.

Selain krisis air bersih, BPBD juga mewaspadai ancaman kebakaran lahan yang meningkat selama musim kemarau. Beberapa kejadian kebakaran lahan telah terjadi di sejumlah titik, termasuk di kawasan TOS Dengung.
“Alhamdulillah, teman-teman di Damkar memiliki armada dan peralatan untuk pemadaman sehingga kejadian dapat segera ditangani,” ungkapnya.
Febi pun mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Ia meminta warga tidak sembarangan membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar.
“Harapan saya kepada masyarakat, di musim kering seperti sekarang, kegiatan membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar agar dikurangi. Efeknya banyak. Beberapa kejadian kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah Indonesia dimulai dari aksi membakar sampah maupun lahan kosong,” tegasnya.
Ia menekankan, kesadaran masyarakat menjadi kunci untuk mencegah meluasnya kebakaran lahan selama musim kemarau.
“Kesadaran masyarakat sangat penting agar kebakaran lahan bisa diminimalisir ataupun jangan sampai terjadi kebakaran,” pungkas Febi.(Red/Hikmat)




